Serat Wulangreh Ajarkan Budi Pekerti Siswa  Paling Tepat

spot_img

RADARSEMARANG.COM – KARYA Sastra Jawa kuno sangat banyak dan memiliki nilai yang adi luhung, seperti Serat Wulangreh. Dalam Serat Wulangreh banyak memuat ajaran nilai-nilai moral yang sangat penting bagi pendidikan karakter siswa.

Serat Wulangreh adalah karya sastra berupa tembang macapat karya Sri Sunan Pakubuwana IV, Raja Surakarta. Beliau bertahta sejak 29 November 1788 hingga akhir hayatnya pada 1 Oktober 1820. Naskah Wulang Reh saat ini disimpan di Museum Radya Pustaka di Surakarta. Kata Wulang bersinonim dengan kata pitutur memiliki arti ajaran. Kata Reh berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya jalan, aturan dan laku cara mencapai atau tuntutan. Wulang Reh dapat dimaknai ajaran untuk mencapai sesuatu. Sesuatu yang dimaksud dalam karya ini adalah laku menuju hidup harmoni atau sempurna. Untuk lebih jelasnya, berikut kutipan tembang yang memuat pengertian kata tersebut: Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara. artinya ilmu itu bisa dipahami/ dikuasai harus dengan cara, cara pencapaiannya dengan cara kas, artinya kas berusaha keras memperkokoh karakter, kokohnya  karakter akan menjauhkan diri dari watak angkara.

Berdasarkan makna tembang tersebut, laku adalah langkah atau cara mencapai karakter mulia bukan ilmu dalam arti ilmu pengetahuan semata, seperti yang banyak kita jumpai pada saat ini. Lembaga pendidikan lebih memfokuskan pengkajian ilmu pengetahuan dan mengesampingkan ajaran moral dan budipekerti. Salah satu keistimewaan karya ini adalah tidak banyak menggunakan bahasa Jawa kuno sehingga memudahkan pembaca dalam memahaminya .

Serat Wulang Reh ini terdiri dari 13 pupuh yaitu: Dhandhanggula, Kinanthi, Gambuh, Pangkur, Maskumambang, Megatruh, Durma, Wirangrong, Pucung, Mijil, Asmarandana, Sinom, dan Girisa. Setiap pupuh berisi tuntunan yang harus dilaksanakan oleh umat manusia agar hidupnya selamat dan tidak terjerumus ke jurang kenistaan. Penyampaian ajaran disampaikan dalam bentuk tembang dengan gaya: memerintah, menasehati, melarang, melarang keras, memberi contoh, dan memberi gambaran dalam bentuk cerita. Gaya-gaya tersebut disesuaikan dengan masing-masing watak tembang sehingga isinya sesuai dengan rasa dan nilai-nilai yang seharusnya kita lakukan dalam hidup bermasyarakat.

Baca juga:   Supervisi Kepsek Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Serat Wulang Reh itu karya sastra berbentuk tembang dengan jenis tembangnya yaitu  tembang macapat. Di dalam Serat Wulang Reh berisi ajaran tentang budi pekerti luhur manusia terutama menyangkut perilaku, nilai dan moral serta akhlak manusia baik itu secara lahir dan batin untuk mencapai kesempurnaan hidup didunia dan akhirat. Budi pekerti merupakan bagian intisari dari pembinaan diri. Pembinaan diri secara utuh meliputi ranah pengetahuan, sikap dan perilaku. Dalam menjalankan pendidikan budi pekerti, keteladanan lebih efektif daripada perkataan, terutama tentang perilaku dan akhlak manusia itu sendiri.

Pupuh Pangkur dan Nilai-nilai Budi Pekerti

Dalam tulisan ini hanya diambil contoh dua tembang saja dari pupuh Pangkur. Pupuh pangkur merupakan salah satu dari 13 pupuh yang ada dalam Serat Wulang Reh. Tembang Pangkur berwatak keras, jengkel, marah, dan galak. Dibawah ini mengambil contoh dua pada tembang pangkur dari Serat Wulangreh. “Kang sekar pangkur winarna, lalabuhan kang kanggo wong ngaurip, ala lan becik puniku, prayoga  kawruhana, adat waton puniku dipun kadulu, miwah ta ing tatakrama,  den kaesthi siyang ratri.” Nyanyian Tembang Pangkur menjelaskan, perjuangan bagi kehidupan manusia, baik dan buruk itu, sebaiknya pahamilah, pedoman adat itu perhatikanlah, dan juga aturan sopan santun, jadikankan perhatian pada siang dan malam. Duduga lawan prayoga,  myang watara riringa aywa lali,  iku parabot satuhu,   tan kena tininggale,  tangi lungguh angadeg tuwin lumaku,  angucap meneng anendra,  duga-duga nora keri.

Pertimbangan dan yang sebaiknya, dilakukan dan pedoman serta adat kebiasaan jangan sampai lupa, itu adalah alat kebenaran, jangan sampai ditinggalkan, saat bangun, duduk, bediri dan saat berjalan, ketika berkata, diam dan ketika tidur, jangan sampai meninggalkan pertimbangan yang seharusnya.

Baca juga:   Indahnya Berbagi Melalui Tulisan

Pupuh ini memuat nilai-nilai antara lain sebagi berikut manusia harus mampu membedakan sesuatu yang baik dan yang buruk, sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Manusia harus berlandas pada aspek deduga yaitu mempertimbangkan segala sesuatu sebelum bertindak, prayoga yaitu mempertimbangkan hal-hal yang baik terhadap segala sesuatu yang akan dikerjakan,watara yaitu mempertimbangkan kemungkinan yang buruk dari apa yang akan dikerjakan, dan reringa atau berhati-hati dalam menghadapi segala sesuatu yang belum jelas atau meyakinkan. Manusia harus menjauhi perbuatan maksiat. Manusia harus menjauhi watak durjana jahat/culas, murka/serakah, drengki atau sakit hati karena melihat keberuntungan orang lain, srei yaitu berkeinginan  menang terhadap keberuntungan orang lain, dora ‘pembohong’ iren ‘selalu iri’, meren ‘iri hati’, dahwen ‘suka mencela’, panasten ‘panas hatinya melihat orang lain berhasil’, open ‘ingin memiliki hak orang lain’, kumingsun ‘merasa dirinya terhebat’, dan jail yaitu suka menggangu orang lain, methakil ‘mendzalimi orang lain’, dan besiwit yaitu suka mengungkit kejelekan orang lain.

Nilai-nilai ajaran moral ini sangat tepat diterapkan dan dimiliki bagi siswa yang saat ini sedang mengalami degradasi moral yaitu kemerosotan atau penurunan moral, akhlak atau budi pekerti.

Sebagai seorang pendidik sudah seharusnya kita selalu mengingatkan, menasehati sepatah dua patah kata tentang budi pekerti. Sedangkan cara yang digunakan juga beragam misal dalam mata pelajaran Bahasa Jawa ada materi  tembang macapat dari Serat Wulangreh, jangan sekedar ditembangkan tetapi harus kita sampaikan pula makna yang terkandung dalam tembang tersebut. (*/bas)

Guru SMP 2 Warureja Tegal

Populer

Lainnya