Belajar Pecahan Menyenangkan dengan Metode PTS

Oleh: Dartilah, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN Matematika di sekolah dasar tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi matematika saja, melainkan materi matematika diposisikan sebagai alat serta sarana bagi siswa dalam mencapai sebuah kompetensi. Pembelajaran matematika pada dasarnya memiliki karakteristik yang abstrak, serta konsep dan prinsipnya yang berjenjang.

Matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan mengatasi permasalah sosial, ekonomi dan alam.

Matematika tumbuh dan berkembang karena proses berfikir, oleh karena itu logika adalah dasar untuk terbentuknya matematika (Kline: 1973). Hal ini menyebabkan banyak siswa yang merasa kesulitan dalam belajar pembelajaran matematika. Keberhasilan pembelajaran matematika di sekolah dasar ditunjukkan oleh dikuasainya materi oleh siswa.

Salah satu faktor keberhasilan dalam proses pembelajaran sehingga siswa mampu menguasai materi matematika dengan baik, yaitu kemampuan guru untuk merencanakan serta melaksanakan pembelajaran.

Masa pandemi yang sudah berlangsung selama 2 tahun terakhir, memberikan dampak terhadap pola pikir dan pembiasaan siswa dalam belajar. Pembelajaran daring yang digunakan saat masa pandemi dirasa kurang efektif, terutama yang penulis rasakan pada pembelajaran matematika.

Baca juga:   Penerapan Frame Work TPACK Dalam Pembelajaran Daring IPA Masa Corona

Seperti yang terlihat pada kelas V pada awal diberlakukannya pembelajaran tatap muka terbatas semester 1. Siswa terlihat kurang antusias ketika pembelajaran Matematika. Kurangnya antusias siswa tentunya dapat mengurangi hasil belajar siswa.

Dalam belajar matematika kita sebagai guru harus membuat siswa merasa nyaman dan merasa senang terhadap meteri yang kita sampaikan. Salah satu cara untuk membuat pembelajaran di kelas menjadi menyenangkan adalah dengan metode pembelajaran think pair share. Maka dari itu, penulis menggunakan metode pembelajaran Think Pair Share pada materi menyelesaikan soal cerita dalam pecahan kelas V (Lima) SDN Ngadirejo 01 semester 1.

Model pembelajaran think pair share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Model ini mengedepankan siswa untuk berperan aktif bersama teman kelompoknya dengan cara berdiskusi dengan kelompoknya untuk memecahkan suatu masalah. Menurut Frank Lyman sebagaimana dikutip oleh Arens 1997), think pair share merupakan suatu cara yang efektif untuk membentuk variasi suasana diskusi kelas.

Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran think pair share : Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, Guru mengingatkan kembali cara menyelesaikan perkalian pecahan, Guru memberi perintah kepada siswa untuk membentuk kelompok dengan cara berpasangan dengan teman sebangku, Guru memberi kartu soal tentang pecahan (1 katu berisi 2 soal cerita) siswa diberi waktu 5-7 menit untuk mencari jawaban,siswa diberi untuk berpasangan dengan temannya untuk menyelesaikan soal yang diberikan guru selanjutnya salah satu anak maju kedepan untuk mempresentasikan jawaban yang sudah ditemukan dalam setiap kelompok. Guru memberikan kesimpulan dan meluruskan jawaban siswa dan menambah jawaban siswa.

Baca juga:   Blended Learning Mudahkan Siswa Belajar Sistem Pencernaan Manusia

Metode pembelajaran ini ada kelebihan dan kekurangannya. Salah satu kelebihan yang penulis dapatkan ketika menggunakan metode ini siswa aktif dalam pembejaran, dan dapat saling membimbing antar teman sebangku (tutur sebaya), selain itu lebih cepat membentuk kelompoknya.

Tetapi ada juga kekurangannya dalam menggunakan metode ini yaitu siswa yang bergantung pada teman yang lebih pintar. Setelah menggunakan metode pembelajaran ini, hasil belajar siswa meningkat. Anak juga terlihat tidak bosan tetapi guru harus mengawasi jalannya kegiatan kelompok dengan seksama. (ra2/zal)

Guru SDN Ngadirejo 01, Batang

Author

Populer

Lainnya