Metode Cooperative Learning pada Pembelajaran Matematika Siswa Tata Boga

spot_img

RADARSEMARANG.COM – POLA pembelajaran yang tepat, sudah barang akan menghasilkan output yang baik. Prinsip ini saya sadari betul, manakala meneliti hasil belajar siswa kelas XI Tata Boga 2 SMK Negeri 2 Temanggung. Utamanya, untuk pelajaran Matematika. Tercatat, sebanyak 36 siswa mendapatkan nilai relatif rendah.

Hal itu tampak dari hasil ulangan harian pada semester satu. Pada standar kompetensi yang pertama, yaitu kompetensi matriks, rata-rata nilai ulangan harian pertama adalah 53,08. Nilai terendah 25 dan nilai tertinggi 75. Sedangkan frekuensi terbanyak ada pada rentang 40 sampai dengan 75. Siswa yang tuntas mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran Matematika, yaitu 65, ada 15 siswa.

Pembelajaran yang dilakukan sebelum penelitian ini dilakukan dengan metode ceramah dan tanya jawab secara klasikal. Artinya, semua kegiatan pembelajaran, tidak menuntut siswa berkegiatan secara aktif. Padahal, sejatinya, siswa dituntut untuk aktif, kreatif, berpikir kritis, dan berani menyampaikan pendapat.

Maka, salah satu cara yang tepat untuk membangkitkan kreativitas siswa untuk aktif dan berani menyampaikan pendapat adalah dengan metode Cooperative Learning. Dalam metode ini, siswa dikelompokkan menjadi lima sampai enam kelompok. Penyampaian materi dilakukan dengan tanya jawab kelompok. Guru bertanya, dan siswa menjawab melalui perwakilan kelompok.

Baca juga:   Terapkan MLM, Tingkatkan Komunikasi Matematika

Setelah selesai penyampaian materi beserta pemberian contoh soal, per kelompok bertugas membuat soal beserta uraian jawab. Soal dikumpulkan, kemudian dibagikan kepada kelompok lain dengan cara diundi. Selanjutnya, masing–masing kelompok mengerjakan soal yang sudah diterima untuk kemudian mempresentasikan di depan kelas.

Kelompok lain memberikan tanggapan, dan kelompok pembuat soal menentukan benar atau salah uraian jawab dari kelompok yang sedang presentasi. Jika ada kelompok yang tidak dapat menjawab bagian soal yang harus dijawab, maka kelompok tersebut menerima hukuman sesuai kesepakatan bersama. Semisal, menyanyi.

Hukuman menyanyi cukup ringan untuk dilaksanakan, tetapi mampu mencairkan suasana. Sehingga ketegangan dalam pembelajaran dapat dikurangi. Setelah selesai presentasi kelompok, guru mengarahkan siswa untuk membuat rangkuman. Pembelajaran diakhiri dengan pemberian tugas rumah yang dikerjakan secara individu.

Dengan pembelajaran model ini, harapannya ada peningkatan pada nilai siswa. Karena dalam metode ini, siswa dituntut bekerja sama dengan sesama anggota kelompok, mampu membuat soal beserta uraian jawab, serta mampu menyampaikan tanggapan terhadap jawaban siswa lain. Juga harapannya siswa akan mampu memberikan ketegasan tentang benar salahnya jawaban siswa lain. Artinya, siswa benar-benar dituntut melakukan kegiatan pembelajaran secara aktif.

Baca juga:   Pembelajaran Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan Asyik melalui Praktik di Lingkungan Sekolah

Sebagaimana pengamatan yang saya lakukan, dengan pembelajaran metode seperti ini, siswa jauh lebih aktif dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya. Sebelum penelitian dilakukan, hasil belajar matematika siswa Kelas XI Tata Boga SMK N 2 Temanggung (jumlahnya 36 siswa) sangat rendah pada semester pertama.

Nah, pada semester berikutnya, terjadi lonjakan nilai. Siswa tuntas KKM pun lebih banyak. Artinya, metode Cooperative Learning mempunyai beberapa keunggulan. Yakni, pertama, dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Kedua, meningkatkan dan hasil belajar siswa. Serta, ketiga, dapat meningkatkan kreativitas siswa. (*/isk)

Guru SMKN 2 Temanggung

Populer

Lainnya