Belajar Laju Reaksi dengan Blended Learning Berbantuan Google Meet dan OBS

Oleh : Iin Retno Utami, S.Si

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Satuan pendidikan di wilayah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 1-3 bisa mengadakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Pelaksanaan pembelajaran tatap muka secara terbatas ini berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri. Yaitu Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 03/KB/202l, Nomor 384 Tahun 2021, Nomor HK.01.08/MENKES/4242/2021, Nomor 440-717 Tahun 2021 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Peserta didik dan guru yang melaksanakan pembelajaran tatap muka harus menjalankan protokol kesehatan secara ketat.

Dalam pembelajaran tatap muka terbatas dalam satu kelas peserta didik yang diperkenankan hadir hanya 50 persen, sehingga sebagai guru kita harus mengondisikan peserta didik yang belajar dari rumah dan peserta didik yang belajar di sekolah.

Di SMA Negeri 1 Muntilan, untuk menghadapi pembelajaran tatap muka terbatas telah dilaksanakan pelatihan blended learning dengan menggunakan bantuan Google Meet dan OBS. Graham (2005) menjelaskan pengertian blended learning secara sederhana merupakan pembelajaran yang mengombinasikan antara pembelajaran online dengan pembelajaran secara langsung yakni tatap muka atau face-to-face.

Dengan blended learning diskusi mengenai laju reaksi membuat semua peserta didik menjadi lebih aktif. Pada awal pembelajaran penulis memberikan alamat Googe Meet kepada peserta didik yang belajar dari rumah.

Baca juga:   PJJ Menggunakan Google Meet dan Google Classroom Tingkatkan Prestasi Belajar Siswa

Peserta didik yang belajar dari rumah dapat join blended learning dengan bantuan Google Meet. Google Meet dipilih karena dengan akun belajar.id banyak fasilitas yang memudahkan kita dalam melaksanakan pembelajaran dengan peserta didik.

Untuk membantu live streaming digunakan OBS (open broadcaster software), yaitu sebuah perangkat lunak yang dapat meningkatkan kualitas video saat live di berbagai platform. Kamera eksternal yang digunakan adalah kamera berbasis sensor gerak sehingga kamera bisa mengikuti gerakan atau perpindahan ketika penulis bergerak di dalam kelas.

Sebelum mulai pembelajaran guru harus memastikan bahwa koneksi internet kuat dan lancar. Kendala pada koneksi internet akan membuat blended learning tidak bisa dilaksanakan. Demikian juga dengan peserta didik di rumah, jika ada kendala sinyal maka tidak bisa bergabung di Google Meet.

Diskusi mengenai laju reaksi dengan blended learning ini membuat peserta didik yang belajar di rumah dan yang belajar di sekolah seolah tidak ada jarak. Mereka tetap bisa memberikan pendapat, bertanya ataupun komunikasi lain sesuai kebutuhan.

Baca juga:   Kurikulum 2013 Perlu Guru Berkualitas

Sehingga baik peserta didik yang ada di rumah maupun di sekolah mendapatkan pembelajaran yang sama, sehingga tidak ada kecemburuan antara peserta didik yang belajar di rumah dan yang belajar di sekolah.

Bagi guru dengan blended learning juga memudahkan dalam mengkondisikan pembelajaran untuk peserta didik yang belajar di sekolah dan yang belajar di rumah. Tanpa blended learning guru harus membuat dua skenario pembelajaran. Yaitu skenario pembelajaran tatap muka dan skenario pembelajaran online dengan menggunakan Learning Management System (LMS).

Belajar laju reaksi dengan blended learning membuat siswa menjadi lebih bersemangat ketika diskusi. Hal ini terlihat dengan antusias peserta didik baik yang di rumah ataupun yang di sekolah dalam memberikan tanggapan ataupun bertanya selama proses pembelajaran.

Baik peserta didik maupun guru sudah sangat merindukan pembelajaran seperti ini setelah sekian lama pembelajaran jarak jauh dilaksanakan secara online, dimana komunikasi antara peserta didik dengan peserta didik, dan peserta didik dengan guru sangat terbatas. (nov1/lis)

Guru Kimia SMA Negeri 1 Muntilan Kabupaten Magelang

Author

Populer

Lainnya