Kenalkan Budaya Literasi ke Dunia Internasional

spot_img

RADARSEMARANG.COM – MASYARAKAT memiliki keragaman budaya, budaya itu berasal dari kata budhi yang berarti akal, budaya masyarakat dibentuk karena kebiasaan (kecerdasan/akal) dan fasilitas alam yang tersedia sebagai sumber kehidupan. Budaya masyarakat merupakan peradaban turun temurun yang tidak lepas dari ilmu pengetahuan. Budaya itu adalah sebuah proses berfikir

Negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia terkenal  memiliki keragaman etnik dan budaya. Salah satu diantaranya adalah keragaman bahasa dan sastra.

“Melalui budaya literasi bahasa kita bisa membuat peta budaya dan wilayah NKRI. Menjadi senjata  paling kuat di dunia internasional,”

Permasalahan ini menuntut kita khususnya sebagai pendidik  menciptakan strategi khusus untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan membaca peserta didik.. Implementasi strategi tersebut yaitu dengan menciptakan Gerakan Literasi Sekolah yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Gerakan Literasi Sekolah ini mempunyai tujuan  membiasakan dan memotivasi peserta didik untuk mau membaca dan menulis guna menumbuhkan budi pekerti. Gerakan Literasi Sekolah memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015.

Lewat budaya literasi khususnya membaca merupakan gerbang dunia. Dengan membaca kita bisa menjelajahi tiap negeri tanpa perlu bepergian. Ungkapan tersebut sering kita dengar,  oleh sebab itu lewat budaya Literasi  membaca akan menumbuhkan pola pikir  siswa maupun anak kita menjadi lebih berwawasan luas. Dengan membaca kita bisa mengetahui banyak hal dan perpektif. Dengan membaca kita tidak lagi ketinggalan dan kaku hanya pada satu perspektif tanpa mau membuka diri terhadap pendapat yang berbeda. Membaca juga dapat memperkaya imajinasi dan menjadikan kita lebih kreatif.

Baca juga:   Asyiknya Belajar Prakarya dengan’’OPA YA”

Literasi menurut Kemendikbud (2016: 2) adalah kemampuan mengakses , memahami  dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas antara alin membaca, melihat, menyimak, menulis dan berbicara.

Laporan hasil survei UNESCO  indeks minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah, yaitu hanya 0,001 persen. Ini artinya hanya satu orang dari 1000 penduduk yang masih mempunyai minat baca yang tinggi. Selain itu pada Maret 2016 lalu, Most Literate Nations in the World, telah merilis pemeringkatan literasi internasional. Dalam pemeringkatan tersebut, Indonesia berada di urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei (www.jurnalasia.com). Laporan-laporan ini tentu saja membuat seluruh komponen bangsa merasa sedih sekaligus miris. Wajah kita sebagai bangsa, yang sedang tumbuh dan berkembang terasa ditampar di hadapan dunia yang sedang lari kencang dengan segala kemajuannya. Jangankan dibandingkan dengan negara-negara maju di kawasan Eropa dan Amerika, dibandingkan dengan negara-negara sekawasan (baca: Asia Tenggara) saja peringkat minat baca kita masih berada di bawah.

Laporan hasil survei-survei ini begitu menjadi perhatian besar seluruh elemen bangsa. Hal ini menunjukkan begitu pentingnya kegiatan membaca ini. Ada suatu pepatah yang berbunyi “Buku adalah jendela dunia”, maka untuk membukanya adalah dengan cara membaca. Selain itu, membaca merupakan salah satu dari empat kemampuan yang harus dikuasai dalam berbahasa.

Baca juga:   Tumbuhkenalkan Budaya Membaca Siswa lewat Pojok Baca

Fenomena kurangnya minat baca  banyak  kita temui di anak didik kita. Hal ini menunjukkan sebuah gambaran kepada kita, betapa kurangnya minat baca di kalangan masyarakat kita. Rendahnya minat generasi muda untuk berliterasi sangat berpengaruh besar untuk bersaing di kancah internasional.

Bercermin dari permasalahan kurangnya literasi khususnya minat baca siswa didik kita yang dapat kita lakukan  yaitu dengan menumbuhkembangkan budaya kesadaran literasi  dalam kehidupan sehari-hari sekaligus literasi  merupakan suatu kebutuhan diri yang tumbuh dari kesadaran diri sendiri guna mengejar ketinggalan dengan negara-negara lain. Proses pembiasaan literasi akan berlangsung secara maksimal jika didukung dengan lingkungan yang bersifat mendukung. misalnya sekolah-sekolah harus sering mengadakan suatu kegiatan literasi contohnya mengadakan lomba menulis, membuat puisi, membuat artikel  bahasa. Dengan kegiatan tulis menulis seperti itu membuat para generasi muda lebih mengerti bagaimana cara meningkatkan budaya literasi guna menambah wawasan sampai di kancah internasional.

Oleh sebab itu, sudah saatnya kita untuk selalu membudayakan kesadaran berliterasi  yang intensif dan berkesinambungan bahkan kita harus mulai eksplorasi diri dengan literasi. Dengan literasi  diharapkan  dapat mengenalkan Indonesia di kancah lokal, global maupun internasional. (igi1/aro)

Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Salatiga

Populer

Lainnya