Kepemimpinan Transformasional, Pengaruhi Dunia Pendidikan

spot_img

MASALAH kepemimpinan telah lama menjadi pembicaraan hangat dalam dunia pendidikan, terlebih lagi di negara berkembang, seperti Indonesia. Berbagai model kepemimpinan telah ditawarkan, meskipun tampaknya belum membuahkan hasil yang diinginkan. Model kepemimpinan seperti apakah yang dirasa paling cocok (compatible) dalam membawa lembaga pendidikan (PAUD-PT) ke arah kemajuan disesuaikan dengan konteks di lapangan?

Berbagai kendala seperti perbedaan budaya, mindset, dan keterbelakangan pemikiran ditengarai menjadi berbagai kegagalan dalam menerapkan berbagai konsep kepemimpinan dalam pendidikan. Diskursus ini diharapkan mendapat tanggapan yang sepadan dari berbagai pihak terutama pengambil kebijakan (pemerintah) agar proses mendidik generasi baru bangsa menunjukkan hasil yang signifikan.

Kepemimpinan yang baik, efektif, dan andal dapat membawa lembaga pendidikan ke arah yang lebih berkualitas, yakni lembaga pendidikan yang mampu secara mandiri menghasilkan manusia-manusia baru sebagaimana yang diharapkan. Manusia baru yang dimaksud adalah sosok pribadi yang telah berubah dari tidak baik menjadi baik, dari bodoh menjadi cerdas, dari biadab menjadi beradab. Begitu pula sebaliknya, tanpa adanya kepemimpinan yang andal dan memadai, maka mustahil  tujuan pendidikan yang telah dicanangkan akan tercapai secara optimal.

Pendidikan tanpa memunculkan perubahan positif pada diri pelakunya, maka laksana mendirikan bangunan dengan pondasi yang rapuh, yang cepat atau lambat akan menimpa para pelaku yang terlibat di dalamnya (Kotter  dalam Yayat Hidayat dan Maufur, 2009:13).

Capaian-capaian hasil pendidikan yang dibangun dari dasar yang rapuh adalah output yang menipu, bukan capaian hasil pendidikan yang sesungguhnya.  Pendidikan harus menghasilkan manusia-manusia baru yang penuh idealisme dan berpandangan ke depan (visioner), bukan manusia-manusia yang pragmatis, yang hanya mengikuti arah perubahan angin dan hanya mengukur keberhasilan dari sejumlah penguasaan materi.

Baca juga:   Peran yang Terlupakan

Keteladanan
Dalam dunia pendidikan kita sering mendengar pepatah bijak yang berkaitan dengan contoh-contoh nyata perbuatan sebagai materi pembelajaran. Satu contoh pepatah yang berbunyi “Satu perbuatan (keteladanan) lebih efektif daripada seribu kata-kata,” demikian kata-kata bijak yang sering kita dengar. Namun tampaknya sesanti ini masih muncul bagai angin lalu, terlihat dari sangat sedikitnya orang-orang memahami sekaligus menjadikan muatan moral ini sebagai pedoman bersikap dan bertingkah laku.

Keteladanan merupakan suatu sikap mental yang diperagakan sebagai satu perbuatan yang darinya kita semua mengambil pelajaran. Di dalam keteladanan terdapat mentalitas pengubah yang justru lebih efektif daripada banyak kata-kata sebagai bentuk pembinaan.
Keteladanan adalah salah satu  mentalitas transformer yang menjadi prasyarat perubahan menuju perbaikan.

Dalam mentalitas transformer setidaknya terdapat 4 nilai unggulan, yakni: Pertama, Idealized Influence, yakni perilaku pemimpin yang memiliki keyakinan diri dan idealisme yang kuat, memiliki komitmen tinggi, mempunyai visi yang jelas, tekun, pekerja keras, militan, konsisten mampu menunjukkan ide-ide penting, besar dan agung, serta mampu menelurkannya pada anggota organisasi pendidikan, mampu mempengaruhi dan menimbulkan emosi-emosi yang kuat para anggota organisasi. Keyakinan diri ini muncul dari pemahaman nilai-nilai yang diyakini kebenarannya, baik dari nilai agama, etika-moral, maupun tradisi.

Kedua, Inspirational Motivation, yakni perilaku pemimpin transformasional harus mampu menginspirasi, memotivasi, dan memodivikasi, perilaku para anggota organisasi pendidikan untuk mencapai kemungkinan tak terbayangkan, mengajak anggota organisasi pendidikan memandang ancaman sebagai kesempatan untuk belajar dan berprestasi.

Baca juga:   Memformat Kebosanan Pembelajaran IPS

Ketiga, Intellectual Stimulation, pada tahap ini pemimpin transformasional berupaya untuk meningkatkan kesadaran para pengikut terhadap masalah diri dan organisasi serta upaya mempengaruhi untuk memandang masalah dari perspektif yang baru untuk mencapai sasaran organisasi, meningkatkan intelgensi, rasionalitas, dan pemecahan masalah secara seksama, dan

Keempat, Individual Consideration, dalam tahap ini pemimpin transformasional berperan sebagai perenung, pemikir, dan terus mengidentifikasi kebutuhan karyawannya, mengenali kemampuan karyawan, mendelagasikan wewenangnya, memberikan perhatian, membina, membimbing, dan melatih para pengikut secara khusus dan pribadi agar dapat mencapai sasaran organisasi secara efektif (Rahmi, 2014:146-178).

Mentalitas kepemimpinan gaya transformasional ini mengandung motivasi mendobrak segala kebuntuan yang terjadi dalam lembaga atau organisasi apapun sifat dan karakteristiknya, baik profit, sosial, maupun nonprofit serta berusaha secara terus-menerus memperbaikinya. Pijakan nilai-nilai yang dijadikan acuan bersama dalam menggerakan lembaga atau organisasi tetap aktual untuk membawa perubahan ke depan yang lebih baik

Kepemimpinan pendidikan pada satuan pendidikan baik level dasar dini (PAUD-TK), dasar (SD), menengah (SMA/SMK), serta perguruan tinggi (universitas) menekankan adanya model kepemimpinan untuk membawa keluar lembaga atau organisasi dari kejumudan (stagnasi). Pola kepemimpinan yang cocok dengan lingkungan lembaga pendidikan sangat menentukan maju mundurnya lembaga, dan gaya kepemimpinan transformasional menjadi alternatif yang menjanjikan. (*/aro)

Populer

Lainnya