Memahami Pluralitas Masyarakat Indonesia dengan PBL

spot_img

RADARSEMARANG.ID,Pendidikan sangat menentukan masa depan kehidupan manusia. Pengetahuan dan keterampilan menuntut seseorang memiliki dan menguasai berbagai disiplin ilmu, sumber daya manusia berpengaruh penting dalam menentukan kualitas suatu bangsa.
Peran guru tidak hanya mengajar tetapi sebagai sarana penyimpan materi yang dikembangkannya. Pada mata pelajaran IPS memiliki fungsi untuk menuntut siswa mengembangkan potensi diri untuk peka terhadap keadaan lingkungan sekitar yang terjadi di masyarakat, memiliki mental dan sikap positif dalam mengatasi masalah yang sedang terjadi baik dilingkungan masyarakat maupun yang terjadi pada dirinya sendiri.

Belajar tentang pluralitas di Indonesia berarti belajar tentang kemajemukan masyarakat yang terdiri dari keragaman suku bangsa, agama, ras,pekerjaan dan lainnya yang tentunya memiliki perbedaan dan berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat di Indonesia. Untuk itu salah satu model pembelajaran yang tepat untuk memahami materi ini adalah dengan problem based eearning (PBL).
Di SMP N I Wonopringgo kelas VIII. 1 guru menggunakan model PBL dengan tujuan agar siswa lebih aktif dan kritis dalam menemukan permasalahan yang terjadi di Indonesia kaitannya dengan pluralitas masyarakat Indonesia.

Baca juga:   Peran Kepala Madrasah di Saat Pandemi Covid-19

Menurut Kamdi (2007: 77), “Problem Based Learning (PBL) merupakan model kurikulum yang berhubugan dengan masalah dunia nyata siswa. Masalah yang diseleksi mempunyai dua karakteristik penting. Pertama masalah harus otentik yang berhubungan dengan kontek sosial siswa. Kedua masalah harus berakar pada materi subjek dari kurikulum.”

Model pembelajaran problem based learning (PBL) sangat efektif dalam penerapan proses pembelajaran. Dapat dipahami bahwa model ini merupakan model pembelajaran dengan menggunakan masalah yang dihadapi dalam dunia nyata seperti halnya pluralitas di Indonesia.

Karena model ini dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam berpikir tingkat tinggi atau HOTS seperti yang diharapkan dalam proses pembelajaran Kurikulum 2013.

Dengan model ini membuat siswa mampu memecahkan masalah yang akan menjadi pengetahuan baru yang mudah dipahami dan diingat siswa. Jhon Dewey sebagaimana dituliskan dalam Sanjaya (2007) memberikan 6 langkah PBM/PBL; pertama, merumuskan masalah. Sebelum memberikan permasalahan guru menjelaskan tujuan pembelajaran untuk memunculkan masalah serta memotivasi siswa terlibat dalam pemecahan masalah. Kedua, menganalisis masalah. Siswa meninjau masalah secara kritis dengan berbagai sudut pandang yang dimiliki siswa,dapat melalui diskusi dalam kelompok. Ketiga, merumuskan hipotesis. Siswa merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah dan merumuskannya menjadi alternatif pilihan kelompok. Keempat, mengumpulkan data. Siswa mencari informasi untuk memecahkan masalah dari berbagai sumber informasi dapat dilakukan secara mandiri ataupun kelompok. Kelima, pengujian hipotesis. Dalam hal ini siswa biasanya diminta untuk menyajikan solusi masalah yang ditemukan. Keenam, merumuskan rekomendasi. Siswa melakukan evaluasi dengan bantuan guru, hal ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana pengetahuan yang sudah diperoleh siswa serta bagaimana peran masing-masing siswa dalam kerja kelompoknya.

Baca juga:   Asyik Belajar Interaksi Makhluk Hidup dengan Pendekatan JAS

Dalam pembelajaran menggunakan PBL menuntut siswa lebih banyak belajar sendiri. Namun guru tetap memiliki peran yang sangat penting. Guru dituntut menjadi fasilitator sekaligus tutor sehingga mampu mendesain model pembelajaran semenarik mungkin.
Pembelajaran menggunakan PBL di kelas VIII. 1 SMPN I Wonopringgo terbukti dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPS pada materi pluralitas. Siswa mampu menemukan permasalahan yang berkaitan dengan kemajemukan yang ada di Indonesia. (pkl2/lis)

Guru SMP N I Wonopringgo Kabupaten Pekalongan.

Populer

Lainnya