KKG Tingkatkan Profesional Guru PAI di Kabupaten Kulon Progo

Oleh : H. Agus Basuki, S.Ag., M.SI

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Guru sebagai teladan harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan panutan. Seluruh kehidupannya adalah figur, itulah kesan terhadap guru sebagai sosok yang ideal. Kemuliaan hati seorang guru tercermin dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sekedar simbul atau semboyan yang terpampang di ruang-ruang kelas ataupun sekolah.

Melalui kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dilaksanakan satu kali dalam sebulan, sangat efektif bagi Pengawas Sekolah menyampaikan binaan. Karena dalam kegiatan KKG tempat berkumpulnya guru-guru PAI Sekolah Dasar (SD) di kabupaten Kulon Progo.

Tidak dipungkiri, dalam proses pembelajaran masih ada guru PAI di sekolah-sekolah khususnya SD cenderung belum mempunyai perencanaan pembelajaran yang lengkap dan matang sehingga berpengaruh dalam pelaksanaan pembelajaran di kelasnya, serta dalam melakukan penilaian dalam pembelajaran.

Aktivitas pembelajaran di kelas menunjukkan masih kurangnya kepedulian guru dalam menetapkan teknik dan metode pembelajaran serta penggunaan media dalam materi-materi ajar tertentu. Hal semacam ini yang kadang penulis temukan dalam supervisi guru PAI di SD binaan di Kapanewon Girimulyo, Samigaluh dan Kalibawang.

Guru PAI adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, memberi teladan, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Guru PAI merupakan ujung tombak pembinaan kehidupan beragama, dalam rangka memenuhi tugas tersebut dibutuhkan guru PAI yang memenuhi kualifikasi dan kompetensi.

Baca juga:   Perlukah Guru Mengajarkan Tata Bahasa?

Selain sebagai ujung tombak pembinaan kehidupan beragama, guru PAI diharapkan mampu menjadi pelopor pengembangan kehidupan beragama di sekolah dan lingkungan sosialnya.

Maka perlu penambahan kompetensi guru PAI yaitu kompetensi leadership dan kompetensi spiritual yang terdapat dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) No. 211 Tahun 2011 sebagai pelengkap Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang standar kualifikasi dan kompetensi guru.

Kompetensi spiritual meliput pertama, menyadari bahwa mengajar adalah ibadah dan harus dilaksanakan dengan penuh semangat dan sungguh-sungguh. Kedua, meyakini bahwa mengajar adalah rahmat dan amanah. Ketiga, meyakini sepenuh hati bahwa mengajar adalah panggilan jiwa dan pengabdian.

Kempat, menyadari dengan sepenuh hati bahwa mengajar adalah aktualisasi diri dan kehormatan. Kelima, menyadari dengan sepenuh hati bahwa mengajar adalah pelayanan. Keenam, menyadari dengan sepenuh hati bahwa mengajar adalah seni dan profesi.

Kompetensi leadership meliputi bertanggung jawab secara penuh dalam pembelajaran PAI di satuan pendidikan. Mengorganisasi lingkungan satuan pendidikan demi terwujudnya budaya yang islami.

Mengambil inisiatif dalam mengembangkan potensi satuan pendidikan. Berkolaborasi dengan seluruh unsur di lingkungan satuan pendidikan. Berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan di lingkungan satuan pendidikan, dan melayani konsultasi keagamaan dan sosial.

Baca juga:   STAD Solusi Mengajar Sejarah Islam

Guru PAI sangat berperan penting dalam meningkatkan budi pekerti anak didiknya. Dengan kata lain bahwa untuk menjadi pendidik atau guru, seseorang harus berpribadi, mendidik berarti mentrasfer nilai-nilai yang baik pada siswanya. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari.

Pribadi guru itu sendiri merupakan perwujudan dan nilai-nilai yang akan ditransfer, maka guru harus bisa memfungsikan sebagai seorang pendidik (tranfer of values). Ia bukan saja pembawa ilmu pengetahuan akan tetapi juga menjadi contoh seorang pribadi manusia.

Sebagai guru PAI selain harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional sesuai Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007, dia juga harus memenuhi KMA No. 211 tahun 2011 yaitu kompetensi spritual dan kompetensi leadership. (mn1/lis)

Pengawas PAI Kabupaten Kulon Progo, DIY

Author

Populer

Lainnya