Pembelajaran Materi Segitiga dengan Team Game Tournament

Oleh: Dyah Yuni Astuti, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, MATEMATIKA sampai saat ini masih menjadi mata pelajaran yang kurang disenangi peserta didik. Sebagai mata pelajaran pokok, matematika harus diajarkan dengan penguasaan konsep yang benar sejak dari awal.

Peserta didik harus mampu berpikir logis, analisis, sistematis, dan mampu bekerja sama dengan temannya. Akan tetapi, ada kenyataannya masih banyak peserta didik yang tidak memfavoritkan pelajaran tersebut karena dianggap sulit dipahami.

Peserta didik mengalami kesulitan dalam belajar matematika, khususnya pada materi keliling dan luas segitiga. Hal tersebut dikarenakan peserta didik masih kesulitan dalam memahami dan membedakan antara alas, tinggi, dan sisi miring.

Berdasarkan permasalahan-permasalahan tersebut, sudah seharusnya guru sebagai fasilitator memiliki peranan yang sangat penting. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan suatu proses untuk mengembangkan semua aspek kepribadian manusia yang mencakup pengetahuan nilai, sikap, dan keterampilan.

Ilmu pendidikan dan teknologi berkembang pesat memunculkan tuntutan baru dalam segala aspek kehidupan. Tuntutan baru tersebut di antaranya perubahan kurikulum. Kurikulum pada jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Dengan adanya pembaharuan diharapkan semua warga Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas dan mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.

Baca juga:   Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan Siswa SD dengan Flash Card dan Video Flash Card

Metode Team Game Tournament (TGT) merupakan metode yang bercirikan pembelajaran matematika yang humanis dan konstruktivis. Menurut De Veses dan Slavin (1980:35), pembelajaran dengan metode Team Game Tournament yaitu kelas terbagi dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4-5 peserta didik yang berbeda-beda dengan tingkat kemampuan, jenis kelamin dan latar belakang etniknya.

Kemudian siswa akan bekerja dalam menyelesaikan masalah yang ada di kelompoknya, dan harus bersaing dengan kelompok lain. Hasil penelitian De Veses (1978:28) menunjukkan bahwa kerja kelompok menjadikan siswa bersemangat untuk belajar, aktif untuk saling menampilkan diri atau berperan di antara teman-teman sebaya.

Untuk mengatasi permasalahan yang sudah diuraikan tersebut perlu adanya suatu penelitian yang menerapkan suatu setrategi pembelajaran tertentu yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal tentang materi segitiga. Pada laporan ini akan difokuskan pada siswa kelas VII C SMP Negeri 25 Semarang dengan materi segitiga.

Pembelajaran kooperatif (Cooperatif Learning) metode Team Game Tournament adalah model belajar mengajar yang didesain untuk mengembangkan (Slavin :1994). Model ini dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran yaitu prestasi belajar. Melalui pembelajaran kooperatif metode TGT, siswa diberi tugas agar bisa menampakkan keragaman anggota kelompoknya, baik kemampuan akademik, jenis kelamin, usia, latar belakang, sosial, ekonomi, dan budaya.

Baca juga:   Pembelajaran STEAM untuk Anak Usia Dini

Berdasarkan implementasi model pembelajaran Team Game Tournament dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran TGT dapat meningkatkan keaktifan siswa dan hasil belajar siswa kelas VII C pada materi segitiga di SMP Negeri 25 Semarang. Dengan demikian, dengan adanya peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa dengan menggunakan model TGT dapat meningkatkan ketuntasan belajar secara klasikal. (*/aro)

Guru SMP Negeri 25 Semarang

Author

Populer

Lainnya