Presentasi Tingkatkan Kemampuan Berbicara Krama Alus

spot_img

RADARSEMARANG.COM – KEMAMPUAN berbahasa Jawa bagi sebagian besar siswa sekarang ini sangat memprihatinkan. Jangankan berbicara dengan bahasa Jawa krama alus, siswa berbicara dengan ragam ngoko saja sudah kesulitan. Apalagi ketika disuruh menanggapi dan menceriterakan kembali isi teks dengan bahasa krama alus, masih banyak kesalahan siswa dalam memilih dan menerapkan kosa kata. Tak jarang siswa terbalik dalam menerapkan ‘unggah-ungguh basa’. Kosa kata dalam ragam krama inggil yang seharusnya untuk orang tua atau orang yang lebih tua, malah digunakan untuk diri sendiri. Dampak lainnya, siswa kurang aktif pada waktu diskusi kelompok dan diskusi kelas. Hanya beberapa siswa saja yang berani berpendapat, memberi komentar, atau menceriterakan kembali isi teks yang dibacanya.

Kurangnya kemampuan berbicara dengan bahasa krama alus tersebut dapat juga karena pengaruh guru yang belum menggunakan pendekatan, metode, atau teknik yang tepat. Seperti guru yang masih banyak ceramah di depan kelas dan menugaskan siswa mencatat atau mengerjakan tugas tertulis. Tentu menyebabkan keterampilan berbicara siswa kurang terasah. Untuk itu perlu upayauntuk memberanikan dan membiasakan siswa berbicara menggunakan bahasa Jawa ragam ‘krama alus’.

Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk melatih siswa berani berbicara adalah dengan presentasi. Presentasi sebenarnya termasuk tahapan akhir pendekatan scientific, yaitu tahap mengomunikasikan hasil belajar. Baik itu dilakukan secara perorangan maupun secara kelompok di depan kelas. Presentasi adalah kegiatan berbicara di depan orang banyak, untuk menyampaikan suatu topik, pendapat atau informasi. Presentasi juga dapat dilakukan siswa setelah diskusi kelompok, melakukan pengamatan, atau melakukan tugas berbasis proyek.

Baca juga:   Meningkatkan Kemampuan Berbicara melalui Metode Guessing Games

Teknik Presentasi

Presentasi yang bersifat perorangan dapat dilakukan dengan membacakan hasil setelah membaca atau mengerjakan tugas tertulis di depan kelas. Siswa yang lain lalu memberikan pendapat atau tanggapan dari segi bahasa, isi, penampilan, atau kelancaran berbahasa. Kosa kata yang kurang sesuai diharapkan dapat ditanggapi siswa menggunakan basa Jawa krama alus. Namun bila presentasi dilakukan secara kelompok, setidaknya dilakukan oleh tiga orang siswa. Dengan pembagian tugas sebagai berikut; moderator, notulen, dan penyaji materi. Moderator adalah orang yang bertugas membuka dan menutup presentasi serta mengatur jalannya presentasi. Sedangkan notulis juga disebut sekretaris yang tugasnya mencatat pertanyaan yang disampaikan oleh siswa lain, dan membuat kesimpulan. Siswa yang bertugas menyampaikan materi presentasi disebut penyaji materi.

Sebelum presentasi dimulai, guru memberi rambu-rambu pelaksanaan presentasi. Khususnya waktu presentasi, etika menanggapi pendapat orang lain, dan bahasa yang digunakan. Karena presentasi untuk membiasakan dan meningkatkan kemampuan  berbahasa Jawa ragam ‘krama alus’ maka siswa diwajibkan berbicara dengan ragam krama tersebut. Jadi ketika ada kosa kata yang kurang tepat penggunaan maupun pengucapannya dijadikan bahan diskusi. Jadi presentasi umumnya untuk mengakhiri atau menutup diskusi kelas, maka langkah-langkah pelaksanaannya sebagai berikut: Pertama, kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa membagi tugas sebagai penyaji materi, notulis, dan moderator. Kedua, kelompok lain menjadi peserta atau pendengar, tugasnya menyimak penyajian materi dan menyiapkan pertanyaan. Ketiga, setelah penyajian materi selesai; kelompok lain bertanya/menanggapi isi/bahasa yang digunakan/bisa juga menilai sikap/penampilan penyaji. Keempat, penyaji menanggapi kelompok penanya. Kelima, notulis membacakan kesimpulan diskusi.

Baca juga:   Teknik Mnemonik Memudahkan Belajar Struktur Teks Bahasa Indonesia

Semua kegiatan tersebut menggunakan bahasa Jawa ‘krama alus’, apabila ada hal yang kurang sesuai dan terjadi perdebatan, guru menjadi penengah. Presentasi bila sering dilakukan dalam pembelajaran, selain dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa dalam menggunakan ragam ‘krama alus’, juga dapat membentuk karakter siswa, yakniberani tampil di muka umum, kerja sama, dan percaya diri. (tj3/2/aro)

Guru SMP Negeri 1 Wonosobo

 

Populer

Lainnya