No Handphone No Gadget, Gaptek atau Peduli Anak?

spot_img

DEWASA ini perkembangan teknologi begitu pesat, handphone dan gadget menjadi barang biasa yang “wajib” dimiliki setiap orang. Didukung dengan mudahnya fasilitas internet, seakan dunia terasa di genggaman. Dengan semua fasilitas itu, ,maka kita dengan mudahnya menghubungi orang di tempat jauh dan memperoleh segala informasi yang dibutuhkan hanya dalam sekian detik.

Tidak dipungkiri berbagai keuntungan kita peroleh dengan hadirnya teknologi tersebut. Namun, tanpa disadari efek negatif yang bersifat laten ikut menghampiri kita. Berbagai risiko kesehatan maupun psikis rentan kita peroleh saat kita tidak bisa membatasi diri dalam menggunakannya, terutama untuk anak yang dalam masa perkembangan.

Seorang anak memiliki fase perkembangan emas untuk kecerdasannya, meliputi 3 tahapan perkembangan otak, mulai dari otak primitif (action brain), otak limbik (feeling brain) dan neokorteks (thought brain/otak pikir).

Otak primitif, mengatur fisik untuk bertahan hidup, mengelola gerak refleks, memantau fungsi tubuh, dan memproses informasi yang masuk pengidraan. Otak limbik, memproses emosi seperti rasa suka, cinta dan benci, merupakan penghubung antara otak pikir dan otak primitif.

Otak pikir, merupakan bagian otak yang paling objektif, menerima masukan dari otak primitif dan otak limbik. Otak pikir juga merupakan tempat bergabungnya pengalaman, ingatan, perasaan, dan kemampuan berpikir untuk melahirkan gagasan dan tindakan. Mielinasi syaraf otak berlangsung secara berurutan, mulai dari otak primitif, otak limbik, dan otak pikir.

Baca juga:   Karakter Orang Tua Pengaruhi Unggah – Ungguh Anak

Jalur syaraf yang makin sering digunakan membuat mielin semakin menebal. Makin tebal mielin, makin cepat impuls syaraf atau perjalanan sinyal sepanjang “urat” syaraf. Karena itu anak yang sedang tumbuh dianjurkan menerima masukan dari lingkungan sesuai perkembangannya.

 Generasi Individualis

Ketika orang tua memberikan HP maupun gadget kepada anak, maka anak lebih suka berlama-lama bermain dengan kedua benda itu daripada dengan lingkungan sosialnya. Alih-alih memberikan fasilitas kepada anak, justru kita menempatkan anak dalam risiko dan kondisi yang tidak kita harapkan. Dengan memberikan fasilitas HP maupun gadget terlalu dini, berarti kita menciptakan generasi mendatang yang autis dan individualis.

Coba kita bertanya pada diri sendiri, kapan kita mulai mengenalkan HP kepada putra-putri kita? Sering kita lihat, bahkan mungkin kita alami seorang bayi diberi HP supaya tidak menangis agar bundanya dapat melakukan aktivitas lain tanpa terganggu. Di lain waktu, kita juga melihat anak belum genap berusia 2 tahun, sudah lihai mengoperasikan HP maupun gadget, untuk sekadar melihat video, main game, atau melihat Youtube.

Dan kalau kita perhatikan lebih jauh, anak – anak yang terbiasa memegang HP atau gadget, akan merasa “galau” jika dua benda tersebut jauh darinya. Anak bisa marah dan menangis sejadi-jadinya. Sadarkah bapak-ibu jika anak-anak kita menjadi kecanduan dan kita justru merasa bahagia karena aktivitas kita tidak terganggu sementara anak mulai hidup dalam dunianya sendiri.

Baca juga:   Teknologi Augmented Reality untuk Kelas Inspiratif

Lebih memprihatinkan lagi, bahwa kecanduan ini tidak bisa hilang begitu saja. Ketika anak mulai mengenyam pendidikan, mereka tidak bisa fokus untuk belajar. Tidak hanya perkembangan mentalnya yang terganggu, perkembangan fisiknya pun juga terganggu. Banyak anak sekarang yang mengalami gangguan penglihatan, padahal mata adalah jendela dunia. Dan banyak juga anak sekarang yang sulit mengendalikan emosinya, mudah marah, tidak sabaran dan kesulitan untuk bekerja dalam kelompok. Anak tidak suka repot, suka sesuatu yang serba instan dan mudah putus asa.

Jadi, mari kita pikirkan lagi, sejauh mana anak membutuhkan fasilitas ini? Dan sejauh mana kita harus membatasi penggunaannya?

Sebagai orang tua, tentu kita harus bijak demi kebaikan anak, dengan memberikan fasilitas yang tepat di usia yang tepat. Atau kita bisa memberikan fasilitas sejenis yang lebih bisa kita kontrol dengan memberikan fasilitas internet melalui PC atau laptop jika itu memang untuk kepentingan belajarnya. Jangan takut dianggap gaptek, jangan berikan fasilitas itu terlalu dini, kalau kita tidak peduli, siapa lagi? (*/aro)

Populer

Lainnya