Implementasi Edupreneurship Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan

spot_img

RADARSEMARANG.ID, EDUPRENEURSHIP merupakan bagian dari enterpreneurship yang di bidang pendidikan. Entrepeneurship adalah usaha kreatif atau inovatif dengan melihat atau menciptakan peluang dan merealisasikan menjadi sesuatu yang memliki nilai tambah ( Ekonomi ,Sosial, dll).Entrepeneurship di bidang sosial disebut sosiopreneurship, di bidang edukasi disebut edupreneurship, di inter perusahaan disebut interpeneurship, dibidang bisnis teknologi disebut teknopreneurship (Ikhwan Alim ,2009).

Konsep edupreneurship ditekankan pada usaha kreatif atau inovatif yang dilakukan oleh sekolah untuk memperoleh prestasi sekolah dan menambah income. Lembaga pendidikan unggul diharapkan mampu memberdayakan peserta didik agar mereka memperoleh sukses dikemudian hari. Untuk memperoleh sukses tersebut, pendidikan diharapkan mampu membekali peserta didiknya supaya memiliki kepekaan sosial untuk menembus sector bisnis dan membawa perubahan. Sebagian lulusan dapat memperoleh prestasi akademik tinggi tetapi belum tentu mampu beradaptasi kreatif, inovatif, dan kompetitif dalam menghadapi dunia kerja. Dalam teaching factory, siswa SMK disiapkan untuk menjadi lulusan yang siap kerja, cerdas, kompetitif dan memiliki kemampuan dan pengetahuan sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Sistem manajemen edupreneurship diharapkan mampu menghasilkan calon orang-orang yang sukses serta memakmurkan lembaga pendidikan tanpa membebani orang tua dan pemerintah (Pengembangan edupreneurship di SMK 2014). Seperti di SMKN Karangpucung, Cilacap.

Baca juga:   Belajar Membuat Laporan Keuangan pada Dunia Usaha yang Nyata

Edupreneurship digerakkan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin dan manajer di sekolah. Kepala sekolah yang menjadi edupreneurs adalah seorang yang mampu mengatur dan mengelola sebuah lembaga sekolah dengan penuh inisiatif, senantiasa berinovasi dan berani menanggung resiko. Perilaku kepala 6 sekolah agar menjadi kepala sekolah edupreneur setidaknya ada 5 yaitu: bertindak sebagai agen perubahan; memimpin tanpa pamrih, membawa budaya baru yang diharapkan dengan penuh keyakinan; mendukung pengambilan risiko dan belajar terus menerus; bersedia berinvestasi dan memanfaatkan sumber daya yang ada bahkan ketika sumber daya langka-pun pemimpin juga mau berinvestasi (Oxford Project, 2012).

Adapun melalui business center siswa melakukan praktik bisnis dengan mengambil barang dari sekolah dan dijual kepada kemasyarakat. Siswa diberikan kebebasan dalam menganalisis pasar, menetapkan harga, cara menjual barang dan membuat laporan hasil penjualan (tri kuat,2017).

Pendidikan kewirausahaan ini bertujuan untuk melatih siswa-siswi SMK untuk memiliki jiwa wirausaha, sehingga nantinya dapat membuat lapangan pekerjaan sendiri setelah lulus (adi, 2011). Harapan yang tinggi pada pendidikan SMK menjadi pemikiran bersama untuk mewujudkan pendidikan yang mampu bersinergi dengan kebutuhan dunia industri maupun menyiapkan lulusanya dengan sikap enterpreneurship yang baik.

Baca juga:   Penerapan Model Pembelajaran Index Card Match Saat PTM Terbatas

Implementasi edupreneurship di sekolah menengah kejuruan dilaksanalan melalui teaching factory dan business center.(Mulyatiningsih E, 2014).Model Pembelajaran Teaching Factory dengan memanfaatkan sarana prasarana yang dimiliki Sekolah alam menciptakan suasana industri di sekolah untuk mencapai kompetensi satu atau beberapa mata pelajaran produktif. Siswa diberi pengalaman langsung suasana kerja seperti di industri meskipun di sekolah dengan dihadapkan pada pekerjaan nyata sesuai kompetensi yang harus dimiliki dari satu atau beberapa mata pelajaran produktif baik yang bersifat produk maupun jasa. Sehingga kompetensi yang dicapai sesuai dengan yang seharusnya dan tidak terjadi kesenjangan kemampuan/ kompetensi antara kebutuhan/tuntutan industri dengan kemampuan /kompetensi yang dikembangkan di sekolah.(Hidayat D, 2015). (gml1/zal)

Guru Kewirausahaan SMKN Karangpucung, Cilacap

Populer

Lainnya