Make-A Match Solusi Tepat untuk Pembelajaran Tarikh Islam pada PTM Terbatas

Oleh: Rezkyaningrum, S.Pd.I

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PANDEMI Covid-19 sangat berdampak pada dunia pendidikan, khususnya dalam kaitannya dengan proses kegiatan belajar-mengajar (KBM).

Pelaksanaan pembelajaran (KBM) secara mendadak harus mengalami perubahan yang signifikan, dari pembelajaran secara tatap muka yang sudah berurat-berakar berubah menjadi pembelajaran jarak jauh. Siap atau tidak siap, pembelajaran jarak jauh pun dilaksanakan secara serentak di seluruh penjuru Indonesia.

Bagi siswa yang mudah beradaptasi mungkin pembelajaran jarak jauh bukan suatu masalah, tapi untuk sebagian besar siswa pembelajaran jarak jauh membawa dampak yang sangat memprihatinkan. Di antara dampak yang muncul ialah siswa mengalami kesulitan dalam belajar, tidak fokus dalam pelajaran dan malas belajar.

Mengiringi pandemi yang melandai, pemerintah mengijinkan dilaksanakan PTM (Pembelajaran Tatap Muka) secara terbatas di sekolah mulai bulan Agustus 2021. Para guru dan murid merasa senang dan lega dengan diperbolehkannya PTM meskipun masih PTM terbatas.

Kenyataannya, menurut hemat penulis, berbagai kondisi negatif yang merupakan akibat dari pembelajaran jarak jauh atau cara online tidak langsung hilang secara serta-merta. Ketika PTM terbatas di SMPN 1 Tulis Kabupaten Batang, diberlakukan sejak awal bulan September 2021, guru harus berhadapan dengan sebagian besar siswa yang sudah terlanjur malas untuk berfikir dan orientasi untuk bermain Hp tinggi.

Kondisi ini nampak ketika mereka diberi pelajaran dalam kelas, mereka cenderung tidak fokus dalam pembelajaran. Meskipun guru mengulangi materi pembelajaran tetap saja ketika ditanya (dievaluasi) mereka tidak menguasainya. Ketika diberi tugas mereka juga banyak yang enggan untuk mengerjakanya, padahal waktu yang disediakan dalam PTM terbatas sangatlah terbatas.

Baca juga:   Model ATM3 Mengantar Siswa Menjadi Juara

Kondisi tersebut menuntut guru mencari solusi yang tepat untuk mengatasinya. Tentu kuncinya ialah guru haruslah kreatif serta inovatif dalam menentukan metode pembelajaran.

Metode yang dipilih mestinya membuat siswa lebih terarik dan semangat dalam belajar di kelas walaupun masih dalam kondisi terbatas dan harus menjaga protokol kesehatan secara ketat.

Terlebih lagi pada materi Tarikh Islam yang materinya cenderung susah untuk dikuasai siswa, dan apabila diajarkan dengan cara yang monoton seperti ceramah bisa-bisa hanya ditinggal tidur.

Menurut penulis, salah satu model pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran Tarikh Islam, salah satunya materi Tarikh Islam kelas VIII di semester 1 yaitu Masa Pemerintahan Daulah Bani Umayah, adalah model pembelajaran Make-A Match.

Model Pembelajaran Make-A Match dikembangkan oleh Lorn Curran pada tahun 1994. Pada model pembelajaran ini siswa diminta mencari pasangan dari kartu (Aqib Zainal, 2013 : 23) Menurut Tarmizi, dalam Novia (2015 : 12) menyatakan bahwa model pembelajaran Make-A Match artinya siswa mencari pasangan, setiap siswa mendapat sebuah kartu (bisa berisi soal atau jawaban), lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang dia pegang.

Baca juga:   Pemberian Tugas Daring dengan Games Edukasi dengan Aplikasi “Wordwall”

Langkah Make-A Match adalah guru menyiapkan kartu yang berisi soal dan jawaban. Lalu siswa menggali informasi tentang yang tertuang dalam kartu dengan membaca materi yang dipelajari. Setiap siswa diberi satu kartu (soal/jawaban), siswa maju satu persatu dan membacakan isi kartu dan berusaha menjawab, akan tetapi sebelum menjawab siswa yang merasa mendapat kartu yang berisi jawabanya maju mendampinginya, jika tepat semua siswa tersebut akan mendapatkan reward. Jika putaranya sudah selesai kartu dikumpulkan kembali dan diulang seperti itu lagi agar siswa lebih menguasai materi dan lebih semangat lagi.

Ternyata dengan menggunakan metode Make-A Match pembelajaran materi tarikh Islam “Masa Pemerintahan Bani Umayah” di era PTM terbatas menambah keaktifan dan semangat siswa dalam mengikuti pelajaran di kelas dan lebih fokus dalam memahami materi. Dan dalam melaksanakan langkah langkahnyapun bisa diatur agar tetap menjaga protokol kesehatan seperti tetap bisa memakai masker dan menjaga jarak.

Demikian, guru – dalam rangka menghilangkan kebodohan peserta didik – memang tidak boleh terpaku pada satu metode saja. Guru harus solutif dan inovatif. Kendala bukanlah halangan tetapi tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan. (pb1/zal)

Guru SMPN 1 Tulis, Batang

Author

Populer

Lainnya