Bentuk Karakter Multikulturalisme siswa Melalui Literasi Digital

Penulis: Dra. Kusumaningtyas

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Kehidupan multikultural manusia merupakan potensi konflik dalam berbagai hal. Baik antar individu maupun antar kelompok. Sebagai akibat adanya perbedaan perspektif, kepentingan, dan tujuan hidup di antara manusia. Konflik bisa disebabkan dari masalah sederhana atau kecil sampai masalah yang kompleks.

Konflik di beberapa wilayah Indonesia sudah sampai tahap yang sangat mengkhawatirkan. Ditandai dengan beberapa hal. Pertama kelompok masyarakat yang menggunakan konflik sebagai mode untuk menumpahkan segala kekesalan dan kekecewaan yang mereka rasakan, kedua kelompok masyarakat yang lain yang menggunakan konflik sebagai senjata untuk menyelesaikan masalah serta ketiga kelompok masyarakat yang menggunakan konflik dengan alasan membela kelompoknya.

Salah satu upaya untuk mencegah konflik yaitu dengan mewujudkan pendidikan multikultural. Karena konflik yang terjadi bukan lagi sekedar fenomena atau gejala, tetapi sudah menjadi realita dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, otoritas pendidikan Nasional Indonesia harus bisa memprioritaskan pendidikan multikultural dalam kebijakan pendidikan nasional, sebagai salah satu instrumen bagi penanganan konflik yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara
Sekolah merupakan lembaga pendidikan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi generasi yang memiliki pengetahuan, wawasan/ sikap dan tindakan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang memperhatikan latar belakang multikulturalisme.

Kemajemukan bangsa Indonesia yang dimiliki adanya perbedaan budaya, suku, ras, agama dapat dijadikan sumber kekuatan yang sinergis dalam membangun kemajuan bangsa dan negara. Di dalam mengembangkan pendidikan multikulturalisme di sekolah dapat menggunakan beberapa strategi. Baik di dalam kegiatan belajar mengajar, dan kegiatan-kegiatan sekolah yang lain.

Baca juga:   Memaknai Isi dan Nilai Hikayat dengan Model Pembelajaran CIRC

Menurut UU nomor 20 tahun 2003 Bab II pasal 3 Menjelaskan ”Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokatis serta bertanggung jawab”

Untuk itu, anak-anak perlu ditanamkan karakter nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan. Selain itu perlu ditanamkan perilaku yang berdasarkan norma-norma agama, hukum, etika, tata krama , budaya dan adat istiadat. Hal tersebut dapat diwujudkan dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan.

Pemerintah berusaha melaksanakan tugas dengan baik untuk mendidik anak bangsa memiliki jiwa multikulturalisme. Pendidikan multikulturalisme masuk pada materi kurikulum sekolah pada setiap jenjang pendidikan. Sekolah sangat membantu melengkapi orang tua dalam mendidik agar menjadi insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandir, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Hal tersebut diharapkan pada akhirnya menjadi nilai kehidupan anak itu sendiri.

Regulasi perkembangan zaman, literasi digital sangat mendominasi kegiatan anak muda. Hal ini dapat membawa dampak negatif ketika generasi muda termakan maraknya hoax. Untuk itu, penting sekali literasi digital menjadi pilihan tepat untuk menyampaikan pesan moral kepada anak anak untuk memerangi hoax. Di masa pandemi menuju new normal, literasi digital menjadi pilihan tepat untuk melaksanakan pendidikan multikulturalisme.

Baca juga:   Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Menyenangkan dengan Model Konstruktivisme

Melalui Program literasi digital yang dilakukan di SMA N 15 setiap hari senin sampai kamis merupakan upaya membentuk pribadi generasi yang tangguh dan tidak akan termakan hoaks dan berbudi pekerti luhur serta memiliki jiwa multikulturalisme.

Pendidikan agama Kristen di SMA N 15 Semarang melaksanakan pendidikan multikulturalisme melalui literasi digital. Teknis pelaksanaannya, materi multikulturalisme khususnya Mata pelajaran Agama Kristen salah satunya sudah ada di kurikulum kelas XII semester satu. Siswa mendapatkan penjelasan dari guru tentang materi multikulturalisme.

Kemudian menggali bersama melalui pembuatan deskripsi tema multikulturalisme. Langkah selanjutnya masing-masing siswa membuat rekaman audio dari narasi yang sudah dibuat. Berikut literasi digital berupa rekaman audio degan tema multikulturalisme itu akan diputar dari sentral melalui PJJ smart libel pada hari Kamis pagi sebelum pelajaran dimulai. Dapat di dengar oleh semua siswa khususnya siswa yang beragama Kristen.

Melalui kegiatan literasi digital dapat membentuk kehidupan yang berkualitas memiliki pribadi yang luhur dan jiwa multikulturalisme. Dengan indikator meningkatnya kesejahteraan sosial. Sehingga mengurangi perilaku destruktif yang sifatnya merusak dan menghancurkan diri sendiri dan orang lain. (lbs1/fth)

Guru Pendidikan Agama Kristen SMA Negeri 15 Semarang

Author

Populer

Lainnya