Pembelajaran Kontekstual dan Perilaku Demokratis Siswa

spot_img

MATA pelajaran PPKn menekankan pada nilai dan pengalaman belajar dalam bentuk perilaku yang diwujudkan dalam hidup sehari-hari. Kenyataannya, PPKn dilaksanakan terkendala adanya masukan lingkungan, kondisi, dan situasi kehidupan sosial, ekonomi, politik dan sebagainya. Untuk melaksanakan budaya demokrasi Indonesia, perlu pemahaman mendalam dari teori dan konsepnya supaya dapat meningkatkan hasil belajar sekaligus berperilaku demokratis.

Pembelajaran dikaitkan dengan kenyataan hidup siswa yang dikemas guru secara bertahap dan sambung-menyambung untuk membangun pengetahuan baru berdasar pengetahuan sebelumnya. Konsep belajar, mengajar, dan pembelajaran saling berhubungan. Belajar menunjukkan pada apa yang harus dilakukan siswa. Mengajar menunjukkan pada apa yang dilakukan guru, dan  pembelajaran merupakan proses yang terjadi dalam belajar-mengajar.

 Pembelajaran kontekstual merupakan tahapan yang mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Belajar kontekstual dilandasi teori Jerome Bruner (Penemuan). Peserta didik berusaha sendiri mencari pemecahan masalah beserta pengetahuan yang menyertainya. Akhirnya, mendapatkan pengetahuan yang benar-benar bermakna bagi dirinya. Makna yang berkualitas adalah makna kontekstual yang berarti “teralami” oleh peserta didik, yakni menghubungkan materi ajar dengan lingkungan sosial dan personal (Elain B. Johnson: 2002) sebagai bekal mereka di masa depan.

Baca juga:   Mudahnya Belajar Teks Formulir dengan Metode NHT

Perlu desain pembelajaran yang menghubungkan memori lama dengan materi baru, sehingga belajar menjadi penuh makna (meaningful learning). Giambattista Vico dalam Riyanto (2009) mengemukakan bahwa orang hanya dapat benar-benar memahami dari apa yang dikonstruksinya sendiri. Guru mengondisikan pembelajaran siswa untuk berpikir kritis, sistematis, dan logis, dengan berpikir sendiri, serta mengoptimalisasi belajar.

Pertama, pembelajaran dimulai dengan menunjukkan kenyataan bagaimana budaya demokrasi Indonesia berjalan. Contoh pemilihan ketua kelas, ketua OSIS, DPR, presiden, dan pilkada dan kenyataan yang mungkin terjadi pada sidang isbad penentuan hari pertama puasa lalu.

Kedua, menggali pengetahuan dan keingintahuan dengan bukti siswa bertanya tentang adanya golput dalam pimilu dan perbedaan hari pertama puasa untuk sesama golongan agama Islam.

Ketiga, pembentukan sikap sebagai hasil perubahan nilai dan karakter. Terbukti, secara ekstrim siswa mengemukakan bahwa sekarang ini hak pilih aktif tidak efektif lagi, karena akan terjadi gagalnya  pemilu dengan adanya golput. Diakhiri penilaian nyata, di mana siswa menyebutkan kewajibannya dalam budaya demokrasi di sekolah dan menanggapi seandainya WNI tidak berpartisipasi dalam pemilu dan sidang isbat. Ada respons “ternyata tanpa saya sadari saya merupakan bagian dari pengambilan keputusan yang diambil negara (pemilos, pilkada, dan sidang isbat).”

Baca juga:   Penggunaan Flashcard untuk Pembelajaran Kosa Kata Bahasa Inggris

Apa yang terjadi jika rakyat apatis/tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan publik dalam pemerintahan? Jika keputusan publik ditentukan sepihak pemerintah, menandakan tidak sempurnanya fungsi masyarakat dalam pelaksanaan budaya demokrasi. Budaya demokrasi menuntut adanya partisipasi rakyat. Lebih luas bahwa rakyat adalah pemegang kekuasaan dalam pemerintahan.

Kebahagiaan tersendiri mendengar pernyataan siswa: “Saya dapat memahami dengan jelas apa saja perilaku yang demokratis ala Pancasila yang tanpa saya sadari sebenarnya sudah saya lakukan sehari-hari baik di rumah, di sekolah dan di masyarakat, bahkan meskipun saya tidak berpartisipasi langsung dalam pemilos dan sidang isbat, saya tetap harus berperilaku demokratis untuk menyukseskannya. Karena langsung atau tidak berpengaruh pada semua siswa/warga negara termasuk saya.”

Memastikan guru mendesain pembelajaran sesuai karakteristik mata pelajaran disusun secara rinci supaya pembelajaran berjalan sambung-menyambung dengan hati. Akhirnya, siswa membiasakan berpikir dan berperilaku sesuai teori dan kesepakatan hidup yang disepakati di lingkungannya. Baik di rumah, sekolah, masyarakat, bangsa dan negara. (*/aro)

Populer

Lainnya