Pembelajaran Ikatan Kimia secara Kontekstual dengan Media Bahan Alam di Lingkungan Sekitar

Oleh: Berwinda Windiarsih, S.Pd.              

spot_img

RADARSEMARANG.ID-Sejak kasus pertama pasien positif covid diumumkan oleh pemerintah di awal bulan Maret 2020, maka segenap usaha dilakukan oleh pemerintah untuk membatasi penyebaran virus tersebut. Salah satu yang terdampak besar dari usaha tersebut adalah bidang pendidikan. Pemerintah mengatur panduan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi Covid-19 melalui Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri. Dalam surat keputusan bersama tersebut menyatakan bahwa pembelajaran di masa pandemi Covid-19 dilakukan dengan : 1) pembelajaran tatap muka terbatas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, dan/atau 2) pembelajaran jarak jauh.

Dalam laman www.bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id dinyatakan bahwa prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 adalah (1) kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga dan masyarakat merupakan prioritas utama dalam menetapkan kebijakan pembelajaran. (2) Tumbuh kembang peserta didik dan kondisi psikososial yang menjadi pertimbangan dalam pemenuhan layanan pendidikan selama masa pandemi Covid-19. Prinsip tersebut memberikan implikasi bahwa pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar tetap dilakukan secara online atau dalam jaringan (daring). Dan pembelajaran tatap muka dapat dilaksanakan jika syarat zona sudah terpenuhi

Pembelajaran online bukan merupakan hal yang baru di bidang pendidikan, karena beberapa institusi pendidikan seperti Universitas Terbuka juga melakukan pembelajaran online secara terbatas untuk kelas karyawan.  Demikian  juga dengan sekolah yang berkonsep homeschooling. Akan tetapi, karena pelaksanaannya yang serentak dan menyeluruh membawa tantangan dan hambatan tersendiri untuk orang tua siswa dan tentunya dari tenaga pendidik sebagai ujung tombak pelaksanaan pembelajaran jarak jauh tersebut. Mulai dari menyediakan perangkat belajar seperti ponsel dan laptop maupun pulsa untuk koneksi internet.

Mengingat letak geografis Indonesia, banyak sekali daerah yang belum punya akses teknologi dan informasi yang cukup memadai. Hampir tidak ada yang menyangka, wajah pendidikan akan berubah drastis akibat pandemi Covid-19. Sebagai tenaga pendidik, tentu kita tidak boleh menyerah dan putus asa dengan berbagai kendala dan keterbatasan yang ada. Pelaksanaan pembelajaran secara online/jaringan ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru kimia agar dapat melaksanakan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM). Materi yang diajarkan dengan cara PAIKEM tersebut membuat siswa menguasai materi dengan mudah dan baik, sehingga hasil belajar siswa mampu mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) baik kognitif, psikomotorik dan afektif.

Baca juga:   Metode RPL Gairahkan Pembelajaran Sejarah Zaman Pra Aksara di Indonesia

Salah satu bentuk kreativitas yang bisa dilakukan adalah dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai media dan sumber belajar yang menarik dan menggugah rasa ingin tahu siswa. Kokom Kumalasari (2010) sumber belajar adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran. Komponen sumber belajar itu meliputi pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan lingkungan. Prinsip dalam pembelajaran dengan memanfaatkan bahan alam yang ada di lingkungan alam sekitar antara lain : 1)   Belajar dengan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia. 2) Belajar dengan cara yang menyenangkan. 3) Belajar dengan mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif, dan 4) Belajar melalui kolaborasi. Dalam kondisi pandemi maka memanfaatkan bahan alam di lingkungan sekitar adalah cara terbaik untuk memudahkan siswa dalam belajar dan proses pembelajaran bisa berlangsung sesuai dengan protokol kesehatan.

Salah satu kompetensi dasar aspek keterampilan kimia kelas X adalah membuat model bentuk molekul dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar atau perangkat lunak komputer. Sebelum siswa dapat menggambarkan model molekul, siswa terlebih dahulu harus menguasai materi prasyarat tentang lambang Lewis suatu atom. Di sekolah penulis, SMA Negeri 2 Kudus, khususnya kelas X MIPA, penulis mengajarkan materi tersebut dengan menggunakan biji-bijian (jagung, kedelai, kacang hijau) atau batu kerikil warna-warni. Lambang Lewis adalah penggambaran elektron valensi suatu atom dengan notasi (titik atau lingkaran). Dalam proses belajarnya, siswa akan bisa membuat dan memvisualkan lambang Lewis dari suatu atom. Misalnya, atom Oksigen memiliki jumlah elektron valensi 6, maka siswa akan meletakkan enam biji atau kerikil di sekitar atom Oksigen. Lalu atom Hidrogen yang memiliki jumlah elektron valensi satu, maka siswa akan meletakkan satu biji atau kerikil di sekitar atom Hidrogen.

Media visual merupakan penyampaian pesan atau informasi secara teknik dan kreatif yang mana menampilkan gambar, grafik,  serta tata dan letaknya jelas. Sehingga penerima pesan dan gagasan dapat diterima sasaran. Daryanto (1993) media visual artinya semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar yang bisa dinikmati lewat panca-indera mata. Media visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata.

Baca juga:   Pembelajaran Kimia dengan Eksperimen Mandiri

Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi. Dengan demikian, media visual dapat diartikan sebagai alat pembelajaran yang hanya bisa dilihat untuk memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan akan isi materi pelajaran. Dengan menvisualkan lambang Lewis ini, selanjutnya siswa akan memiliki gambaran bagaimana proses terjadinya ikatan dalam suatu molekul, baik ikatan ion atau ikatan kovelan.  Pada tahapan selanjutnya siswa mampu mendeskripsikan bagaimana bentuk molekulnya.

Untuk menggambarkan proses terjadinya ikatan ion yang terjadi karena adanya proses serah terima elektron, maka siswa akan memindahkan sejumlah biji-bijian/kerikil dari atom ke atom yang lain yang saling berikatan. Demikian juga dalam ikatan kovalen yang terjadi karena adanya penggunaan bersama pasangan elektron, maka siswa kan memindahkan sejumlah biji-bijian atau kerikil untuk saling dipasangkan antara atom yang saling berikatan. Proses visualisasi yang sederhana akan memudahkan siswa memahami kompetensi dasar ini dengan baik dan benar.

Pembelajaran materi ikatan kimia dengan menggunakan bahan alam berupa biji-bijian atau batu kerikil sangat membantu pemahaman siswa bagaimana proses terjadinya ikatan ion dan ikatan kovalen. Terbukti, dari pencapaian siswa yang mencapai KKM sebesar 80 persen, dan mereka menyatakan sangat aktif dan senang dengan pembelajaran ikatan kimia yang disajikan dalam bentuk visual dengan bahan alam yang sangat mudah mereka dapatkan di lingkungan sekitar rumah dan sangat terjangkau.

Pembelajaran kimia dengan menggunakan bahan alam di lingkungan sekitar sangat cocok digunakan sebagai salah satu media pembelajaran yang aktif, interaktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM). Dan dapat digunakan sebagai solusi untuk mengatasi kejenuhan siswa dalam pembelajaran di masa pandemi. (*/aro)

Guru Kimia SMA Negeri 2 Kudus

Author

Populer

Lainnya