Belajar Materi Perubahan Sosial Berbasis Masalah

Oleh: Widiyani, S.Sos

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pengajaran sosiologi di sekolah menengah berfungsi meningkatkan kemampuan siswa, mengaktualisasikan berbagai potensi diri dalam memahami dan mengungkapkan berbagai perubahan sosial.

Materi perubahan sosial merupakan salah satu kompetensi dasar yang diajarkan dalam pelajaran sosiologi di kelas XII SMA/MAN sederajat. Termasuk di SMA Negeri 1 Kajen, Kabupaten Pekalongan.

Materi perubahan sosial sebenarnya menarik untuk dikaji dan relatif mudah dipahami. Tapi faktanya banyak siswa merasa kurang bisa menguasai materi tersebut. Ini terlihat masih banyaknya siswa yang belum tuntas nilai KKM. Banyaknya siswa kurang merespon materi pembelajaran tersebut.

Sebab, dianggap tidak menarik dan menjenuhkan. Siswa beranggapan muatan materi sosiologi hanya menyajikan teori dan konsep yang menuntut dihafal secara baik. Ditambah metode mengajar guru konvensional, semakin menambah pembelajaran sosiologi kurang diminati siswa.

Untuk meningkatkan jumlah siswa tuntas dalam materi pembelajaran sosiologi diperlukan model pembelajaran dan metode mengajar yang berbeda dan inovatif. Sehingga siswa dapat menggunakan dan mengingat lebih lama konsep dan penerapan sosiologi.

Guru harus dapat berkomunikasi secara baik dengan siswa. Sehingga guru dapat membuka wawasan berpikir beragam dari seluruh siswa. Terpenting, siswa dapat mempelajari seluruh konsep dan bagaimana cara mengaitkan dalam kehidupan nyata. Jika ini tercapai, tentu siswa tidak lagi jenuh untuk belajar pelajaran sosiologi.

Baca juga:   Perlu Positive Thinking untuk Memahami Permasalahan Siswa

Salah satu model pembelajaran dengan membuat siswa bisa menyelesaikan berbagai soal berbentuk masalah. Peningkatan kemampuan berpikir melalui telaah fakta sosial atau pengalaman anak sebagai bahan untuk memecahkan masalah yang diajukan. Seperti misalnya, hukum, adat kebiasaan, norma agama, bahasa dan tatanan kehidupan lain. Dari contoh permasalahan tersebut jika diselesaikan secara nyata memungkinkan siswa memahami konsep. Bukan hanya sekedar menghafal konsep.

Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu strategi pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi siswa. Untuk belajar tentang cara berpikir kritis, keterampilan pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran (Nurhadi, 2004).

Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), dikenal juga seperti pembelajaran berbasis proyek (project-based teaching). Secara garis besar pembelajaran berbasis masalah terdiri atas menyajikan kepada siswa situasi masalah yang otentik dan bermakna. Yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri (Departemen Pendidikan Nasional, 2005).

Pada materi perubahan sosial, pembelajaran berbasis masalah dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kritis, eksplorasi artikel dan gambar/foto, nonton film, penelitian sederhana, dan membuat catatan harian.

Cara ini bisa lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pembelajaran secara mandiri. Menjadikan siswa lebih dekat memahami kenyataan sosial sebagai bagian dari kehidupannya sekaligus sebagai materi pembelajaran sosiologi.

Baca juga:   Mengenal Lambang Pancasila dengan Metode Picture and Picture

Contoh sederhana, pada penelitian guru bisa mengajak siswa untuk melakukan pengamatan terhadap lingkungan sekitar tempat tinggal. Menanyakan perubahan sosial yang sudah terjadi. Mengapa perubahan sosial terjadi dan bagaimana bentuk perubahan sosialnya?

Dengan strategi ini diharapkan siswa dapat berpikir secara kritis tentang berbagai permasalahan di lingkungan sekitar. Kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Siswa kelak bisa menjadi agen perubahan sosial yang membawa perubahan positif dalam kehidupan masyarakat. Tidak terbawa arus perubahan negatif.

Dari paparan tentang strategi pembelajaran sosiologi SMA materi perubahan sosial, dapat disimpulkan pembelajaran berbasis masalah bisa dijadikan solusi dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Agar siswa lebih mudah memahami konsep sosiologi.

Tidak sekedar menghafal seperti pembelajaran konvensional, tetapi siswa mampu berpikir kritis dengan mengaitkan konsep dasar dan teori sosiologi dalam kehidupan masyarakat. Yang merupakan hasil pengamatan mereka sendiri ataupun eksplorasi artikel.

Dengan metode ini, pembelajaran sosiologi tidak lagi menjenuhkan. Tetapi akan menjadi salah satu mata pelajaran yang diminati siswa.

Di sinilah peran guru akan dianggap berhasil dalam pembelajaran. Sebab bisa tercapai tujuan pembelajaran dan mampu mengelola kelas secara baik. (nov1/fth)

Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Kajen, Kab. Pekalongan

Author

Populer

Lainnya