Keragaman Manusia dan Konsep Pendidikan Agama

spot_img

RADARSEMARANG.COM – SABTU, 17 Februari 2018, Universitas Amikom me-launching sejumlah hasil penelitian mahasiswanya. Di antaranya, HP android untuk tunanetra, kacamata, dan—Insya Allah— katanya sepatu yang dilengkapi alat sensor. Dalam jarak 3 meter, sensor bisa mendeteksi benda di depannya. Sebelumnya, pada 2 Februari 2018, UST Jogjakarta bersama PPDI DIY melakukan penandatanganan kerjasama pembuatan alat bantu dan fasilitas kamar mandi untuk pengguna kursi roda. Lain halnya di SMK Negeri 1 Salam, kehadiran guru tunanetra diharapkan dapat menjadi hidden kurikulum (kurikulum tersembunyi) yang dapat menginspirasi seluruh siswa untuk semangat dalam meraih karier di masa mendatang.

Beberapa fakta di atas membuktikan bahwa perbedaan dapat mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan ini pula, memastikan bahwa perbedaan merupakan rahmat Tuhan. Melalui perbedaan, Tuhan hendak mengajari manusia tentang berbagai ilmu pengetahuan dan berbagai persoalan kemanusiaan. Dalam Q.S Al-Maidah ayat 48 dijelaskan: “Seandainya Allah menghendaki, manusia akan dijadikan satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji manusia, dan agar manusia berlomba-lomba dalam kebaikan”.

Dari ayat tersebut jelas bahwa perbedaan bukan kebetulan. Melainkan, benar-benar desain Tuhan. Tujuannya, agar manusia berilmu dan menggunakan ilmunya untuk kepentingan manusia. Cara Tuhan mengajari manusia adalah dengan menciptakan perbedaan dan menurunkan wahyu kepada para Nabi/Rasul. Wahyu tersebut berisi berbagai disiplin ilmu, inspirasi, dan motivasi. Selanjutnya Nabi/Rasul mewariskannya kepada para ulama (guru). Dalam suatu hadits dijelaskan bahwa ulama (guru) adalah pewaris para Nabi. Dengan demikian, tanggung jawab mengajarkan ilmu dan persoalan kemanusiaan dengan segala keragamannya, terletak di pundak para guru.

Baca juga:   Pembelajaran Kontekstual dan Perilaku Demokratis Siswa

Persoalannya, mengapa di antara kita masih banyak yang tidak menyadari pentingnya perbedaan? Padahal, kita sudah dididik paling tidak 9 sampai 12 tahun. Jawabannya, bisa jadi inilah salah satu indikator kegagalan pendidikan Indonesia. Kegagalan pendidikan ini disebabkan kurikulumnya belum memuat masalah kemanusiaan dengan segala keragamannya. Akibatnya, pendidikan justru melahirkan sikap intoleransi, diskriminasi, dan dehumanisasi.

Seorang pelajar yang belum memahami hakikat manusia dengan segala keragamannya, akan menampilkan karakteristik sombong, angkuh, dan saling mem-bully. Ujung-ujungnya, memicu terjadinya tawuran pelajar. Menurut penulis, masalah keragaman manusia sangat penting untuk ditanamkan dalam dunia pendidikan. Hadits Nabi menyebutkan bahwa siapa saja manusia yang mengenal diri (najs)-nya, maka ia akan mengenal Tuhan (Rabb)-nya.

Berkenaan dengan hal ini, maka kurikulum untuk SD hendaklah memuat masalah-masalah kemanusiaan tersebut, dimulai dengan memperkenalkan tentang asal kejadian manusia; dan kondisi manusia tersebut setelah berwujud manusia dan hidup di alam ini sampai ia kembali ke tanah (mati).

Hal ini dipandang sangat konkret, karena dapat ditemui di manapun dan kapan pun. Sehingga sangat mudah untuk dijadikan sebagai bahan ajar. Sedangkan untuk kurikulum SMP/MTS, sebaiknya mengenalkan hakikat manusia, tujuan hidup, dan tugas-tugas manusia secara umum dan sederhana. Ini karena usia SMP/MTS sudah memasuki usia remaja dan dapat berpikir baik secara simbolis, maupun abstrak.

Adapun kurikulum SMA/MA/SMK, masalah kemanusiaan, sebaiknya lebih diperdalam. Menyangkut pembagian manusia, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Termasuk juga tugasnya, baik sebagai individu, anggota masyarakat, maupun sebagai makhluk Tuhan. Hal ini karena mereka sebentar lagi akan memasuki usia dewasa dan menjadi bagian dari masyarakat.

Baca juga:   Belajar Aljabar Menyenangkan dengan “Market Aproach”

Memang pendidikan sekarang sudah mulai mengarahkan orientasinya kepada optimalisasi potensi. Tetapi, masalah keragaman manusia belum terakomodasi. Padahal, dengan mengajarkan masalah keragaman manusia—tentu dengan segala kekurangan dan kelebihannya—maka akan mampu menyadarkan peserta didik kepada jati dirinya.

Selama ini, buku-buku pelajaran baru mensosialisasikan bahwa manusia adalah makhluk yang mulia. Dia dijadikan Tuhan dari tanah. Akan tetapi, tidak secara detail dijelaskan bahwa manusia itu sangat beragam. Ada yang kaya, miskin, pandai, kurang pandai. Secara fisik, ada yang gemuk dan kurus.

Bahkan, ada yang kelihatan sempurna dan ada yang kelihatannya kurang sempurna. Semua ini terjadi sama sekali bukan kemauan yang bersangkutan. Melainkan, sengaja diciptakan Tuhan untuk beberapa tujuan. Yaitu, pertama, sebagai bahan pelajaran dan motivator bagi manusia lainnya. Kedua, sebagai pembanding antara manusia yang satu dengan yang lain, sehinga di antara mereka saling mengenal dan memahami.

Ketiga, sebagai ladang amal bagi yang mempunyai kelebihan untuk membantu kekurangan manusia lainnya. Keempat, sebagai sarana latihan untuk menahan diri agar tidak sombong dan takabur bagi yang kelihatannya lebih sempurna dan tidak minder dan rendah diri bagi yang kelihatannya memiliki kekurangan.

Untuk itu, diperlukan konsep pendidikan yang berangkat dan berorientasi pada potensi dasar manusia dengan segala keragamannya. Sebab, bagaimanapun sederhananya suatu proses pendidikan, ultimate goal-nya haruslah diarahkan pada tujuan yang mulia. Yakni, membuat manusia benar-benar menjadi manusia yang dapat memanusiakan manusia. (*/isk)

Populer

Lainnya