Tingkatkan Prestasi Belajar Sistem Rem dengan Metode ATI

spot_img

RADARSEMARANG.ID, MATA pelajaran produktif Teknik Sepeda Motor khususnya kompetensi sistem rem di sekolah menengah kejuruan (SMK) adalah mata pelajaran yang menitikberatkan pada penguasaan keterampilan (praktik). Hal ini menuntut penguasaan skill individu dari masing-masing siswa. Pembagian kompetensi dalam mata pelajaran produktif yang saling berurutan menunjukkan gambaran pencapaian prasyarat dari tiap-tiap kompetensi tersebut. Maka saat melakukan praktik, siswa akan mengalami kesulitan. Peran guru dituntut lebih kreatif dalam menerapkan model pembelajaran agar daya serap materi menjadi tinggi. Namun perbedaan karakteristik kemampuan siswa terkadang menjadi kendala dalam menuntaskan materi tesebut secara keseluruhan.

Bloom dan Gagne dalam Nurdin (2005), mengelompokkan kemampuan siswa dalam tiga kelompok, yaitu, kelompok siswa dengan kemampuan belajar cepat, sedang dan lambat. Ketiga kelompok tersebut juga terdapat di kelas XI TBSM 2 SMK Negeri Karangpucung. Hal ini dikuatkan dengan perolehan nilai ulangan harian pertama, pada mata pelajaran produktif kompetensi Sistem Kemudi, diperoleh rentang nilai yang terlalu jauh, yaitu nilai tertinggi 95 sedangkan nilai terendah 40. Rentang nilai tersebut cukup menggangu, karena mata pelajaran kelompok produktif menuntut siswa untuk benar-benar menuntaskan kompetensinya, sebelum menuju pada kompetensi berikutnya.

Baca juga:   Pembelajaran Materi Pendidikan Agama Islam saat Pandemi

Kenyataan perolehan nilai tersebut mendorong penulis untuk melakukan perubahan penerapan model pembelajaran yang dirasa cocok dengan karakteristik materi dan siswa. Menurut Syafrudin (2005), semakin cocok model pembelajaran yang diterapkan guru dalam kelas dengan perbedaan kemampuan siswa, maka semakin optimal prestasi belajar yang dicapai siswa. Model pembelajaran yang relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran dengan tingkat kemampuan siswa yang berbeda, adalah model Aptitude Treatment Interaction (ATI).

Model pembelajaran yang dapat dipilih oleh seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran pada kondisi karakteristik kemampuan siswa yang berbeda adalah dengan model ATI. Secara subtantif dan teoritik ATI dapat dijadikan sebagai suatu konsep atau pendekatan yang memiliki sejumlah strategi pembelajaran yang efektif digunakan untuk individu tertentu sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Langkah-langkah pembelajaran ATI yaitu, pertama, melaksanakan pengukuran kemampuan masing-masing siswa melalui tes kemampuan (aptitude testing). Hal ini dilakukan untuk mendapatkan data yang jelas tentang karakteristik kemampuan (aptitude) siswa. Kedua, membagi siswa atau mengelompokkan siswa menjadi tiga kelompok sesuai dengan klasifikasi yang didapatkan dari hasil aptitude testing. Pengelompokan siswa tersebut diberi label tinggi, sedang dan rendah. Ketiga, memberikan perlakuan (treatment) kepada masing-masing kelompok (tinggi, sedang dan rendah) dalam pembelajaran. Keempat, bagi kelompok siswa yang memiliki kemampuan (aptitude) tinggi, perlakuan yang diberikan yaitu belajar mandiri (self learning) dengan menggunakan modul atau buku-buku yang relevan. Pemilihan belajar mandiri melalui modul didasari anggapan bahwa siswa akan lebih baik jika dilakukan dengan cara sendiri yang terfokus langsung pada penguasaan tujuan khusus atau seluruh tujuan. Dengan kata lain, dengan menggunakan modul siswa dapat mengontrol kecepatan masing-masing, serta maju sesuai dengan kemampuannya. Kelima, bagi kelompok siswa yang berkemampuan sedang dan rendah diberikan pembelajaran regular atau pembelajaran konvensional sebagaimana mestinya. Keenam, bagi kelompok siswa yang mempunyai kemampuan rendah diberikan special treatment, yaitu berupa pembelajaran dalam bentuk tambahan pelajaran (re-teaching) dan tutorial.

Baca juga:   Manfaat Kebugaran Jasmani sebagai Penunjang Prestasi Belajar Siswa

Pembelajaran menggunakan metode ATI yang penulis lakukan ternyata sangat tepat untuk diterapkan dalam pembelajaran dengan tingkat kemampuan siswa yang berbeda. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah siswa yang nilainya mencapai di atas KKM. (ips1/ida)

Guru Fisika dan Produktif TBSM SMKN Karangpucung Kabupaten Cilacap

Populer

Lainnya