Memaknai Pendidikan Model “Lukman”

spot_img

RADARSEMARANG.COM – PENDIDIKAN selalu menarik untuk dipersoalkan. Sebab, pendidikan merupakan aspek mulia bagi seluruh umat manusia. Pendidikan itu mencerdaskan bangsa. Pendidikan juga mampu meningkatkan kualitas atau mutu manusia, sehingga bermanfaat besar bagi manusia yang lain.
Cerdas adalah salah satu indikasi manusia bermutu. Rasulullah Saw pun memiliki kecerdasan (fatonah) meski beliau buta aksara, yakni tidak bisa baca tulis. Dan kecerdasan beliau dipergunakan untuk melakukan kebaikan. Namun, kita juga mengetahui ada salah satu jenis manusia yang kecerdasannya disalahartikan sehingga ia gunakan untuk ‘memeras’.
Semakin cerdas, semakin pula suka memeras manusia bahkan alam semesta. Satu dua guru suka memeras siswa atau orang tua siswa, satu dua pejabat memeras rakyatnya, bos memeras anak buahnya, yang kuat memeras yang lemah, dan lain-lain. Jika penggambarannya seperti itu, ternyata pendidikan tidak cukup hanya mencerdaskan bangsa.
Boleh dikatakan pendidikan sudah gagal bila hanya melahirkan manusia pandai tetapi memunyai hobi merusak alam dan nir akhlaq. Jadi seharusnya pendidikan tidak cukup dengan orientasi mencerdaskan, namun juga merekonstruksi akhlaq. Maka Luqman mendidik anaknya dengan ketaqwaan, dengan pengetahuan (hikmah) alias cerdas (surah Luqman: 12), dengan ahlak al-Kariimah etika (surah Luqman: 13-15, 18-19), dengan keterampilan (surah Luqman: 17) dan dengan menumbuhkan tanggung jawab (surah Luqman: 17). Itulah nasehat Luqman kepada anaknya.
Pendidikan model Luqman, kini hampir langka terjumpai. Sungguh langka, baik di lingkungan rumah (keluarga/pendidikan informal/mikro), di sekolah (pendidikan formal/meso), maupun di masyarakat (pendidikan nonformal/makro). Dan memang jarang terjumpai, baik pendidikan untuk anak-anak, kawula muda, maupun orang dewasa. Yang pasti, ada dan kita temukan secara tertulis tujuan model pendidikan Luqman itu ialah sebagaimana tercantum dalam tujuan pendidikan nasional kita. Secara eksplisit telah tertera dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yakni, peran pendidikan agama jelas sangat penting dimulai sejak usia anak-anak balita hingga belia.
Bagi anak-anak kita, agar mereka menjadi manusia bertaqwa, cerdas, serta terampil, Nabi Muhammad Saw telah menuntun umatnya dalam mendidik anak. Sejak bayi, umatnya diajarkan untuk melaksanakan akikah pada hari ketujuh, lalu memberinya nama yang baik dan indah serta ketika telah berusia enam tahun, mengajarkan mereka sopan santun/adab sebagaimana hadis riwayat Ibnu Hiban.
Selain itu, beliau juga berpesan sebagaimana riwayat Al-Hakim dan Abu Dawud, agar memerintah anak-anak kita untuk sholat pada waktu mereka telah beranjak usia tujuh tahun. Hingga hal yang sangat penting juga, hendaklah kata yang pertama kali kita perdengarkan kepada anak kita ialah laa ilaaha illallah, sebagaimana riwayat Al-Hakim, mengajari pentingnya tiga perkara, yakni cinta kepada Rasul Saw, kepada keluarga Rasul Saw, dan mengajarinya membaca dan mengkaji al-Quran sebagaimana riwayat At-Tabrani serta menyuruh mereka mengikuti perintah dan larangan Allah Swt. Sebab hal itu merupakan pelindung bagi diri kita dan mereka dari  api neraka sebagimana riwayat Ibnu Jarir dan lainnya.
Semua pesan Nabi Muhammad Saw tersebut bermakna pendidikan agama bagi anak-anak agar bertauhid, berahlak baik, beribadah, dan bermuamalah. Itulah pesan beliau kepada kita, kepada orang tua anak-anak dari semua golongan manusia. Tidak lain, agar anak-anak bisa menghafal, meniru/meneladani contoh-contoh, serta membiasakannya dalam penghidupan sehari-hari.
Untuk itu, pendidikan agama, baik yang informal di lingkungan keluarga, formal di sekolah, dan non formal dalam masyarakat, hendaklah mengikuti pentujuk Allah dalam surah Luqman: 12-19 dan hadits sebagaimana telah penulis tuangkan. Yakni agar mereka mendalami, menghayati, dan memahami Islam sehingga beriman, bertakwa, taat salat, dan mengetahui hikmahnya. Mampu menjadi imam salat, memimpin zikir dan doa, membaca Alquran dan menyalinnya dengan benar. Serta mampu menghayati kandungan (hazanah) maknanya serta mengamalkannya, mengembangkan ahla mulia dan amal saleh, selalu mensyukuri nikmat, bermuamalah dalam kehidupan bermasyarakat, cinta tanah air, dan gemar memelihara lingkungan sekitarnya.
Hemat penulis, itulah misi kurikuler yang hendaknya diterapkan dalam pendidikan secara umum dan terkhusus pendidikan agama menjadi misi, hablum min Allah, hablum min Annaas dan hablu min al-‘aalam. Sementara pendidikan agama bagi kawula muda terkena oleh pesan Rasulullah yang artinya, “Didiklah anak-anakmu, sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, dan bukan untuk zamanmu”. Dengan kata lain, kawula muda –sebagai peserta didik– hendaknya diberi kemampuan pula untuk menghadapi tantangan yang semakin berat pada masa mendatang ketika mereka dewasa. Mampu menundukkan masa depan, menjinakkannya, mencetak gold zaman, menjawab masalah kehidupan mendatang yang tidak dapat diperkirakan sekarang.
Maka pendidikan agama sebagaimana pesan Rasulullah Saw tersebut, hemat penulis pikir memiliki misi yakni menciptakan manusia masa depan yang kreatif dan inovatif. Kreatifitas jauh lebih penting daripada sekadar memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA). Karena yang kita perlukan sekarang adalah kreativitas bagaimana menggunkan pendidikan untuk menundukkan masa depan. (us/aro)
Guru PAI di SMP Negeri 32 Semarang

Baca juga:   PPK Songsong Generasi Emas Bangsa

Populer

Lainnya