Gaya Belajar vs Prestasi

spot_img

RADARSEMARANG.COM – TANPA kita sadari, baik orangtua maupun guru, sering menempatkan dan memperlakukan anak maupun anak didiknya dengan tidak adil. Sehingga tidak heran jika bermunculan generasi-generasi frustasi dan generasi-generasi yang kurang bertanggung jawab. Masalah ini muncul beriringan dengan pola pikir para orangtua dan juga sekolah sebagai lembaga pendidikan. Masih banyak kalangan orangtua dan sekolah yang memiliki pemikiran bahwa prestasi anak diukur dari prestasi belajar dalam bidang pengetahuan.

Sering kita mendengar obrolan para orangtua pada saat pengambilan rapor, “peringkat berapa bu anaknya?” Nampaknya peringkat atau ranking masih menjadi idola dan prioritas utama para orang tua dan juga sekolah. Sementara sisi lainnya yang berhubungan dengan keterampilan, hubungan sosial dan karakter menjadi tersisihkan. Anak kurang diberi waktu dan ruang untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat dan minatnya. Dari sinilah muncul masalah dari yang sederhana sampai ke kompleks. Anak menjadi malas belajar, malas berangkat ke sekolah dan akhirnya berimbas ke prestasinya. Jika kita mau meluangkan waktu sedikit saja untuk memahami karakter anak, bagaimana gaya belajarnya, sebenarnya masalah-masalah anak tersebut dapat diminimalkan.

Keberhasilan seorang anak dalam belajar terhubung erat dengan gaya belajarnya. Menurut pandangan beberapa ahli, gaya belajar didefinisikan sebagai suatu cara pandang secara pribadi terhadap peristiwa yang dilihat ataupun dialami. Maka tidak heran jika cara pandang seseorang menjadi berbeda-beda.

Baca juga:   Pembelajaran Inkuiri Menuju Keterampilan Abad 21

Menurut Bobbi DePorter dan Mike Hernacki dalam bukunya yang berjudul Quantum Learning (2015), gaya belajar ada tiga macam, yaitu gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik. Pada umumnya, sebagian besar siswa SD dan SMP memiliki gaya belajar visual (gaya belajar yang mengaktifkan indera mata), sehingga sebagian pendidikpun dalam mengajar hanya menggunakan satu metode tertentu saja. Kita menjadi lupa bahwa diantara banyak siswa tersebut pasti ada yang memiliki gaya belajar yang lainnya misalnya Audiotori (gaya belajar yang mengaktifkan indera pendengaran)  ataupun Kinestetik (gaya belajar yang mengaktifkan organ pergerakan).

Metode pembelajaran yang digunakan guru di kelas akan mempengaruhi hasil belajar siswanya. Siswa yang memiliki gaya belajar yang berbeda jika setiap hari disuguhi dengan metode yang sama secara terus-menerus, maka hasil belajar siswa pasti akan mengalami penurunan. Muncullah pertanyaan dari guru, “apakah dalam mengajar kami harus mengakomodir semua gaya belajar yang dimiliki setiap siswa?” dan “bagaimana cara kami mengetahui gaya belajar siswa?” Jawaban dari pertanyaan pertama adalah “guru semestinya memang harus mengakomodir kepentingan siswa diatas kepentingan lainnya.

Baca juga:   Aktualisasi Tutor Sebaya Dengan Daring Saat Pandemik

Metode yang digunakan guru mestinya juga beragam, sesuai dengan gaya belajar siswa. Maka, penting diperhatikan pada saat menyusun RPP. Dalam RPP, kita diberikan kebebasan penuh dalam mengekspresikan proses pembelajaran di kelas. Guru bisa memadukan berbagai metode setiap pertemuan, sehingga siswa tidak menjadi bosan. Menjawab pertanyaan kedua, cara untuk mengenali gaya belajar siswa bisa dengan beberapa cara, yang pertama bisa dengan memberikan angket yang berisi tentang bagaimana kebiasaan siswa dalam belajar. Yang kedua, guru bisa mencoba dengan metode mengajar yang menggunakan media yang diamati, guru mengajar dengan metode ceramah atau mengunakan media suara lainnya, atau guru meminta siswa melakukan kegiatan. Setelah selesai pelaksanaan satu metode, lakukan penilaian. Penilaian bisa dilakukan dengan tertulis, lisan, maupun praktik. Hasil dari tes ini dan angket bisa digunakan untuk mengetahui gaya belajar siswa. jika setiap guru bisa mengetahui gaya belajar siswa, guru akan lebih mudah menyusun RPP dan menentukan metode ataupun alat peraga yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Dengan diketahuinya gaya belajar siswa ini, secara tidak langsung guru sudah melayani dan mendampingi siswa dalam kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. (igi2/aro)

Guru IPA SMP Negeri 3 Salatiga

Populer

Lainnya