Membangun Perilaku Entrepreneur Pada Siswa SMK

spot_img

RADARSEMARANG.COM – DATA lulusan SMK yang menjadi penyumbang angka pengangguran saat ini membuat mata kita terbelalak. Slogan SMK yang berbunyi: SMK Bisa, Siap Kerja, Cerdas dan Kompetitif, ternyata tidak sepenuhnya terbukti.

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Februari tahun lalu menyebut, jumlah angkatan kerja ada 131,55 juta orang. Penganggurannya mencapai 7,01 juta jiwa. Lulusan SMK mendominasi dengan 9,27 persen atau sekitar 649 ribu jiwa. Bagimana hal ini bisa terjadi ?Di mata Mendikbud Muhadjir Effendy, hal itu terjadi karena timpangnya lapangan kerja dengan jumlah lulusan SMK.

Saat ini, rerata lulusan SMK per tahun mencapai 1,2 juta anak. ”Apakah lowongan kerjanya juga tersedia sebanyak itu? Sebagus apapun perbaikan pembelajaran di SMK, jika lapangan kerjanya tidak sebanding, maka pengangguran berijazah SMK tetap akan tinggi.

Kondisi perekonomian yang baik, dianggap sebagai salah satu faktor yang mampu mendorong pertumbuhan kebutuhan dari dunia industri dan dunia usaha untuk rekrutmen tenaga kerja. Apalagi kita tahu bahwa selama ini lulusan SMK, sebagian besar dicetak untuk siap kerja di dunia industri dan bekerja secara formal atau menjadi karyawan.

Baca juga:   Lingkungan Sekitar sebagai Media Pembelajaran di Kelas Rendah

Dengan mindset seperti itu, tentu kerap membuat lulusan SMK menjadi seolah-olah hanya “menunggu” adanya kesempatan atau ketersediaan kursi kerja di perusahaan saja. Artinya, hanya mencari kerja, tetapi tidak mampu membuat pekerjaan untuk dirinya sendiri atau orang lain. Padahal, Indonesia memiliki potensi besar dari segi jumlah penduduk. Yakni, kurang lebih 260 juta orang. Ini ladang bagus bagi orang-orang yang ingin berwirausaha.

Satu sisi, pemerintah juga saat ini sedang menggalakkan ekonomi kreatif dan usaha kecil menengah, yang sudah terbukti ampuh menghadapi era krisis global. Para guru di SMK, hendaknya memberikan banyak materi dan contoh kepada siswa untuk berwirausaha. Artinya, tidak semata-mata membentuk siswa menjadi “robot bernyawa” bagi perusahaan-perusahaan besar.

Pemberian spirit dan kedisiplinan ala perusahaan besar, tetap perlu diberikan. Seperti penerapan standar operasional prosedur membuat produk barang dan jasa yang sesuai dengan harapan pelanggan dan menguntungkan. Siswa juga perlu dibekali dengan semangat kemandirian. Tujuannya, agar kelak mereka dapat membuat hal yang sama kepada perusahaan miliknya dan pelanggannya sendiri.

Baca juga:   Perpustakaan sebagai Media Pembelajaran yang Efektif

Perilaku entrepreneur (wirausaha) perlu dibangun sejak di sekolah, dengan pembentukan sikap menjadi pribadi mandiri, memiliki kecakapan hidup (life skill) dan melatih kepemimpinan (leadership). Dengan sikap mandiri, siswa dapat mendayagunakan potensi diri dan kreatifitas untuk menghasilkan atau minimal mencukupi kebutuhan dirinya sendiri. Semisal, berjualan makanan/minuman di sekolah, jualan pulsa, jualan online, menggarap kaos kelas, dan sebagainya.

Sikap dan perilaku entrepreneur perlu ditanamkan sejak di sekolah, dengan mengajak siswa selalu berpikir positif, dan berorientasi jauh ke depan. Berperilaku profesional, artinya punya tanggung jawab, berpenampilan rapi, dan latihan mengambil keputusan.

SMK menjadi tempat yang sangat strategis untuk menumbuhkan bakat wirausaha. Maka, perlu dikondisikan melalui jalur intrakurikuler, kokurikuler maupun ekstrakurikuler. Harapannya, dengan kondisi lingkungan yang menerapkan perilaku entrepreneur, siswa menjadi terbiasa untuk menerapkan. Dan, pada akhirnya, akan menjadi karakter kepribadian siswa.

Maka, pendidikan kewirausahaan di sekolah sangat penting untuk membekali para siswa dalam mengarungi dunia usaha yang akan dijalankan mereka setelah lulus. (*/isk)

Guru SMK Negeri 1 Salam Magelang

Populer

Lainnya