Peningkatan PBLHS Siswa melalui Pembelajaran Reduce dalam Masa Pandemi

Oleh: Siti Setyawati, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pandemi Covid-19 menimbulkan dampak di berbagai bidang, khususnya pendidikan. Proses pendidikan di SD Negeri Ngluwar 2 juga mengharuskan untuk belajar dari rumah dan kini menjalankan pembelajaran tatap muka (PTM). Pembelajaran dari rumah berdampak pada karakter dan keterampilan siswa.

Salah satu karakter yang kurang berkembang yaitu peduli lingkungan, karena selama belajar di rumah kurangnya pemahaman dan pendampingan pentingnya menjaga lingkungan untuk menciptakan kehidupan yang sehat dan ramah lingkungan.

Pentingnya pendidikan keterampilan dan karakter peduli lingkungan sebagai bekal siswa dalam menjalankan kehidupanya kelak.

Hal ini sesuai dengan pendapat Aqib (2011: 38) yang menyatakan pendidikan karakter sebagai sebuah bantuan sosial agar individu itu dapat bertumbuh dalam menghayati kebebasannya dalam hidup bersama dengan orang lain dalam dunia.

Pendidikan keterampilan selain sesuai dengan (UU RI No.20 Tahun 2003 pasal 3. Juga sesuai dengan peraturan Menteri Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI No P-52/MEN LHK/SEKJEN/KUM 1/9/2019 tentang gerakan PBLHS.

Salah satu fokus dalam artikel ini adalah pasal 8 no 3 tentang pembelajaran, pengelolaan sampah atau yang dapat disebut juga sebagai reduce.

Hal ini sangat bertentangan dengan kenyataan di sekitar kita. Banyak sekali sampah terutama sampah yang berbahan dasar plastik.

Baca juga:   Youtube sebagai Media Pembelajaran Menulis Geguritan

Berdasarkan permasalahan tersebut, penting bagi kita sebagai warga terutama sebagai pendidik untuk mengupayakan berkurangnya sampah di lingkungan kita.

Tahapan awal yang perlu diupayakan adalah melalui penanaman pendidikan karakter peduli lingkungan dan pengembangan keterampilan pengolahan sampah agar dapat digunakan lagi.

Karakter merupakan sistem permanen dalam manusia yang menghubungkan manusia lain dan menghubungkan dengan alam. Penggerak karakter manusia juga dipengaruhi oleh naluri dasar (insting).

Faktor lain adalah adanya kontribusi budaya setempat yang memengaruhi pola karakter manusia (Fromm, 1973:255). Sedangkan Berkowitz & Bier (2004: 73) mengatakan karakter lebih ditekankan pada aspek kognisi manusia.

Dapat disimpulkan karakter adalah kesatuan kompetensi sosio-moral yang meliputi perpaduan tindakan yang berdasarkan moral, nilai-nilai moral, kepribadian yang sesuai moral, emosi yang sesuai moral, penalaran berdasarkan moral, identitas yang mencerminkan moral, dan karakteristik utama (dasar).

Tipe karakter menurut Fromm terbagi menjadi dua yaitu berorientasi tidak produktif (nonproductive orientation) dan berorientasi produktif (productive orientation).

Karakter berorientasi nonproduktif meliputi receptive, exploitative, hoarding dan marketing. Sedangkan karakter produktif meliputi kerja (working), cinta (loving), bernalar (reasoning).

Penulis berharap penanaman karakter melalui bekerja dapat meningkatkan keterampilan siswa di sekolah.

Keterampilan merupakan salah satu aspek yang diterapkan dalam pembelajaran Kurikulum 2013. Selain aspek kognitif, keterampilan mampu mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kinestetik.

Baca juga:   Optimalisasi Penerapan Protokol Kesehatan dalam PTMT

Hal tersebut sesuai dengan keterampilan adalah sebagai suatu perbuatan atau tugas, dan sebagai indikator dari suatu tingkat kemahiran (Hari Amirullah, 2003: 17).

Menurut Sudjana (1996:17) keterampilan juga kegiatan yang bertujuan dengan memerlukan informasi yang dipelajari. Kemendikbud secara tegas dalam website resmi menulis artikel tentang bagaimana menguatkan pendidikan karakter sebagai fondasi jadi pintu masuk untuk melaksanakan penataan ulang pendidikan nasional Indonesia.

Pengejewantahan nilai-nilai karakter tersebut disaripatikan menjadi lima nilai karakter utama yang digaungkan oleh Kemendikbud akan menjadi pilar dasar pendidikan karakter di Indonesia.

Lima nilai karakter yang menjadi pilar bangsa Indonesia adalah karakter religius, karakter nasionalis, karakter integritas, karakter mandiri, dan karakter gotong royong.

Pembelajaran keterampilan reduce, penulis menyimpulkan siswa SDN Ngluwar 2 lebih tertarik dengan pembelajaran keterampilan. Selain itu, siswa juga ada peningkatkan karakter peduli lingkungan di sekitar siswa dengan adanya pengurangan sampah yang menjadi barang guna lainnya.

Seiring meningkatkanya karakter peduli lingkungan, kegiatan ini juga mampu meningkatkan kemampuan serta keterampilan siswa dalam membuat prakarya dari barang bekas. (mn1/lis)

Kepala SDN Ngluwar 2, Kec. Ngluwar, Kabupaten Magelang

Author

Populer

Lainnya