Sorogan, Tingkatkan Hafalan Quran Hadist

spot_img

RADARSEMARANG.COM – KEAKTIFAN peserta didik diperlukan dalam proses pembelajaran. Meski zaman sudah beralih milenial, ternyata pembelajaran yang selama ini diterapkan masih zaman old. Metode pembelajarannya masih mengkondisikan peserta didik dengan disibukkan oleh kegiatan yang kurang perlu seperti mencatat bahan pelajaran yang sudah ada dalam buku, dan guru lebih suka memaksakan kehendaknya dalam pembelajaran. Ada juga guru untuk memudahkan kerjanya meminta salah satu peserta didik mencatat di papan tulis, kemudian peserta didik yang lain mencatat apa yang dicatat di papan tulis. Sedangkan guru yang bersangkutan istirahat di ruang guru atau duduk di kelas asyik dengan kegiatan sendiri. Bahkan masih di kelas, namun asyik dengan gadget-nya sendiri. Kegiatan pembelajaran  tersebut di atas, membuat peserta didik merasa bosan dan jenuh mengikuti pembelajaran.

Meski Metode yang diterapkan oleh penulis sudah bervariasi, namun belum dapat mengaktifkan peserta didik untuk ikut berpartisipasi dalam pembelajaran. Walaupun sudah memberi kesempatan bertanya, peserta didik hanya menerima materi pelajaran dari guru saja. Sehingga pembelajaran menjadi kurang aktif. Keaktifan peserta didik diperlukan dalam proses pembelajaran, agar suasana belajar lebih produktif.

Baca juga:   Asyik Belajar Bahasa Inggris

Alquran Hadis merupakan unsur mata pelajaran Agama Islam pada madrasah yang memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang Alquran dan Hadits sebagai sumber ajaran agama Islam (Silabus, 2012:2). Karakteristik dan fungsi mata pelajaran Alquran Hadis dari keberadaannya tersebut implikasi dalam proses pembelajarannya harus menekankan keutuhan dan keterpaduan antara ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Mata pelajaran Alquran hadis pada Madrasah Aliyah memiliki tiga karakteristik.  Pertama, membaca (menulis) yang merupakan unsur penerapan ilmu tajwid. Kedua, menterjemahkan makna (tafsiran) yang merupakan pemahaman, interpretasi ayat dan hadits dalam memperkaya khazanah intelektual. Ketiga, menerapkan isi kandungan ayat/hadits yang merupakan unsur pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari (Silabus, 2012:2)

Metode sorogan adalah cara guru mengajar dengan mengumpulkan peserta didik, kemudian peserta didik melakukan antri atau bergiliran menghadap guru untuk membaca atau menghafal pelajarannya. Metode ini memiliki kelebihan dan kelemahan sebagaimana metode-metode lainnya.  Adapun kelebihan metode sorogan: Pertama, terjadi hubungan yang erat dan harmonis antar guru dengan murid.  Kedua, memungkinkan bagi seorang guru untuk mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang murid. Ketiga, murid mendapatkan penjelasan yang pasti tanpa harus mereka interpretasi suatu kitab karena berhadapan dengan guru secara langsung yang memungkinkan terjadinya tanya jawab. Keempat, guru dapat mengetahui secara pasti kualitas yang telah dicapai muridnya. Kelima, peserta didik yang IQ-nya tinggi akan cepat menyelesaikan pelajaran (kitab), sedang yang IQ-nya rendah membutuhkan waktu yang cukup lama (Armai Arief, 2002:151).

Baca juga:   Pemanfaatan Media Sosial untuk Pembelajaran dari Rumah bagi Siswa SD

Selanjutnya menurut Suyono Darnoatmodjo (2012) kelebihan metode sorogan adalah Individu diajar langsung, sehingga dapat diketahui secara pasti kemampuannya dan jika ada kesulitan dapat segera ditangani. Jadi, pembelajaran dengan sistem ini peserta didik dapat bertatap muka, bertanya jawab langsung, berdialog sebanyak-banyaknya dengan guru. Sehingga peserta didik yang satu dengan lainnya membutuhkan waktu yang berbeda, karena kecepatan pemahaman materi untuk masingmasing peserta didik berbeda. Jika penggunaan metode sorogan dilaksanakan dengan baik dan benar dalam proses pembelajaran, maka kemampuan membaca Alquran peserta didik akan meningkat. (kpig1/aro)

Guru Alquran Hadist MA NU 01 Limpung, Batang

Populer

Lainnya