Gaya Nasio Oke, Wester No!

spot_img

RADARSEMARANG.COM – DI era yang begitu dahsyatnya teknologi ini yang namanya nasionalisme dan westernisasi berjalan beriringan.  Ada kalanya generasi muda sudah sulit membedakan mana yang bergaya nasionalisme, dan mana yang  westernisasi. Padahal generasi muda inilah yang nantinya merupakan penentu cita-cita, tujuan,  dan nasib bangsa mau dibawa ke mana bangsa ini ke depannya.

Untuk mencapai itu semua, sedini mungkin ditanamkan sikap nasionalisme di hati mereka. Karena kelak maju mundurnya bangsa ini terletak di tangan dingin mereka. Jangan sampai kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia yang selalu mengedepankan nilai-nilai luhur bangsa. Rasa nasionalisme memang sangat penting demi mendukung kelangsungan hidup bangsa sebagai wujud pengabdian dan kecintaan terhadap bangsa itu sendiri.

Dalam salah satu pidato, Bung Karno pernah berkata “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Dalam pidato tersebut, semangat, dinamis, dan revolusioner merupakan elemen-elemen esensial dalam memperjuangkan kebebasan dari penjajahan kolonial pada masa itu. Kini puluhan tahun kemudian, kita bertanya-tanya apakah elemen-elemen tersebut masih merekat dalam jiwa para generasi muda saat ini?

Seiring berkembangnya zaman, rasa nasionalisme kian memudar, rapuh, ironis sekali kalau kita rasakan. Contoh sederhana yang menggambarkan betapa mudarnya rasa nasionalisme di kalangan generasi muda, yakni pada saat upacara bendera setiap Senin, maupun hari-hari besar nasional. Masih banyak kita jumpai pesertanya yang belum tertib, dan belum memahami makna dari upacara itu sendiri. Misalnya, bicara sendiri, seragam tidak lengkap dan lain-lain. Sehingga bapak/ibu guru harus menertibkan terlebih dahulu.

Lebih tertarik terhadap produk impor dibandingkan dengan produk buatan dalam negeri. Mereka merasa high class dengan memakai barang-impor, dan selalu menganggap rendah produk dalam negeri. Banyak sekali kita jumpai mereka pada tidak hafal dengan sila Pancasila, lagu kebangsaan, dan lagu nasional.

Baca juga:   Pentingnya Media Power Point dalam Pembelajaran IPS

Saat ini, entah mengapa generasi muda lebih  memuja gaya hidup westernisasi (ke barat-baratan). Barangkali ini merupakan pengaruh media pula yang telah berhasil membentuk persepsi, opini, dan sikap bangsa kita. Meskipun tak kita pungkiri bahwa budaya barat terbilang memang lebih maju dan terkesan modern, sehingga sepakatlah bahwa kebudayaan barat itu bagus. Jadi, dapat dikatakan bahwa generasi muda kita atau lebih luasnya bangsa kita, sedang dicekoki oleh gemerlapnya gaya hidup westernisasi yang bernilai modern lewat pasar bebas.

Lihat fakta yang ada, karena pandangan yang mengagungkan budaya barat, barang-barang impor menjadi serbuan utama konsumen. Generasi muda ingin menunjukkan jatidirinya sebagai manusia yang modern. Mereka tidak mau dikatakan sebagai pemuda yang culun, dan ketinggalan zaman. Dengan pola pikir seperti itu, terciptalah suatu trend yang baru bagi generasi muda saat ini, Misalnya,  mereka yang bergaya hidup saat bersekolah, kuliah, bekerja, dan berbusana. Belum lagi budaya pergaulan bebas yang sangat bertentangan dengan adab ketimuran negara kita. Sangat miris memang dengan kondisi seperti ini, yang akan membahayakan generasi bangsa.

Apa yang menyebabkan pemuda yang sejatinya merupakan generasi penerus bangsa ini menjadi seperti itu? Westernisasi adalah arus besar yang mempunyai jangkauan politik, sosial, budaya, dan teknologi. Arus ini bertujuan mewarnai kehidupan sehari-hari bangsa-bangsa dengan gaya barat. Dengan menggunakan berbagai cara, westernisasi dengan mudahnya dapat menggusur kepribadian dan karakteristik bangsa. Beberapa akibat sudah bisa mulai kita rasakan cara berpakaian: Misalnya, thank top yang di negara barat digunakan pada musin panas, akan tetapi di Indonesia malah digunakan untuk bergaya di depan umum.

Baca juga:   Tutor Sebaya dan Up Date Status sebagai Scaffold Belajar IPS

Mereka menganggap pakaian produksi negara barat tersebut sesuai dengan budaya timur yang dianut negara kita. Selanjutnyapergaulan bebas, dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat, yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk di dalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, antara lain mengkonsumsi obat terlarang, seks bebas, minuman keras, dan lain-lain.

Pada saat ini pergaulan bebas sudah pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Sering kita jumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remasa saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Akibatnya, di zaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil.

Ketiga, lunturnya nilai luhur budaya daerah di Indonesia. Di Indonesia memiliki keanekaragaman seni dan budaya (tarian, lagu, baju adat dan bahasa daerah), yang mana masing-masing memiliki keunikannya masing-masing. Seharusnya kita patut bangga dengan keanekaragaman itu. Akan tetapi dengan perkembangan zaman, budaya daerah mulai luntur nilai dan makna. Generasi muda saat ini lebih memilih untuk mengikuti trend yang ada.

Untuk itu, solusi yang perlu kita tumbuhkan pada diri generasi muda untuk menumbuhkan rasa nasionalime dan menghindarkan generasi muda dalam gaya hidup westernisasi, yakni memberikan pendidikan sejak dini tentang sikap nasionalime, selektif terhadap pengaruh globalisasi di segala aspek kehidupan, dan tak kalah pentingnya peran serta keluarga di dunia pendidikan dan pemerintah sangat diperlukan agar generasi muda tidak terbawa arus gaya westernisasi. Ayo, generasi muda tataplah masa depanmu dengan penuh semangat dan temukan ide-ide yang cemerlang untuk bangsamu tercinta. (tj3/2/aro)

Guru SMA Negeri 1 Semarang

Populer

Lainnya