Kunjungan Rumah Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Oleh : Dwi Lasitosari

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Semenjak pandemi, hampir seluruh sekolah mengambil kebijakan untuk melakukan kegiatan belajar dari rumah (BDR). Metodenya antara lain pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (PJJ daring) dan PJJ luar jaringan (PJJ luring).

Setiap langkah yang diambil akan menimbulkan dampak yang mungkin tidak akan sama di setiap sekolah. Kendala yang muncul di SMK Negeri 1 Wanayasa antara lain akses internet yang belum merata, banyak siswa yang belum memiliki HP Android, HP rusak, ditambah lagi paket data habis.

Permasalahan lain adalah rasa bosan yang berlebihan karena terlalu lama di rumah dan malas mengerjakan tugas karena lebih mengutamakan bermain game dan aplikasi lain yang ada di HP. Kesulitan dalam memahami materi pelajaran juga menjadi alasan siswa kurang maksimal dalam mengerjakan tugas.

Banyak guru dihadapkan dengan berbagai persoalan mengenai keaktifan siswa mengikuti PJJ. Seperti siswa tidak ada dalam grup WhatsApp kelas atau Google Classroom/ tidak aktif mengikuti pembelajaran dan melakukan presensi tapi tidak mengikuti pembelajaran hingga hingga mencapai 50% – 70% siswa di setiap kelas.

Siswa mengalami kendala tetapi tidak mengomunikasikan kesulitanya dengan guru di sekolah. Hal ini membuat siswa tidak aktif mengikuti PJJ, padahal keaktifan dapat ditingkatkan dan diperbaiki siswa pada saat belajar (Moh. Uzer Usman, 2009 : 26).
Peran guru bimbingan dan konseling (BK) di masa pandemi saat ini sangat dibutuhkan oleh siswa sebagai tempat curhat terkait dengan PJJ.

Baca juga:   Serunya Mendongeng dengan Celemek Ajaib “Simsalabim”

Untuk mengatasi siswa yang tidak aktif mengikuti pembelajaran jarak jauh ini, guru BK mengundang siswa dan orang tua untuk datang ke sekolah dengan bergiliran sesuai protokol kesehatan. Jika orang tua dan siswa sulit dihubungi, maka perlu dilakukan upaya penanganan melalui layanan kunjungan rumah.

Menurut Prayitno (2017:284) kunjungan rumah merupakan upaya untuk mendeteksi kondisi keluarga dalam kaitannya dengan dengan permasalahan siswa yang menjadi tanggung jawab konselor dalam pelayanan konseling. Prayitno dan Erman Amti (2004: 324) menyebutkan tiga tujuan utama kunjungan rumah. Yaitu memperoleh data tambahan tentang permasalahan siswa, menyampaikan kepada orang tua tentang permasalahan anaknya, dan membangun komitmen orang tua terhadap penanganan masalah anaknya.

Guru BK dan wali kelas mematuhi protokol kesehatan dalam melaksanakan kegiatan kunjungan rumah. Karena harus melakukan komunikasi secara langsung atau tatap muka dengan siswa dan orang tua/ wali siswa. Pada saat hendak melaksanakan kunjungan rumah, guru BK melakukan persiapan dengan merekap siswa yang tidak memiliki keaktifan mengikuti PJJ, siswa yang mengabaikan tugas dari guru mata pelajaran, dan melihat hasil penilaian tengah semester, maka dijadikan untuk menentukan siswa yang akan mendapatkan kunjungan rumah. Kasus ditetapkan berdasarkan data kolaboratif antara guru mata pelajaran, wali kelas, dan tim kesiswaan.

Baca juga:   Dilema Pembelajaran di Tengah Pandemi Covid-19

Data ini yang akan disampaikan kepada keluarga siswa. Sebelum menuju ke rumah siswa, terlebih dahulu guru BK bersama wali kelas mengomunikasikan rencana kunjungan rumah pada waka kesiswaan dan kepala sekolah. Dengan melakukan kunjungan rumah, guru BK akan lebih mengetahui kondisi siswa di lingkungannya, dapat mengungkapkan tujuan dan menginformasikan permasalahan yang dialami siswa selama PJJ serta bersama-sama mencari solusi yang akan dilakukan siswa agar memiliki keaktifan mengikuti PJJ.

Setelah sampai di rumah siswa bersama dengan orang tua/wali siswa/anggota keluarga, guru BK membahas penyebab siswa tidak aktif mengikuti pembelajaran daring serta mengembangkan komitmen siswa dengan orang tuanya.

Saat kunjungan rumah, guru BK juga meminta kontak yang bisa dihubungi untuk memantau dan menginformasikan perkembangan siswa. Setelah kunjungan rumah, timbul keaktifan siswa mengikuti PJJ dan dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Dari yang semula 70% siswa tidak aktif menjadi 70% – 80% aktif mengikuti pembelajaran.

Dengan terjalinnya kerja sama yang baik antara guru dan orang tua dalam memantau perkembangan siswa, diharapkan meningkatkan keaktifan siswa mengikuti PJJ. (bk1/lis)

Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Wanayasa, Banjarnegara

Author

Populer

Lainnya