Metode Peta Pikiran Tingkatkan Keterampilan Menulis Karangan Siswa

spot_img

RADARSEMARANG.COM – DALAM menulis karangan, baik itu karangan narasi maupun deskripsi, siswa kerap kesulitan dalam mengembangkan gagasan. Hal ini dimungkinkan sekali,  karena strategi pembelajaran yang dipakai guru kurang tepat. Maka guru perlu mengupayakan pembelajaran menulis karangan secara efisien, efektif, dan menarik. Salah satunya, guru perlu menerapkan metode peta pikiran.

Pengutamaan pembelajaran menulis bertolak dari manfaat bahasa sebagai alat komunikasi. Komunikasi itu bisa melalui bahasa lisan dan tulis. Keterampilan komunikasi melalui bahasa tulis menjadi kebutuhan setiap orang untuk mendukung  kemajuan hidup di dunia ini. Terlebih lagi dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Keterampilan menulis dalam kehidupan modern ini jelas lebih dibutuhkan.

Mengajarkan keterampilan menulis karangan perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh mulai dari pendidikan yang paling dasar. Sebab, keterampilan menulis tidak langsung dapat begitu saja. Semua yang menginginkan terampil menulis membutuhkan belajar dan berlatih dengan berkesinambungan, berkelanjutan, dan terus-menerus. Maka siswa perlu dimotivasi untuk rajin dan sungguh-sungguh dalam berlatih menulis.

Kebanyakan siswa ketika ditugasi menulis karangan dua lembar halaman, ternyata hanya dapat menulis satu lembar halaman. Hal ini disebabkan siswa kebingungan mau menulis apa lagi. Segala hal yang seharusnya ditulis sudah dituangkan, tetapi tetap saja tidak mencapai target.

Baca juga:   Pembelajaran IPA Menyenangkan selama Masa Pandemi

Untuk itu, guru perlu menggunakan metode peta pikiran. Dengan metode ini, dapat mengeksplorasi daya pikir dengan merekayasa pengembangan potensi pikiran. Melalui beberapa kata kunci yang dijabarkan ke penjelas-penjelas.

Metode atau strategi pembelajaran peta pikiran (mind mapping) ini merupakan salah satu metode pembelajaran yang dikembangkan oleh  Tony Buzan pada 1974, yang berdasar pada cara kerja otak. Metode peta pikiran ini merupakan salah satu cara memetakan sebuah informasi yang digambarkan dalam wujud cabang-cabang pikiran dengan berbagai imajinasi yang ditunjukkan dengan bantuan diagram, gambar berwarna ataupun foto agar lebih menarik.

Maka pada pembelajaran, sebelum menulis karangan terlebih dahulu siswa ditugasi untuk melihat gambar atau foto yang sesuai dengan keadaan yang akan ditulis menjadi sebuah karangan. Dengan metode peta pikiran, diharapkan siswa dapat berpikir secara sistematis. Karena gagasan yang akan dituangkan dalam bentuk tulisan sudah dipetakan terlebih dahulu. Dari pikiran utama kemudian penjelas-penjelas. Langkah berikutnya dari beberapa penjelas dirinci lagi.

Ketika pembelajaran, untuk memudahkan dalam menulis dengan menerapkan metode ini bisa dengan bantuan gambar. Misalnya, menulis karangan tentang kunjungan ke Jakarta. Supaya siswa terampil dalam menulis perlu dibantu dengan gambar atau foto TMII, Tugu Monas, Ancol dan lain sebagainya. Dengan cara ini siswa akan dengan mudah mengingat kembali yang dilihat dan dialami untuk ditulis dalam sebuah karangan.

Baca juga:   Belajar Penjasorkes Dinamis dan Interaktif dengan Sway

Menurut pengalaman, penerapan metode peta pikiran ini  bisa meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis karangan. Terbukti dengan metode ini banyak siswa yang mencapai nilai ketuntasan. Dengan menerapkan metode peta pikiran juga dapat meningkatkan kualitas PBM tentang keterampilan menulis karangan. Hal ini terlihat pada keaktifan, minat, dan perhatian siswa yang meningkat. Penerapan metode ini juga memudahkan guru dalam mengelola kelas. (tj3/1/aro)

Guru SMP Negeri 2 Sapuran, Wonosobo

Populer

Lainnya