Kampanye Antikorupsi di SMK lewat Urek-urek

spot_img

RADARSEMARANG.COM – PELAJARAN PPKn yang cenderung mengajarkan materi secara hafalan, tidak hanya membuat pelajaran kurang bermakna, namun membebani siswa bahkan membuat siswa bosan dan akhirnya tidak sampai perubahan nilai karakter yang akan dituju di balik itu. Kemampuan untuk mengubah pola pembelajaran yang menyenangkan menjadi keniscayaan untuk terus diupayakan oleh guru PPKn.

Mengetahui karakter siswa menjadi modal utama dalam merancang, mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran sehingga metode yang digunakan akan tepat sasaran. Karakteristik siswa di jurusan dari sebuah SMK juga dapat menjadi pertimbangan dalam proses perancangan pembelajaran yang akan dilakukan, karena jurusan yang berbeda-beda membentuk karakteristik siswa yang berbeda pula.

Melihat fenomena tersebut, penulis berusaha mengubah pola pembelajaran yang dilakukan di jurusan Animasi SMK Negeri 11 Semarang agar pembelajaran PPKn lebih dirasa oleh siswa. Salah satu pola pembelajaran yang dikembangkan penulis pada materi antikorupsi di jurusan Animasi adalah mempertimbangkan kemampuan dan kesenangan siswa untuk urek-urekalias menggambar sebagai bagian dari metode pembelajaran yang diterapkan.

Pembelajaran diawali dengan pemberian tugas untuk membaca berbagai sumber tentang antikorupsi, dilanjutkan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menggiring siswa untuk berdiskusi tentang korupsi dan dampaknya terhadap masyarakat, lembaga yang menangani korupsi, proses hukum korupsi dan apa yang perlu dilakukan oleh seorang siswa untuk tidak melakukan korupsi. Usai berdiskusi, masing-masing kelompok mengemukakan gagasan dan simpulan hasil diskusi, sebagai bentuk pertanggungjawaban kelompok dan sebagai wahana menyampaikan gagasan secara tertulis dan lisan. Peran guru dalam kegiatan ini sebagai fasilitator, dan menambah, memberikan penekanan sehingga siswa memiliki persepsi yang sama terhadap hasil diskusi.

Baca juga:   Menganalisis Nilai-Nilai Pancasila dengan Metode PBL dan Aplikasi Classroom

Kegiatan diakhir dengan penugasan secara individu untuk membuat karya gambar. Siswa dapat memilih karya gambar berupa poster, komik ataupun karikatur dengan tema tentang korupsi. Pada pertemuan berikutnya dilakukan sebuah pameran hasil karya yang dipajang di kelas. Setiap individu memiliki tanggungjawab untuk mempresentasikan hasil karyanya secara visual, mampun secara lisan tentang karya yang dibuat berkaitan dengan materi korupsi.

Kegiatan pembelajaran ini ternyata memberikan daya tarik sendiri bagi siswa. Selain siswa keluar dari rutinitas belajar PPKn yang cenderung monoton dan membosankan, siswa juga tertantang untuk mengaktualisasikan dirinya membuat karya poster, komik ataupun karikatur dengan tema korupsi. Membuat karya gambar memerlukan kemampuan yang kompleks, seperti kemampuan memunculkan ide, menuangkan ide ke dalam media gambar, penggunaan alat dan bahan menggambar dan teknik-teknik menggambarnya.

Yang pertama kali dari pembuatan karya gambar tersebut adalah kemampuan membuat ide atau gagasan. Untuk menuangkan ide dan gagasan ke dalam sebuah karya gambar, siswa akan mengalami kesulitan ketika tidak memiliki pengetahuan yang luas tentang korupsi. Secara tidak langsung, guru sebenarnya menuntut siswa untuk membaca berita dari berbagai sumber yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk gambar. Hasil dari kegiatan pembelajaran ini, siswa lebih memiliki kepercayaan diri karena mereka mendapatkan wadah untuk mengaktualisasikan dirinya melalui penuangan gagasan  ke dalam media gambar. Yang tidak kalah pentingnya adalah kegiatan pembelajaran ini merupakan sarana yang unik untuk mengkampayekan antikorupsi pada dirinya sendiri dan orang lain. Selamat mencoba. (tj3/2/aro)

Baca juga:   Gunakan Media Kartun, Ciptakan Bahagia Belajar IPA

Guru PPKn SMK N 11 Semarang

Populer

Lainnya