Belajar Menulis Geguritan dengan Outdoor Learning

Oleh : Sifaudin, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Salah satu kemampuan dasar berbahasa yang harus dikuasai siswa adalah menulis. Termasuk di dalamnya kemampuan menulis puisi berbahasa jawa atau geguritan. Kenyatannya banyak siswa kesulitan menulis geguritan. Salah satu penyebabnya, karena menulis geguritan tidak hanya mengandalkan kemampuan menuangkan gagasan, tetapi dibutuhkan kemampuan memilih kata yang mempunyai nilai rasa yang indah.

Untuk mendapatkan keindahan rasa diperlukan suasana tepat dalam menuangkan gagasan. Sekaligus memilih kata yang mempunyai daya magis sastra yang lebih indah. Untuk itu, diperlukan suasana berbeda dari suasana ruang kelas yang membosankan.

Pembelajaran outdoor learning bisa menjadi solusi terbaik untuk mendapatkan gagasan. Kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan sekaligus dapat memilih diksi yang tepat untuk menambah keindahan karya geguritan.

Dalam kamus umum Indonesia (KBBI) kata geguritan berasal dari kata “gurit” yang memiliki arti sajak atau syair. Sedangkan dalam kamus Baoesastra Jawa disebutkan geguritan berasal dari kata “gurit” artinya tulisan, kidung. Sedangkan dalam Kamus Kawi Indonesia “gurit” artinya goresan, dituliskan.

Hadiwijaya (2001) menyatakan, geguritan adalah golongan sastra Jawa model baru yang mengungkapkan perasaan senang. Ungkapan bahasa yang sesuai dengan keindahan rasa, tetapi tidak berpedoman pada aturan guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu.

Menulis geguritan adalah suatu kegiatan karya sastra yang menuntut seseorang harus benar-benar cerdas, menguasai bahasa, luas wawasannya, dan peka perasaan. Menulis geguritan bermula dari proses kreatif, mengimajinasikan atau mengembangkan fakta empirik yang kemudian diwujudkan dalam bentuk geguritan.

Baca juga:   Kemampuan Menulis Geguritan dengan Teknik Kata Berantai

Hakikatnya menulis mengabadikan apa yang dilihat, dirasakan, dan dipikirkan.
Proses pengimajian atau pengembangan pengalaman lahir dan batin merupakan awal dari proses kreatif. Perlu suasana tenang dan menyenangkan agar siswa dapat mengembangkan imajinasi pengalaman lahir dan batin serta memilih diksi yang lebih indah.

Pembelajaran memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah (outdoor learning) dapat dilakukan untuk melatih kepekaan perasaan siswa. Sehingga siswa dapat menemukan dan mengembangkan ide dalam menulis geguritan.

Penulis menerapkan hal itu di SMA Negeri 1 Kajen, Kabupaten Pekalongan. Pembelajaran outdoor learning diawali dengan mengajak siswa ke taman di belakang sekolah. Mereka diajak langsung merasakan desiran angin, suara pancuran air, memandang daun hijau yang bergoyang, memegang pohon, daun maupun bunga yang ada di sekitar taman.

Setelah itu, siswa diminta untuk menemukan benda di taman yang menarik perhatian masing-masing. Kemudian, siswa harus mengendapkan dan merenungkan “kata” tersebut berdasarkan pengalaman hidup sendiri atau pengalaman hidup orang lain.

Misalnya siswa tertarik bunga yang mekar. Maka siswa diarahkan untuk merenungkan nasib seperti bunga mekar banyak yang disukai, sedang segar-segarnya dipandang, namun akan layu. Suatu saat akan ada kumbang yang hinggap yang bisa membuat untung atau celaka.

Baca juga:   Problematika Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di Lingkungan SD

Siswa kemudian menuliskan hasil perenungannya dalam kata dan kalimat dengan memilih diksi yang bernilai sastra. Tidak harus selalu menggunakan bahasa jawa krama tetapi dapat dipadukan dengan kata atau leksikon ngoko yang mempunyai daya sastra yang lebih indah.

Tanpa terasa, kalimat, baris demi baris dituliskan siswa menjadi bait geguritan. Tidak ditentukan jumlah bait maupun barisnya. Siswa dibiarkan untuk menggali gagasan dan menuangkannya ke dalam kalimat dengan menggunakan diksi sastra sesuai kemampuannya. Hasilnya, ada yang mampu menulis sampai dua atau tiga bait.

Tetapi ada juga yang hanya menulis satu bait saja. Kemudian guru mengoreksi dan memberikan masukan terhadap karya geguritan siswa tersebut. Di bagian mana yang dirasa perlu diberikan masukan agar mempunyai rasa yang lebih indah.

Outdoor learning dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis geguritan. Gagasan dapat diperoleh siswa dari merasakan langsung dan benda atau hal hal menarik yang ada di taman dan lingkungan sekolah. Siswa dapat mengasosiasikan ide yang didapat pada saat outdoor learning dengan pengalaman hidup sendiri atau orang lain. Setelah itu siswa dapat menyusunnya menjadi bait-bait karya geguritan. (bk1/fth)

Guru Bahasa Jawa SMAN 1 Kajen Kab. Pekalongan

Author

Populer

Lainnya