Pembelajaran IPA dengan Eksperimen Mudah Diingat

spot_img

RADARSEMARANG.ID, MATA pelajaran sains atau lebih dikenal dengan IPA khususnya pada tingkat sekolah dasar, kebanyakan siswa menyukai pelajaran tersebut, menurut mereka IPA merupakan mata pelajaran yang menarik dan tidak membosankan.karena mata pelajaran IPA membahas tentang lingkungan alam atau kejadian-kejadian di alam. Meski mereka menyukai mata pelajaran ini, hasil belajar atau nilai pada mata pelajaran ini masih rendah, karena siswa hanya mempelajari teorinya saja, mereka tidak ditugaskan membuktikan suatu fakta yang terdapat pada mata pelajaran, jadi mereka dapat dengan mudah melupakan suatu hal yang telah dipelajarinya,karena sebagian besar guru hanya menggunakan metode yang monoton. Meskipun guru sudah menggunakan metode yang bervariasi seperti ceramah, kerja kelompok, diskusi dan lain – lain, tapi hasilnya masih juga belum ada peningkatan yang signifikan.

Dalam pembelajaran kurikulum 2013 kelas IV tema 7 subtema 3 Kompetensi Dasar mengidentifikasi macam – macam gaya, antara lain : gaya otot, gaya listrik, gaya magnet, gaya grafitasi, dan gaya gesekan. Pada siswa SD N 1 Kadilangu Kecamatan Kangkung sebelumnya pembelajaran masih menggunakan metode ceramah, diskusi dan bekerja kelompok saja. Sehingga dalam pembelajaran ini hasil belajar siswa atau nilai harian pada muatan pelajaran ini masih dibilang rendah, dikarenakan siswa hanya mempelajari teorinya saja, mereka tidak ditugaskan untuk membuktikan suatu fakta yang terdapat pada mata pelajaran. Terbukti pada waktu mengerjakan tugas setelah pembelajaran mereka bisa mengerjakan dengan baik, namun pada saat penilaian harian atau ujian semester tiba, seolah – olah kemampuan mereka sewaktu mengerjakan tugas setelah pembelajaran itu hilang. Dan nilai hasil tes semesterannya kurang memuaskan.

Baca juga:   Strategi Guru Menghadapi Pembelajaran IPA di Masa Pandemi Covid-19

Karena itulah penulis berupaya mencari metode yang tepat untuk mengajar materi tentang gaya magnet agar pembelajaran ini bisa diterima oleh siswa dengan mudah dan dapat membuat jangka waktu ingatan siswa terhadap hal – hal yang sudah dipelajari dan dapat bertahan lebih lama. Metode yang dipilih oleh penulis adalah metode eksperimen . Menurut Joseph Mbulu, 2001 : 58 Metode eksperimen adalah cara penyajian bahan pelajaran dimana siswa melakukan eksperimen (percobaan) dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam proses belajar mengajar dengan metode eksperimen, siswa diberi pengalaman untuk mengalami sendiri tentang suatu objek, menganalisis, membuktikan, dan menarik kesimpulan tentang keadaan suatu objek. Dengan demikian siswa dituntut untuk mengalami sendiri, mencari suatu kebenaran, mencari suatu data baru yang diperlukannya, mengolah sendiri, membuktikan suatu dalil atau hukum dan menarik kesimpulan atas proses yang dialaminya.

Langkah – langkah pembelajaran metode eksperimen adalah sebagai berikut :Pertama guru membentuk kelompok yang terdiri dari 5 – 6 siswa dalam satu kelompok, setiap kelompok disuruh menyediakan magnet batang atau magnet mainan (yang bisa ditempeikan pada pegangan pintu). Kedua setiap kelompok disuruh menyediakan benda- benda kecil , seperti jarum pentul, peniti, pensil, krikil, kain perca, kertas, karet penghapus, paku payung, isi seteples dan daun. Semua benda – benda tersebut diletakkan di atas meja. Ketiga siswa memulai untuk melakukan percobaan (eksperimens) dengan cara menempelkan benda – benda yang telah disiapkan di atas meja dengan magnet. Keempat siswa mengamati benda – benda yang ditempelkan dengan magnet tersebut dapat menempel atau tidak, kemudian dicatat hasil dari pengamatan tersebut dengan cara benda yang dapat menempel dengan magnet dikumpulkan jadi satu kemudian dicatat, dan benda- benda yang tidak dapat menempel pada magnet juga dikumpulkan jadi satu lalu dicatat lagi sebagai bahan laporan. Setelah percobaan (eksperimens) selesai guru mengumpulkan hasil penelitian siswa, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan guru melakukan evaluasi dengan tes dan Tanya jawab.

Baca juga:   Konflik Kognitif, Model POE dan Excel untuk Teorema Torricelli

Setelah pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan metode eksperimen (percobaan) ini siswa kelas IV SDN 1 Kadilangu kecamatan Kangkung merasa antusias senang dan bersemangat untuk belajar. Terbukti pada analisis berikutnya hasil nilai ulangan lebih baik jauh lebih banyak mengalami peningkatan yaitu dari 30 siswa 29 mencapai ketuntasan yaitu mencapai 96,66 persen, itu artinya sudah menunjukkan tingkat keberhasilan proses pembelajaran sudah mencapai maksimal. (pgn2/zal)

Guru kelas IV SDN 1 Kadilangu, Kendal

Populer

Lainnya