Relevansi Penerapan Kurikulum Tersembunyi dalam Pembentukan Karakter Bangsa

spot_img

RADARSEMARANG.COM – KURIKULUM tersembunyi pada dasarnya adalah hasil dari suatu proses pendidikan yang tidak direncanakan. Artinya, perilaku yang muncul di luar tujuan yang dideskripsikan oleh guru. Sebagaimana kita pahami, bahwa pada hakikatnya kurikulum itu berisi serangkaian ide atau gagasan yang memiliki tujuan tertentu, yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk dokumen. Dokumen tertulis itulah yang dinamakan dengan kurikulum yang terencana.
Kenyataannya, hasil dari proses pembelajaran itu, selain sesuai dengan tujuan perilaku yang dirumuskan dalam kurikulum terencana, juga ada perilaku sebagai hasil belajar di luar tujuan yang dirumuskan. Inilah hakikat dari kurikulum tersembunyi. Yakni, efek yang muncul sebagai hasil belajar yang sama sekali di luar tujuan yang dideskripsikan.
Lantas, faktor apa saja yang dapat memengaruhi hasil yang tidak direncanakan itu? Ada dua aspek yang dapat memengaruhi perilaku sebagai hidden curriculum. Yaitu, aspek yang relatif tetap dan aspek yang dapat berubah. Yang dimaksud dengan aspek relatif tetap adalah ideologi, keyakinan, nilai budaya masyarakat yang memengaruhi sekolah. Termasuk di dalamnya menentukan budaya apa yang patut dan tidak patut diwariskan kepada generasi bangsa.
Aspek yang dapat berubah, meliputi variabel organisasi, sistem sosial dan kebudayaan. Variabel organisasi meliputi bagaimana guru mengelola kelas, bagaimana pelajaran diberikan, bagaimana kenaikan kelas dilakukan. Sistem sosial meliputi bagaimana pola hubungan sosial antara guru, guru dengan peserta didik, guru dengan staf sekolah, dan lain sebagainya.
Dalam tesis penulis berjudul Rekonstruksi Pendidikan Agama Islam Menuju Masyarakat Humanis (2010) dijelaskan bahwa kurikulum tersembunyi adalah segala sesuatu yang ada di lingkungan pendidikan atau di luar lingkungan pendidikan, yang dapat digunakan sebagai bahan dan sumber belajar, selain yang didokumentasikan.
Dikatakan tersembunyi, karena tidak secara eksplisit dituangkan dalam dokumen kurikulum tersebut. Hal ini juga tidak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Alice Meil dalam bukunya: Oianging the Curriculum a Social/Process, yang dikutip oleh Daulay. Alice mengemukakan bahwa kurikulum itu meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan, keyakinan, pengetahuan, dan sikap orang yang meladeni dan diladeni sekolah. Yakni: anak didik, masyarakat, para pendidik, dan personalia.
Pandangan penulis ini, relevan pula dengan prinsip pengembangan kurikulum. Yaitu, bahwa kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar; dengan prinsip alam takambang jadi guru,semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar, serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan.
Menurut pendapat penulis, kurikulum tersembunyi ini mencakup dua hal. Yaitu, kurikulum tersembunyi yang keberadaannya sengaja disediakan/diadakan dan relevan untuk menunjang proses belajar-mengajar agar memiliki makna yang lebih mendalam.
Tujuan kurikulum tersembunyi seperti ini, bisa berfungsi untuk meningkatkan motivasi; atau untuk menciptakan suasana yang lebih dinamis. Bisa juga untuk melakukan pembiasaan/akhlak. Misal, kepala sekolah sengaja menghadirkan penyandang disabilitas untuk tampil di depan kelas dan mempresentasikan karya-karyanya. Ada istilah sambil menyelam minum air. Pendidikan dapat menyentuh persoalan dan senantiasa aktual.
Kurikulum tersembunyi yang keberadaannya tidak sengaja dan tidak relevan bahkan tidak dikehendaki. Misalnya, perilaku seorang guru yang bertentangan dengan nilai-nilai moral yang diajarkannya. Ada istilah guru kencing berdiri murid kencing berlari. Guru kencing berlari murid kencing dari atas pohon.
Dalam mewujudkan pembentukan karakter bangsa, keberadaan kurikulum tersembunyi dalam pendidikan ini sangat relevan. Sebab,  dengan sering menggunakan kurikulum tersembunyi, maka kegiatan belajar-mengajar akan lebih aktual dan menyentuh persoalan masyarakat. Akan tetapi, dalam implementasinya, kurikulum tersembunyi ini harus dikelola sedemikian rupa, agar berdampak positif bagi perkembangan peserta didik. Langkah strategis dalam menerapkan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) antara lain dengan menerapkan pendidikan inklusi, pendidikan humanis  dan pendidikan multikultural.
Dari sisi kebijakan, Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 sebenarnya sudah mengamanatkan bahwa instansi pemerintah (termasud dunia pendidikan) wajib menerima penyandang disabilitas (tunanetra/tunarungu/tunadaksa) sekurang-kurangnya 2% dari seluruh karyawannya.
Sedangkan untuk instansi swasta sekurang-kurangnya 1%. Berdasarkan peraturan ini, maka setiap 100 orang guru/karyawan di sebuah sekolah/instansi, harus ada  2 orang penyandang disabilitas bagi instansi pemerintah; dan 1 orang penyandang disabilitas bagi instansi swasta. Jika ini diterapkan, sesungguhnya kita telah memperkaya kurikulum pendidikan ini yang ujung-ujungnya akan berdampak pada pembangunan karakter bangsa. (*/isk)
Guru SMK Negeri 1 Salam,
Kabupaten Magelang

Baca juga:   Pembelajaran Inkuiri Menuju Keterampilan Abad 21

Populer

Lainnya