Melawan Buta Aksara Jawa

spot_img

RADARSEMARANG.ID, INDONESIA sudah merdeka, tapi masih saja ada warga negaranya yang menderita karena buta huruf/buta aksara. Apa sih pengertian buta huruf ? Buta huruf adalah ketidakmampuan membaca dan menuli. Dapat membaca dan menulis adalah dapat membaca surat/kalimat sederhana/dapat membaca dan menulis huruf braile, Orang cacat yang pernah bisa membaca dan menulis digolonkgkan dapat membaca dan menulis.

Masuknya era globalisasi dewasa ini membuat budaya jawa adalah salah satunya bahasa dan aksara jawa semakin kikis. Pemerintah dan pemerhati budaya terus melakukan upaya pelestarian. Salah satunya adalah dengan memasukan pelajaran Bahasa Jawa kedalam kurikulum sekolah, mula dari sekolah dasar hingga sekolah menengah tingkat atas. Sejak tahun 2005,,ata pelajaran bahasa Jawa diberlakukan di Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA) atau sederajat.

Hal ini menandakan bahwa pemerintah sangat memperhatikan keberadaan Bahasa Jawa.Pemerintah berupaya agar Bahasa Jawa tetap eksis. Pelajaran Bahasa Jawa di tingkat SMA mendapat porsi dua jam perminggu. Seperti di SMAN 1 Rondudongkal. Denagn dua jam perminggu guru berupaya untuk mengajarkan dan meningkatkan kemampuan anak dalam berbahasa jawa. Selain untuk melestarikan tradisi dan budaya,kurkulum baru ini diharapkan dapat membumikan kembali bahasa sastra dan aksara jawa. Namun pada kenyataannya kemampuan anak dalam berbahsa jawa sangatlah kurang., terutama kemampuan dalam memahami Aksara Jawa. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru Bahasa Jawa. Berbagai cara dan metode dilakukan untuk meningkatkan kemampuan memahami aksara jawa. Salah satunya adalah menerapkan metode menghafal Aksara Jawa.

Baca juga:   Reciprocal Learning dan Example Non Example Meningkatkan Hasil Belajar

Menhagafal adalah sebuah kemampuan dalam mengingat data yang tersimpan di dalam memori manusia. Teknik menghafal ini merupakan bagian dari Accerelated Learning (percepatan Pembelajaran) yang merupakan sebuah program belajar efektif lebih cepat dan lebih paham disbanding dengan metode konvensional. Sedangkan istilah menghafal berasal dari kata “hafal” tang berarti dapat mengucapkan diluar kepala (tanpa melihat buku atau catatan lainnya)”. Jika diberikan awalan “me” maka berarti berusaha meresapkan kedalam pikiran agar selalu ingat”.

Sebelum belajar cara menghafal aksara jawa mari kita lihat bahwa mata pelajaran Bahasa Jawa adalah muatan local wajib dalam kurikulum pendidikan terutama untuk wilayah Jawa tengah. Salah satu pembelajarannya adalah membaca dan menulis Aksara Jawa. Seringkali ditemukan kesulitan dalam menghafal Aksara Jawa tersebut. Degan metode ini mudah-mudahan bisa menjadikan kita hafal dalam membaca dan menuis aksara jawa..

Aksara Jawa yang terdiri atas 20 huruf, yaitu Ha,Na,Ca,Ra,Ka,Da,Ta,Sa,Wa,La,Pa,Dha,Ja,Ya,Nya,Ma,Ga,Ba,Tha,Nga. Dalam menghafalkan tidak harus dengan cara berurutan, tetapi dengan cara acak. Peserta didik menghafalkan huruf yang mirip secara tidak langsung metode ini mengajarkan ketelitian dan kecermatan.

Baca juga:   Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Membuat Kisi-Kisi Soal melalui Supervisi Klinis

Peserta didik disuruh menghafal tiga huruf yang sama dulu, kemudian empat huruf yang sama kemudian baru tiga huruf yang berbeda. Peserta didik mencermati dan menulis secara berulang tiga atau empat kali, kemudian berlatih menulis kata 5 – 10 kata.
Mempelajari dengan pola kemiripan memudahkan peserta didik untuk mengingatnya. Menulis Aksara Jawa pasti acaktidak mungkin berurutan Hanacaraka dan seterusnya. Peserta didik menulis kata maupun kalimat akan lebih mudah, karena tidak terpancang carakan dengan berurutan. Begitu juga ketika membaca aksara jawa mereka akan bisa cepat membacanya.

Belajar dengan metode yang sederhana memudahkan peserta didik cepat memahaminyanya. Guru memang harus telaten dalam membimbing pada awal pembelajaran, namun seterusnya peserta didik akan asyik dengan sendirinya. Peserta didik yang sudah pandai menghafal aksara jawa akan senang dengan materi ini.

Aksara Jawa diharapkan tetap eksis seperti huruf kanji maupun Hangeul Korea. Masyarakat Jepang dan Korea sangat menhargai dan bangga akan huruf yang mereka punyai. Masyarakat Jawa diharapkan juga bangga mempunyai aksara Jawa, maka merka harus senang mempelajarinya. Aksara jawa jangan sampai hilang dari tanah Jawa, sebisa mungkin tetap lestari jangan sampai punah atau bahkan berkembang di Negara ini. (pkl1/zal)

Guru SMAN 1 Randudongkal
Kabupaten Pemalang

Populer

Lainnya