Jigsaw Memudahkan Pembelajaran Menulis Puisi

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Sastra merupakan bagian dari mata pelajaran bahasa Indonesia yang memiliki fungsi utama sebagai penumbuh apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imajinasi, dan ekspresi secara kreatif, baik secara lisan maupun secara tulisan.

Melalui pembelajaran sastra, siswa diajak memahami, menikmati, dan menghayati karya sastra. Salah satu keterampilan bersastra yang diajarkan di sekolah yaitu keterampilan menulis puisi.
Keterampilan menulis puisi merupakan keterampilan yang produktif dan sangat penting yang harus dimiliki oleh siswa. Menulis puisi di sekolah bertujuan memperoleh kesadaran yang lebih terhadap dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar. Memperoleh kesenangan, pengetahuan, dan pengertian dasar tentang puisi.

Pembelajaran keterampilan menulis puisi, siswa dituntut memiliki daya imajinasi sehingga dapat menghasilkan tulisan yang menarik. Bagi siswa hal ini merupakan sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan. Ada beberapa kesulitan sering dialami oleh siswa. Seperti kesulitan dalam menuangkan ide dan mengembangkan ide yang mereka miliki.

Oleh sebab itu siswa harus selalu melatih kemampuan menulis puisi. Sehingga ide yang dimiliki dapat dituangkan dan dikembangkan secara kreatif. Dengan demikian, menulis puisi akan mendorong siswa untuk lebih aktif dan memiliki kemahiran dalam bersastra.
Berdasarkan Penilaian Harian (PH) untuk Kompetensi Dasar (KD) menulis puisi di kelas VIII SMP N 2 Warungasem masih rendah nilai rata-rata mencapai 65 di bawah KKM (70). Untuk itu guru perlu menemukan alternatif model pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran menulis puisi.

Baca juga:   Picture and Picture Tingkatkan Kemampuan Literasi Siswa dalam Memahami Materi Sejarah

Model pembelajaran jigsaw akan membantu siswa dalam menguasai pembelajaran menulis puisi secara maksimal. Model jigsaw merupakan model pembelajaran yang menarik jika materi yang dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian. Dari materi tersebut tidak harus urut penyampaiannya menurut Zaini,dkk (dalam Sufani, 2010:55).

Menurut Aronson (dalam Isjoni, 2008:155) teknik belajar jigsaw lebih menyangkut kerja sama dan saling ketergantungan antarsiswa. Model jigsaw, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 anggota. Setiap kelompok diberi informasi yang membahas salah satu topik dari materi mereka saat itu. Dari informasi yang diberikan pada setiap kelompok ini, masing-masing anggota harus mempelajari bagian-bagian yang berbeda dari informasi tersebut.

Misal, jika kelompok A(asal) diminta menulis puisi, maka lima anggota di dalamnya harus berlatih menulis puisi bertema beda. Misal sawah, pantai, hutan, laut, sungai. Setelah mempelajari informasi dalam kelompok masing-masing, setiap anggota yang mempelajari bagian ini berkumpul dengan anggota dari kelompok asal lain yang menerima bagian materi yang sama. Jika anggota 1 dalam kelompok A mendapatkan tugas mempelajari tema puisi sawah, maka ia harus berkumpul dengan siswa 2 dalam kelompok B dan siswa 3 dalam kelompok C (begitu seterusnya) yang juga dapat tugas menulis puisi bertema sama.

Baca juga:   Tantangan Pendidikan Islam di Era Pandemi Covid-19

Kelompok ahli inilah, masing-masing siswa saling berdiskusi dan mencari cara terbaik bagaimana menjelaskan informasi itu kepada temannya dalam kelompok asal.
Ternyata model pembelajaran jigsaw mampu memudahkan pembelajaran menulis puisi di kelas 8 SMP N 2 Warungasem. Hal ini terlihat dari peningkatan nilai rata-rata penilaian harian yang semula hanya 65 di bawah KKM menjadi 75. Serta memberikan perilaku positif dari semula siswa kurang antusias menjadi lebih antusias dalam menulis puisi setelah menggunakan pembelajaran jigsaw.

Jigsaw sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan guru dalam pembelajaran menulis puisi. Karena lebih efektif dan inovatif dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis puisi. (pkl2/lis)

Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 2 Warungasem, Kabupaten Batang

Populer

Lainnya