Pembiasaan sebagai Basis Penanaman Nilai-Nilai Islam

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PENDIDIKAN agama Islam merupakan pilar utama dalam perkembangan kepribadian umat manusia yang menjadi dasar dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai, dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia, maka nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keharusan, yang ditempuh melalui pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, karena pendidikan agama Islam bertujuan menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, pembiasaan, pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT (Ali dan Nurhayati, 2006).

Di zaman globalisasi yang penuh dengan tantangan ini, nampaknya pendidikan semakin berat dengan adanya tuntutan masyarakat modern yang semakin kompleks. Dampaknya pendidikan harus mengikuti laju perkembangan zaman yang semakin kreatif dan dinamis, namun tetap mempertahankan nilai-nilai Islami. Penanaman nilai-nilai Islami melalui pendidikan sangat diperlukan pada masa kanak-kanak. Menurut Slameto (2003) , “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tungkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.” Dalam pembelajaran menggunakan media daring (dalam jaringan) peserta didik hanya belajar dari rumah, untuk menanamkan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam sangat beraneka ragam, disesuaikan dengan perkembangan anak. Adapaun pokok-pokok pendidikan agama Islam yang harus dipelajari peserta didik secara garis besarnya yaitu akidah, ibadah, dan akhlak.

Baca juga:   Mengetahui Rasul-Rasul Allah Melalui Quick on the Draw

Saya dalam mengajarkan pembiasaan penanaman nilai-nilai Islami pada peserta didik SD Negeri 1 Sukomulyo Kec. Kaliwungu Selatan Kabupaten Kendal dengan kondisi daring (dalam jaringan) misalnya peserta didik memperagakan gerakan wudu dengan benar. Di rumah peserta didik dapat belajar penuh tata cara gerakan wudu sehari 5 waktu hal ini dilakukan untuk menanamkan pendidikan ibadah dan hendaknya dikenalkan sedini mungkin dalam diri peserta didik agar tumbuh menjadi insan yang taat. Kemudian memberikan tugas anak untuk membaca doa makan, surat-surat pendek, dan hal lainnya yang berkaitan dengan materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar. Dengan kebiasaan tersebut, peserta didik diharapkan terbiasa dengan perilaku yang terpuji sebagai pedoman hidup untuk menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia. Di sini peran orang tua terutama sangat diperlukan karena pembelajaran daring (dalam jaringan) dapat terlaksana secara intens dengan hasil yang tak terpaut jauh dari pembelajaran tatap muka (di kelas). Selain itu, guru juga harus membawa budaya belajar di sekolah ke dalam rumah (ruang keluarga) peserta didik.

Baca juga:   Pemanfaatan Microsoft 365 dalam Pembelajaran PAI di Masa Pandemi

Dari kondisi ini, diharapkan akan dipahami bersama pentingnya pendidikan diawali dari keluarga sebagai tempat pertama dalam pembentukan karakter anak. Orang tua dan lingkungan adalah sekolah pertama yang dikenal oleh seorang anak. Dari sini pula diketahui pentingnya sinergi antara orang tua dan pihak sekolah. Karena itu, kiranya proses pendidikan orang tua (education parenting) perlu benar-benar dijadikan program kerja sama yang nyata antara sekolah dan orang tua. (lps2/zal)

Guru PAI SDN 1 Sukomulyo, Kabupaten Kendal

Populer

Lainnya