Mind Mapping, Model Pembelajaran yang Menyenangkan

spot_img

BAHASA Jawa bisa menjadi bahasa asing di daerahnya sendiri. Anak-anak sekarang lebih suka menggunakan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris dalam berbicara. Mereka kurang familiar dengan kosa kata Bahasa Jawa. Ketika kegiatan pembejaran Bahasa Jawa banyak anak yang menjawab atau bertanya menggunakan Bahasa Indonesia. Ironis memang apabila anak-anak pada ‘zaman now’ kurang memahami Bahasa Jawa. Padahal mereka lahir dan dibesarkan di tanah Jawa.

Pembelajaran sekarang ini tidak akan lepas dari literasi, khususnya membaca. Minat baca di Indonesia sangat rendah dibandingkan dengan negara lain, khususnya Finlandia. Indonesia menduduki peringkat ke 60 dari 61 negara. Minat baca di Indonesia baru 0,01 persen. Menumbuhkan minat baca memang sulit. Senang membaca itu harus melalui proses pembiasaan. Apalagi membaca bacaan yang kurang bisa dipahami karena tersandung masalah kosa kata.

Pelajaran Bahasa Jawa tidak akan lepas dari bacaan. Ketika disuguhkan bacaan peserta didik kurang antusias. Mereka lebih senang bercakap-cakap dengan temannya daripada membaca. Suasana kelas menjadi kurang kondusif. Ketika ditanya mengapa mereka tidak membaca, maka kata yang terlontar dari mereka adalah tidak paham dengan isi bacaan. Apabila ditanya kata apa yang tidak tahu artinya, akan dijawab semuanya.

Baca juga:   Pembelajaran Kemagnetan IPA Asyik Selama Pandemi dengan Video Tik Tok

Penyebab ketidakberhasilan pembelajaran Bahasa Jawa adalah kosa kata yang kurang dipahami. Guru menggunakan metode konvensional atau ceramah yang mengakibatkan peserta didik jenuh. Dianggap tidak penting, karena tidak ikut dalam Ujian Nasional maupun USBN. Sehingga peserta didik dengan setengah hati dalam mengikuti pelajaran.

Senang Membaca

Sebagai pendidik, maka berkewajiban menggugah kembali agar mereka senang terhadap pelajaran Bahasa Jawa. Pelajaran Bahasa Jawa tidak bisa lepas dari bacaan, maka peserta didik harus senang membaca bacaan berbahasa Jawa. Menjadi guru harus kreatif dalam memberikan pembelajaran. Kurikulum 2013 menuntut para guru untuk lebih inovatif dengan menggunakan model pembelajaran. Mind Mapping (peta pikiran) alternatif model pembelajaran untuk menanamkan materi agar selalu diingat dan dipahami peserta

Model pembelajaran Mind Mapping mengajak siswa untuk berpikir dan berkreasi. Peserta didik tidak akan jenuh dengan materi yang ada. Mereka tidak dihadapkan pada bacaan terus menerus. Namun mereka diajak untuk membuat peta pikiran sesuai dengan keinginan dan kreasi mereka. Hal terpenting dalam mind mapping peserta didik harus mengetahui kata kunci.

Langkah pembelajaran dari Mind Mapping adalah peserta didik dibuat kelompok kecil 3-4 orang agar efektif. Disediakan kertas kosong dan pensil berwarna-warni. Mereka membaca materi kemudian berdiskusi sambil membuat peta pikiran. Kegiatan membuat peta pikiran diawali dengan menuliskan kata kunci di tengah kertas. Kata kunci dan kata penjelas lainnya dihubungkan dengan garis. Apabila masih menerangkan kata utama maka garis hubung dibuat tebal, garis tipis untuk kata penjelas lainnya.  Membuat Mind Mapping diserahkan kepada peserta didik sepenuhnya. Mereka bebas berkreasi sesuai keinginannya. Agar lebih menarik garis hubung dibuat berwarna-warni. Bisa juga ditambah kotak, lingkaran atau gambar lainnya yang sesuai dengan materi pembelajaran.

Baca juga:   Lima Hari Sekolah, Kurang Relevan

Pada kegiatan pembelajaran melibatkan unsur melihat dengan membaca, mendengar dengan diskusi, melakukan dengan menulis maka akan cepat diserap serta diingat lebih lama. Sesuatu yang tidak menarik pasti akan membosankan. Sesuatu yang baru dan menyenangkan pasti akan menarik. Mind Mapping akan menggiring peserta didik menemukan hal esensial yang dibaca. Mereka tidak sadar akan menikmati bacaan serta dapat meringkas materi. Membaca dibarengi dengan kegiatan menulis dan diskusi pasti tidak akan jenuh. (*/aro)

Guru SMP Negeri 1 Kertek, Wonosobo

Populer

Lainnya