Keunikan Pembelajaran Seni dalam Kurtilas

spot_img

PROBLEMATIKA pendidikan seni budaya di sekolah terletak pada berbagai bidang antara lain penerapan kurikulum 2013, sarana prasarana yang dimiliki sekolah dan ketersediaan sumber daya manusia (SDM). Penerapan kurikulum 2013 mempunyai peran sangat besar terhadap pengembangan softskill atau bakat yang dimiliki setiap anak didik.

Perjalanan kurikulum pendidikan seni di Indonesia mengalami banyak perubahan. Pada 1967 hingga 1974, kurikulum pendidikan seni lebih mengacu pada pendidikan seni dianggap sebagai disiplin ilmu yang dipelajari sebagai sarana pendidikan. Kurikulum berubah konsep pada 1975 hingga 1994 yang lebih menggangap seni sebagai sarana untuk mengembangkan potensi anak atau softskill peserta didik.

Kemudian muncul kurikulum KBK (kurikulum berbasis kompetensi) pada 1994 sampai dengan 2004. Kurikulum KBK merupakan konsep gabungan anatara seni dianggap sebagai disiplin ilmu dan sarana menggembangkan potensi anak. Berikutnya, kurikulum KTSP pada 2006  yang memiliki konsep menumbuhkembangkan potensi anak melalui apresiasi dan kreasi, serta menumbuhkembangkan sikap kesadaran keberagaman seni budaya yang multikurtural.

Yang terbaru, muncul kurikulum 2013 yang masih menganut konsep yang sama, tetapi kompetensi dipilah menjadi sikap dalam berkegiatan, pengetahuan dalam mengapresiasi dan kegiatan berkarya.

Baca juga:   Revitalisasi Lima Nilai Karakter Bagi Siswa dan Guru

Pada dasarnya setiap anak memiliki softskill masing-masing, baik disadari oleh guru atau tidak, hal ini sering mempengaruhi proses pembelajaran dan proses penilaian. Apalagi di kurikulum 2013 atau lebih dikenal dengan kurtilas, mata pelajaran seni yang memuat softskill peserta didik lebih banyak proses praktik yang mengacu pada hasil tanpa mengindahkan proses estetis seni.

Kurikulum 2013 memuat banyak penilaian proses yang bersifat kognitif dan konseptual. Hal ini terlihat dari penilaian yang terbagi atas penilaian pengetahuan (penilaian yang bersifat kognitif) dan keterampilan (praktek, proyek, produk, dan portofolio), sehingga peserta didik lebih banyak mengeksplorasi materi menuju hasil tanpa harus banyak berkutat di konseptual yang menyita waktu belajar.

Melihat hal tersebut, guru hanya sibuk dan fokus secara administrasi konseptual dengan sedikit melihat softskill yang dimiliki setiap peserta didik berbeda-beda. Padahal pengembangan softskill anak didik akan tumbuh dan berkembang dengan baik apabila guru mampu mengeksplorasi bakat anak yang tepat

Banyaknya model pembelajaran membuat guru seni budaya banyak referensi untuk mengeksplorasi materi supaya peserta didik mampu menyerap materi dengan baik yang mampu mengcover semua bentuk penilaian tanpa melihat perbedaan bakat anak. Sebagai contoh, anak yang berbakat di bidang musik akan mengalami kesulitan pada materi seni budaya di bidang seni tari, begitu pula sebaliknya.

Baca juga:   Belajar Penjumlahan Bilangan Bulat dengan Kartu Remi Bilbul

Guru harus mampu memilah dan memilih desain pembelajaran untuk mata pelajaran seni budaya yang tepat, yang mampu mengcover semua aspek penilaian dan mampu membantu menumbuhkembangkan softskill anak sesuai dengan bakat masing- masing. Seperti yang berbakat di bidang seni tari, dieksplorasi dengan penciptaan karya seni tari. Sedangkan yang berbakat di bidang seni musik, dieksplorasi di bidang penciptaan karya seni musik. Yang berbakat di bidang seni rupa, dieksplorasi dengan penciptaan karya seni rupa, kemudian dipadukan menjadi satu pertunjukan. Materi harus disesuaikan dengan kompetensi kurikulum 2013, sehingga semua tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai. (*/aro)

Populer

Lainnya