Dongeng Upaya Mengefektifkan KBM di Sekolah Dasar

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Sebuah dongeng bisa dirancang atau dibangun dengan kekayaan literasi. Seorang pendongeng harus banyak memiliki buku- buku cerita, baik cerita kesejarahan maupun cerita- cerita fiksi. Oleh karena itu, seorang pendongeng di samping punya kemampuan merekontruksi sebuah cerita, biar cerita itu memiliki setting yang nampak hidup, juga pada dirinya sudah sangat kental memiliki budaya membaca yang cukup tinggi.

Budaya dongeng sekarang nyaris punah di era virtual. Paling tidak ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya. Pertama, budaya baca literasi pada umumnya ibu-ibu muda sekarang hampir ada pada titik nadir. Jarang ditemui, seorang ibu rumah tangga dalam mengisi waktu- waktu santai dimanfaatkan untuk membaca. Mereka lebih banyak digunakan untuk nonton acara- acara di TV. Kedua, kehadiran HP (handphone) Android yang semakin merambah hampir seluruh lapisan masyarakat. Dalam dunia pelajar, hampir semua siswa dalam aktifitas di luar KBM (kegiatan belajar mengajar) tidak ketinggalan tangannya pasti memencet keyboard HP tersebut.

Sedangkan guru- guru sekarang, pada jam- jam terakhir, untuk memusnahkan rasa kantuk siswa, umumnya “memaksa” murid untuk menyelesaikan soal- soal yang ada dalam LKS (Lembar Kerja Siswa). Atau memberi tugas untuk diselesaikan siswa, sementara peserta didik dengan sisa pikiran dan tenaga menyelesaikan beban pelajaran yang diberikan dari guru mereka.

Baca juga:   Tetap Asyik dengan Statistika Mengisi Piringku untuk Ketahanan Pangan Keluarga

Jadi menurut penulis, dongeng itu sangat urgent dalam upaya membangun budaya bangsa Indonesia. Paling tidak ada 2 nilai yang harus dibangun dalam membudayakan dongeng di Sekolah. Pertama, dalam diri Pendongeng, adalah persiapan yang cukup matang secara literatif dan banyak latihan. Seorang pendongeng, harus banyak membaca literasi. Baik yang berkaitan dengan nilai kesejarahan, hikayat, legenda maupun yang tidak kalah penting adalah wacana kesusateraan. Wacana ini mampu memberikan keindahan dalam beretorika. Sehingga dapat membangkitkan peserta didik untuk tetap mengikuti alur cerita yang disuguhkan pendongeng. Selain itu subtansi dan alur cerita enak dikonsumsi, karena dikemas dalam tutur kata yang indah.

Kedua, menumbuhkan budaya baca. Sebagaimana kita ketahui, bahwa budaya baca di Indonesia masih sangat rendah. Padahal membaca itu sendiri merupakan kunci untuk meraih sebuah ilmu pengetahuan.

Menumbuhkan minat baca, tidak tertuju pada si Ppndongeng atau guru saja, justru yang terpenting adalah siswa. Para siswa yang nantinya menjadi estafet kepemimpinan bangsa, harus dipersiapkan sedini mungkin. Agar nantinya bisa sejajar dengan bangsa- bangsa maju yang lain. Generasi yang nantinya tidak hanya sebagai penonton saja, tapi generasi yang mampu mengukir prestasi di segala lini kehidupan, baik politik, ekonomi maupun sosial budaya.

Baca juga:   Asyiknya Belajar Recount Text melalui Three Mekota

Untuk itu dongeng perlu masuk dalam intrakurikuler, terutama mata pelajaran Bahasa Indonesia, dan Bahasa Daerah. Karena dalam dongeng mampu mendongkrak rasa keingintahuan, dan yang lebih penting mampu meningkatkan minat baca. Baik di kalangan Pendidik maupun siswa. Dongeng yang dimasukkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia maupun Bahasa Daerah mulai dari SD/MI sampai SLTA. Dengan penerapan dongeng masuk di sekolah, nantinya paling tidak mampu meminimalisir ekses negatif dari kemajuan tehnologi seperti sekarang ini. Semoga. (pgn1/ton)

Guru SD N 2 Kadilangu, Kec. Kangkung, Kendal.

Populer

Lainnya