Skenario Baru Bagi Implementasi Asesmen Kinerja pada Pembelajaran

spot_img

ASESMEN kineja direkomendasikan oleh para ahli sebagai penilaian otentik pada setiap pembelajaran Bahasa Jawa. Besaran dalam penilaian kemampuan tersebut belum dimanfaatkan oleh guru. Banyaknya jumlah siswa, tingginya beban mengajar dan keterbatasan waktu mengakibatkan asesmen tersebut belum dapat dilaksankan di sekolah.

Rumitnya prosedur asesmen kinerja yang ditawarkan oleh para ahli, sehingga sulit dipelajari dan dilaksanakan pada pembelajaran sehari-hari. Pada saat ini , tes masih dijadikan sebagai penilaian utama pada pembelajaran. Studi mendalam selama lima tahun menghasilkan suatu skenario baru bagi implementasi asesmen kinerja yang sesuai dengan konteks pembelajaran sehari-hari di sekolah.

Pengambilan keputusan tentang siswa pada pembelajaran biasanya berupa nilai tes. Padahal keseluruhan hasil belajar itu tidak hanya menggunakan tes saja. Standar asesmen pembelajaran sains juga telah mengalami pergeseran penekanan dari “yang mudah dinilai” menjadi “yang penting dinilai” (National Reasearch Council/NRC), 1996). Penilaian pembelajaran lebih ditekankan pada pemahaman dan penalaran ilmiah. Suatu penilaian otentik diperlukan untuk penilaian kemampuan (ability) siswa dalam situasi nyata/real life situations (http:www.Usoe.k12.ut.us/curr/science/Perform/PAST5.htm).

Pembelajaran sains dewasa ini masih kurang memberi wawasan berpikir dan kurang mengembangkan kemampuan kerja ilmiah. Padahal pembelajaran itu, semestinya dapat mengembangkan kemampuan memecahkan masalah-masalah lingkungan dan wawasan berpikir untuk kehidupan masa depan yang baik (Rutherford &Ahlgren, 1990; Rustaman, 2006).

Baca juga:   Pemutaran Video Mudahkan Siswa Menyusun Teks Eksplanasi yang Kronologis dan Sesuai Fakta

Kerja Ilmiah

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) memasukkan kerja ilmiah ke dalam lingkup bahan kajian. Kemampuan inkuiri menjadi aspek penting penilaian. Kemampuan inkuiri menurut Beyer (1971) adalah suatu interaksi kompleks sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan.

es tradisional (objective test) tidak dapat digunakan untuk menilai penalaran ilmiah yang mendalam. Tes objektif juga sulit mengukur kemampuan higher ordrr thingking yang dituntut pada pembelajaran (http:www. Usoe.k12.ut.us/curr/science/Perform/PAST5.htm). Dengan demikian, tes objektif kurang sesuai untuk mengukur pencapaian seluruh tujuan penting kurikulum di sekolah.

Penggunaan asesmen kinerja di sekolah masih sangat terbatas (Wulan, 2003-2007). Fakta tersebut bersesuaian dengan hasil-hasil penelitiannya (Gabel, 1993; Banta et al., 1996l; Winahyu, 1993; Ramdi, 1999; Iskandar 2000). Dari hasil penelitian terungkap tentang kesulitan guru dalam melaksanakan asesmen kinerja di sekolah.

Pada umumnya, guru menggunakan asesmen kinerja hanya pada ujian akhir untuk menentukan kelulusan. Hasil penelaahan menemukan bahwa konsep dan prinsip asesmen kinerja yang ditawarkan para ahli kurang sesuai dengan kebutuhan guru dan kondisi sekolah. Rumitnya aturan dan prosedur yang ditawarkan para ahli asesmen menyebabkan konsep tersebut sangat sulit dipelajari dan sulit diaplikasikan. Dalam melaksanakan asesmen kinerja, guru dapat berkonsentrasi hanya pada siswa yang berkemampuan rendah dan tinggi saja sehingga siswa menjadifokus perhatian menjadi jauh lebih sedikit. Guru dapat memodifikasi asesmen kinerja skenariobaru untuk berbagai keperluan, misal untuk menilai diskusi kelas.

Baca juga:   Menulis Cerita Pendek Mudah Berdasarkan Pengalaman

Hasil-hasil riset tentang asesmen kinerja di sekolah juga kurang berpihak kepada kondisi guru di sekolah. Pengambilan kesimpulanhasil penelitian tersebut umumnya tidak memperhatikan konteks atau setting khas sekolah di Indonesia. Akhirnya, hasil-hasil riset tersebut tidak bermanfaat bagi guru.

Langkah utama yang perlu dilakukan dalam reformasi asesmen kinerja di Indonesia adalah menyederhanakan konsep, prinsip, dan prosedur asesmen. Riset-riset asesmen di masa datang perlu mengacu pada konsep asesmen yang lebih praktis Apabila riset-riset tersebut masih mengacu pada konsep asesmen yang rumit, maka hasil-hasil tersebut hanya akan berakhir di perpustakaan karena sulit diaplikasi. (*/aro)

Populer

Lainnya