Penanaman Nilai-Nilai Karakter Berbasis Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Dalam sejarah peradaban Islam, Nabi Muhammad SAW adalah model karakter terbaik dan sekaligus teladan dalam penanaman karakter di kalangan masyarakat. Nabi Muhammad berhasil membangun karakter masyarakat Arab menjadi berbalik dari karakter sebelumnya, yakni yang sebelumnya jahiliyah (bodoh dan biadab) menjadi Islam (penuh dengan nilai-nilai Islam yang beradab). Pembangunan karakter dimulai dengan membangun aqidah selama kurang lebih 13 tahun yaitu ketika nabi masih berdomisili di Makkah. Beliau melanjutkan pembinaan karakter di Madinah dengan mengajarkan syariah (hukum Islam) untuk membekali ibadah dan muamalah masyarakat sehari-hari selama kurang lebih 10 tahun. Nabi bermodal akidah dan syariah serta didukung oleh keteladanan sikap dan perilaku.

Di SMP Negeri 1 Pegandon, nilai karakter baik dikembangkan dalam pribadi peserta didik. Nilai karakter tersebut adalah tanggung jawab, jujur, dapat dipercaya, menepati janji, peduli, percaya diri, bekerja keras, bersemangat, tekun, tidak mudah putus asa, dapat berpikir rasional dan kritis, kreatif dan inovatif, rendah hati, tidak sombong, sabar, cinta pengetahuan, tidak mudah menerima informasi yang buruk, menghargai waktu, serta bisa bersikap adil. Peserta didik telah didasari dengan pendidikan agama dan budi pekerti. Karena itu, kehidupan anak di lingkungan sekolah, individu, berbudaya, sosial bermasyarakat, dan berbangsa akan selalu dilandasi dengan ajaran agama dan kepercayaannya.

Baca juga:   Problematika Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di Lingkungan SD

Pendidikan karakter berdasarkan pendidikan agama dan budi pekerti dapat diuraikan secara spesifik bahwa pendidikan karakter berbasis pendidikan dan budi pekerti mengacu pada nilai-nilai dasar yang terdapat dalam agama Islam. Nilai-nilai karakter yang menjadi dasar pendidikan agama adalah bersumber dari keteladanan Rasulullah SAW yang dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari beliau. Pembahasan ini berkenaan dengan pendidikan karakter berbasis pendidikan agama dan budi pekerti sehingga berhubungan erat dengan nilai-nilai keagamaan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang telah dibahas sebelumnya. Prinsip-prinsip yang bersumber pada pendidikan agama Islam yang digunakan untuk merekonstruksi pendidikan karakter berbasis pendidikan agama Islam ada empat.

Pertama, siddiq adalah perilaku yang diartikan secara bahasa yaitu perilaku jujur. Pengertian dari perilaku siddiq itu sendiri merupakan sebuah kenyataan yang benar dan tercermin dalam perkataan, perbuatan, tindakan, serta keadaan batinnya.

Kedua, amanah merupakan sikap dan perilaku sesorang yang dapat menjalankan dan menepati setiap janji serta tanggung jawabnya. Amanah dapat diartikan juga sebagai kepercayaan yang harus ditanggung dalam mewujudkan sesuatu sesuai yang dilakukan dengan penuh komitmen, kerja keras, dan konsisten.

Baca juga:   Hasil Belajar Bersinar dengan Strategi Example non Example

Ketiga, tablig merupakan perilaku seseorang yang berusaha menyampaikan pesan atau amanah yang diberikan kepadanya untuk disampaikan kepada seseorang yang dituju. Sifat tablig ini masih menjadi runtutan dari sifat jujur dan amanah. Ketika seseorang dapat jujur dan mampu menyampaikan amanat yang diberikan padanya maka ia akan dipercaya.

Keempat, fathonah merupakan salah satu sifat Rasulullah SAW. Fathonah berarti cerdas. Pengertian secara utuh dari fathonah adalah sifat yang meliputi kecerdasan, kemahiran penguasaan bidang tertentu yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Karakteristik jiwa fathonah meliputi arif, bijaksana, integritas tinggi, dan kesadaran untuk belajar proaktif berorientasi kepada Allah SWT. (pgn1/ton)

Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMPN 1 Pegandon, Kendal

Populer

Lainnya