Menjaga Kearifan Lokal Seni Kriya melalui Penugasan Berkarya

Oleh: Heri Purnomo, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Kearifan lokal budaya merupakan unsur kekayaan budaya bangsa. Dalam perspektif kultural, kearifan lokal amat penting keberadaannya. Terutama ketika berhubungan dengan masalah ‘identitas’, baik dalam konteks mikro. Misalnya terkait dengan ranah etnik, maupun secara makro, yakni menyangkut ranah negara-bangsa (Kasihan, 2019).

Seni kriya merupakan salah satu bagian dari pembelajaran seni budaya. Menurut Haryono dalam Tabrani (2019) pengertian kriya berasal dari akar kata “krya” dalam bahasa Sansekerta yang bermakna “mengerjakan”.

Kemudian akar kata tersebut berkembang menjadi kata: karya, kriya, kerja. Sehingga secara etimologi dapat disimpulkan bahwa kriya berarti suatu kegiatan kreatif untuk membuahkan benda atau objek. Selain itu hasil benda dari kegiatan kreatifnya sendiri juga dapat disebut seni kriya

Menurut fungsinya seni kriya dibedakan dalam tiga fungsi yakni kriya hiasan, kriya fungsional dan kriya mainan. Seni kriya hiasan adalah karya seni kriya yang tujuan pembutannya digunakan untuk hiasan. Sedangkan seni kriya fungsional adalah krya seni kriya yang pembuatannya untuk nilai fungsi dan seni kriya mainan merupakan pembuatan karya seni kriya untuk keperluan mainan.

Berjalannya waktu, berkembangnya nilai dari kemajuan teknologi membawa pada sisi seni kriya mengalami pergeseran. Produk dari pabrik lebih menjadi pilihan masyarakat untuk memenuhi barang-barang fungsional dalam kebutuhan sehari hari. Perabot dari bambu, kayu, tempurung sampai dengan mainan sebagian besar sudah menggunakan barang pabrikan bukan lagi hasil dari produk tangan tangan terampil.

Baca juga:   Pembelajaran Menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Daerah dengan Pembelajaran Project

Melalui pembelajaran seni budaya pada materi seni rupa, penulis ajak siswa SMP Negeri 2 Bobotsari, Kabupaten Purbalingga untuk mengenal, memahami kearifan lokal seni kriya. Dengan mengenal dan memahami besar harapan kedepan siswa dapat melestarikan kearifan lokal seni kriya melalai apresiasi atau kegiatan berkarya.
Strategi memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Strategi erat kaitannya dengan teknis dalam melaksanakan pembelajaran.

Menurut Suyadi dalam Novita (2019) strategi dalam konteks pendidikan dapat dimaknai dengan perencanaan apa yang akan kita lakukan atau serangkaian apa yang akan kita capai yang mengarah pada tujuan pendidikan.

Strategi dalam suatu konteks pendidikan mengarah kepada suatu hal yang spesifik yaitu khusus pada pembelajaran. Strategi pembelajaran digunakan oleh tenaga pendidik untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien
Kegiatan pembelajaran seni budaya pada materi seni kriya diawali dengan mengenalkan tentang seni kriya dalam segenap aspek.

Kegiatan mengenalkan bertujuan agar siswa dapat memahami tentang seni kriya dan selanjutnya memiliki motivasi dalam belajar. Kegiatan pembelajaran mencakup materi keragaman karya seni kriya meliputi bahan fungsi dan teknik pembuatan.

Baca juga:   Pianica Melodica Menyenangkan untuk Pembelajaran Musik Sederhana

Selanjutnya dalam materi berdasarkan bahannya seni kriya dapat terbuat dari bambu, kayu, logam, tanah liat dan kain. Terkait dalam kegiatan pembelajaran siswa menyebutkan kriya lokal daerah setempat.
Kegiatan selanjutnya setelah siswa melaksanakan kegiatan eksplorasi tentang seni kriya adalah siswa menentukan rancangan karya seni kriya.

Dalam merancang karya siswa harus mempertimbangkan aspek bahan dan teknik. Ketersediaan bahan di sekitar lingkungan dan kemampuan teknis baik segi proses maupun peralatan yang dimiliki. Untuk mencapai pada target dalam tujuan pembelajaran maka guru harus memantau perkembangan pembuatan karya siswa.

Sebelum kegiatan pemantauan guru menentukan target capaian yang harus didapat siswa dalam setiap tahapan waktu. Kegiatan pemantauan dapat sebagai proses penilaian sekaligus pengarahan dalam berkarya. (pb1/lis)

Guru Seni Budaya SMPN 2 Bobotsari, Kabupaten Purbalingga

Author

Populer

Lainnya