Nilai-Nilai Akhlak Al Karimah Cerpen-Cerpen Karya Ahmad Tohari

spot_img

RADARSEMARANG.COM – KARYA sastra dalam berbagai bentuk, memiliki pengaruh terhadap pembacanya. A. Teeuw dalam buku Membaca dan Menilai Sastra menyatakan “fenomena itu tak lepas dari asumsi bahwa karya sastra mampu menjadi media ajar yang baik. Dan, sesungguhnya manusia di samping menjadi homo sapien, homo faber, homo loquens, juga menjadi homo fabulans; yakni makhluk bercerita, atau makhluk bersastra” (hal: 15)

Karya-karya Ahmad Tohari, baik berupa karya novel, esai, ataupun dalam bentuk yang lain, sangat kuat muatan pendidikan moral, akhlak, pembelaan terhadap kaum miskin, terpinggirkan baik oleh sistem pemerintah, sosial ataupun budaya. Sebagaimana pernah disampaikannya:

“Amanat Tuhan kepada manusia tidak lain adalah keadaban kehidupan, yang dibangun melalui penegakan nilai-nilai keadaban seperti keadilan, kebenaran, kasih sayang, martabat kemanusiaan, pranata sosial yang baik, dan seterusnya. Jelasnya, amanat Tuhan kepada manusia adalah penyebaran kasih sayang kepada seluruh isi alam. Melalui karya sastra yang semuanya menyangkut kehidupan orang-orang terpinggirkan saya bermaksud memberikan kasih sayang kepada mereka. Tentu, pembelaan secara sastrawi melalui persaksian dan pewartaan tidak akan serta merta mengubah keadaan orang-orang teraniaya itu. Sastra hanya punya tugas mengetuk nurani masyarakat bila terjadi gejala yang menandai adanya pelanggaran terhadap nilai keadaban.” (Nu.com)

Baca juga:   IPA Identik dengan Mencoba

Sebagai sastrawan, Ahmad Tohari dikenal produktif dalam berkarya. Puluhan novel, ratusan cerpen, dan berbagai tulisan genre nonfiksi, lahir dari “tangan dinginnya”. Sosok Ahmad Tohari sesungguhnya tak hanya menarik dibicarakan berdasarkan karya-karyanya, tetapi juga kesantunan dan kesederhanaan gaya hidupnya.

Tohari dikenal alergi terhadap simbol-simbol feodalisme dan kapitalisme yang konon sudah demikian kuat membelit sendi-sendi kehidupan bangsa. Beruntung, penulis berkesempata bisa sedikit ngobrol dengan novelis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Jentera Bianglala, dan Lintang Kemukus Dini Hari beberapa tahun yang lalu di rumahnya. Pada saat itu, beliau mengungkapkan bahwa:

“…. hidup ini kan membutuhkan keberpihakan kepada yang benar. Komitmen saya untuk berpihak kepada yang benar itu sangat kuat, sehingga ketika muncul persoalan yang menantang komitmen itu, saya bisa langsung menulis dengan semangat yang sangat tinggi.”

Berangkat dari persoalan-persoalan moralitas generasi muda kita—terutama yang menyandang status pelajar—sekiranya sentuhan keindahan karya sastra bisa dijadikan solusi untuk membantu mereka dalam upaya proses internalisasi nilai-nilai moral dalam diri mereka. Dan, salah satu jawabannya adalah karya-karya Ahmad Tohari, bisa dijadikan rujukan untuk bahan kajian.

Baca juga:   PPK Songsong Generasi Emas Bangsa

Sehingga sedikit banyak generasi muda bangsa ini memperoleh pencerahan dari karya-karya yang bermutu dan bermuatan kesantunan akhlak. Sebagai langkah defensif atas derasnya laju informasi yang bebas nilai dan mengkhawatirkan masa depan bangsa.

Sekarang semua bergantung pada steakholder pendidikan, untuk menyediakan bahan-bahan bacaan yang bermutu di perpustakan-perpustakaan. Juga apa pun yang diposting lewat media sosial maupun majalan daring, semestinya memberikan ruang untuk karya-karya yang bermutu, membangun karakter anak bangsa. Mari berikhtiar bersama.

Guru PAI SMP Negeri I Bandongan, Kab. Magelang.

Populer

Lainnya