Bermain Peran Tingkatkan Motivasi Belajar PPKn

Oleh : Darsih Pujiati, S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dirancang untuk membekali peserta didik dengan keimanan dan akhlak yang mulia sebagaimana diarahkan falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila. PPKn merupakan salah satu mata pelajaran yang kurang menarik bagi peserta didik.

Penerapan metode bermain peran di kelas VI, SDN Banyurojo 1, semester ganjil tahun pelajaran 2021/2022 pada mata pelajaran PPKn, materi Keragaman ekonomi masyarakat, tema 5, subtema 1, KD 4.3 Mengampanyekan manfaat keanekaragaman sosial, budaya dan ekonomi VI masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75.

Wina Sanjaya (2010:161) menjelaskan metode bermain peran merupakan metode pembelajaran yang mana sebagai bagian dari bentuk simulasi yang didorong untuk mengkreasi peristiwa masa lalu atau sejarah, mengkreasi peristiwa-peristiwa actual. Maupun kejadian-kejadian yang akan muncul di masa depan atau masa mendatang.

Menurut Corsini (dalam Tatiek, 2001: 99), bermain peran merupakan suatu alat belajar yang mengembangkan keterampilan-keterampilan dan pengertian-pengertian mengenai hubungan antarmanusia dengan jalan memerankan situasi-situasi paralel dengan yang terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya.

Baca juga:   Mudah Belajar Degree of Comparison melalui Categories

Langkah-langkah penggunaan metode bermain peran : pertama dideskripsikan skenario kejadian atau situasi yang dipentaskan. Kedua, mempelajari karakteristik peranan yang akan dipentaskan. Ketiga memilih pemeran dan menugaskan untuk menghayati peran yang harus dibawakan. Keempat melaksanakan kegiatan bermain peran, kelima kegiatan mendiskusikan hasil bermain peran.

Penerapan metode bermain peran di kelas VI, SDN Banyurojo 1 pada mata pelajaran PPKn, materi Keragaman ekonomi masyarakat tema 5, subtema 1, KD 4.3 Mengampanyekan manfaat keanekaragaman sosial, budaya dan ekonomi adalah sebagai berikut : pertama guru membagikan diskripsi skenario kejadian atau situasi yang dipentaskan melalui WAG (WhatsApp grup). Kedua peserta didik diminta memperlajari karakteristik peranan yang akan dipentaskan.

Ketiga peserta didik diminta untuk memilih peran yang ada dalam skenario dan diminta untuk dapat menghayati peran yang akan dibawakannya. Keempat peserta didik melaksanakan kegiatan bermain peran, merekam atau memvideokan kegiatan bermain perannya dan mengirimkannya lewat WAG. Kelima guru bersama peserta didik mendiskusikan hasil bermain peran melalui WAG dan memberikan nilai hasil bermain peran.

Kelebihan bermain peran dalam pembelajaran antara lain peserta didik bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh. Guru dapat mengevaluasi pengalaman peserta didik melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan. Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan peserta didik. Sangat menarik bagi peserta didik sehingga memungkinkan PJJ menjadi dinamis dan penuh antusias.

Baca juga:   Tembang Macapat Tingkatkan Unggah-Ungguh Siswa

Kelemahan metode bermain peran antara lain memerlukan waktu yang relatif panjang, memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupaun peserta didik. Apabila pelaksaan bermain peran mengalami kegagalan dapat memberi kesan kurang baik dan tujuan pembelajaran tidak tercapai, tidak semua materi dapat disajikan melalui metode ini.

Dengan menerapkan metode bermain peran di kelas VI, SDN Banyurojo 1 pada mata pelajaran PPKn, materi Keragaman ekonomi masyarakat tema 5 subtema 1, KD 4.3 Mengampanyekan manfaat keanekaragaman sosial, budaya dan ekonomi terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik dengan dicapainya nilai rata-rata di atas KKM. (ms1/lis)

Guru SDN Banyurojo 1, Kec. Mertoyudan, Kabupaten Magelang

Author

Populer

Lainnya