Mengurangi Perilaku Prokrastinasi Akademik dengan Konseling Singkat Berfokus Solusi

Oleh : Dra. Rini Anggorowati

spot_img

RADARSEMARANG.ID. Bimbingan dan konseling (BK) yang merupakan bagian dalam pendidikan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu (konseli) dalam menangani masalahnya, yang dilaksanakan melalui berbagai macam layanan. Layanan tersebut saat ini tidak hanya dapat dilakukan dengan tatap muka secara langsung, tetapi juga bisa dengan memanfaatkan media atau teknologi informasi yang ada.

Tujuannya, memberikan bimbingan dan konseling dengan cara-cara yang lebih menarik, interaktif, dan tidak terbatas tempat, tetapi juga tetap memperhatikan azas-azas dan kode etik dalam bimbingan dan konseling. Terlebih di masa pandemi saat ini adalah masa yang menguji peserta didik untuk belajar dan menuntut ilmu dari rumah tentunya tetap dalam bimbingan yang diberikan oleh guru melalui daring dan pengawasan dilakukan oleh orang tua di rumah.

Belajar dan proses pembelajaran merupakan aktivitas yang tidak bisa dipisahkan dari manusia, baik yang dilakukan secara daring maupun luring, terutama bagi seorang peserta didik yang menikmati waktu belajarnya. Pembelajaran dianggap berkualitas dan berhasil jika peserta didik mengambil bagian secara efektif dalam interaksi belajar, baik secara aktual, intelektual, maupun sosial. Prestasi atau kegagalan dalam belajar dan interaksi belajar juga dapat mempengaruhi prestasi akademik peserta didik.

Untuk membantu prestasi akademik, diperlukan suatu usaha. Misalnya menertibkan tugas-tugasnya selama di sekolah, khususnya latihan-latihan belajar. Bimbingan dan konseling yang merupakan bagian dalam pendidikan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu (konseli) dalam menangani masalahnya, yang dilaksanakan melalui berbagai macam layanan.
Layanan tersebut saat ini tidak hanya dapat dilakukan dengan tatap muka secara langsung, tetapi juga bisa dengan memanfaatkan media atau teknologi informasi yang ada.

Baca juga:   Menulis Teks Prosedur¬† dengan ATM Mandiri

Untuk bisa menyelesaikan standar tugas akademik peserta didik perlu menyelesaikan semua capaian tugas akademik yang telah ditentukan. Namun dalam proses perjalanan pembelajaran daring mengalami banyak kendala. Di antaranya, sering menunda mengerjakan dan mengumpulkan tugas. Ada peserta didik yang tidak hadir dalam pembelajaran daring, kesulitan dalam akses jaringan, dan masih banyak kendala lain.

Belajar adalah bagian utama dari peserta didik baik daring maupun luring, tetapi tidak semua peserta didik memiliki keterampilan menejemen waktu yang baik. Peserta didik yang menunda kegiatan akademiknya merupakan ciri peserta didik tersebut tidak mampu mengelola waktu belajarnya, perilaku ini disebut prokrastinasi. Kecenderungan untuk menunda atau menyelesaikan tugas secara keseluruhan untuk menyelesaikan tugas akademik lainnya, akibatnya menghambat tugas, tidak pernah menyelesaikan tugas sesuai jadwal, dan sering terlambat mengikuti Pembelajaran di kelas.

Penundaan/prokrastinasi akibatnya banyak terbuangnya waktu dengan percuma, tugas yang tak terselesaikan dan hasil yang tidak maksimal saat diselesaikan. Penundaan / prokrastinasi berhubungan dengan harga diri rendah, pikiran tidak rasional, depresi, kekhawatiran, dan kurangnya kepercayaan diri. Penundaan kegiatan akademik juga memilik dampak yang buruk kepada aktivitas peserta didik. Kecenderungan yang terjadi pada peseta didik yang melakukan penundaan / prokrastinasi ialah mendapatkan nilai tidak sesuai dengan batas minimum kopetensi mata pelajaran.

Baca juga:   Bimbingan Kelompok Berbantuan Media Audiovisual Tingkatkan Kepercayaan Diri

Untuk menurunkan perilaku prokrastinasi akademik, perlu bantuan guru BK. Salah satu cara mengatasi prokrastinasi akademik dengan menerapkan Solution Focused Brief Counseling (SFBC).

Konseling Singkat Berfokus Solusi (Solution Focused Brief Counseling) adalah salah satu pendekatan konseling yang mempunyai konsep sederhana dan sangat mudah dipraktikkan. Karena lebih fokus membicarakan bagaimana mencari solusi daripada membicarakan tentang permasalahan peserta didik.

Peserta didik yang tidak bisa mengatur perilaku mereka akan menunggu sampai menit terakhir untuk memulai menyelesaikan tugas akademik. Hanya dengan begitu mereka akan merasakan tekanan untuk bertindak. Sebaliknya, jika peserta didik bisa mengatur perilakunya peserta didik lebih suka didukung daripada ditekan dan dapat diharapkan lebih tepat waktu. Bahkan ketika kegiatan tersebut tidak menyenangkan. (bk1/lis)

Guru BK SMAN 1 Kajen, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya