Asyiknya Pembelajaran Hybrid Learning Pasca Pandemi Covid-19

Oleh: Atina Amalia Solcha

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PANDEMI covid-19 telah melanda Indonesia sejak Maret 2020 yang lalu. Keadaan di luar prediksi ini membawa pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia.

Banyak aturan tambahan yang harus dipatuhi seperti menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Selain protokol kesehatan, untuk mengurangi kasus Covid-19 di Indonesia ini pemerintah juga menetapkan aturan seperti penutupan tempat-tempat umum, fasilitas-fasilitas umum.

Semua lapisan masyarakat dituntut tetap menjalankan kewajibannya seperti hari-hari biasa tetapi dengan cara yang beda. Jelas saja hal ini bukan suatu hal yang mudah, tetapi perlu penyesuaian dan seiring perkembangan teknologi tentu dapat diatasi.

Hal tersebut juga membawa pengaruh untuk dunia pendidikan yang mengubah pembelajaran dari yang tatap muka menjadi cukup dari rumah saja. Seperti halnya juga dialami oleh mahasiswa dan mahasiswi yang juga harus menjalankan pembelajaran melalui daring. Padahal pada umumnya banyak mahasiswa yang lebih memilih pembelajaran tatap muka.

Husamah (2015) mengemukakan bahwa secara umum, pembelajaran tatap muka memiliki berbagai kelebihan terhadap pengajar maupun peserta didik, antara lain: Pertama, Disiplin formal yang diterapkan pada pembelajaran tatap muka dapat membentuk disiplin mental, kedua Memudahkan pemberian penguatan (reinforcement) dengan segera, ketiga Memudahkan proses penilaian oleh pengajar, keempat Menjadi wahana belajar berinteraksi terhadap peserta didik.

Kelebihan lainnya yaitu kemampuan sosialisasi antara dosen/tutor dengan mahasiswa, maupun antar sesama teman. Tidak hanya itu saja, dosen dapat mengamati secara langsung sikap dan tingkah laku mahasiswa dalam menerima materi.

Baca juga:   Asyiknya Belajar Matematika Sambil Bernyanyi

Dilihat dari perkembangan keadaan yang ada belum dapat dipastikan kapan keadaan ini akan pulih normal seperti biasa. Seperti yang telah kita ketahui bersama, aturan untuk dibuka kembali kelas tatap muka di perguruan tinggi masih menuai pro dan kontra, sebagian mahasiswa ada yang ingin kelas tatap muka kembali ke kampus dengan prokes yang ketat, namun ada juga beberapa mahasiswa dan orang tua masih memiliki kekhawatiran mengenai jaminan kesehatan saat kegiatan belajar mengajar nanti.

Sehingga intitusi pendidikan memiliki tugas untuk memilih cara belajar di masa pasca pandemi covid 19 ini, apakah full dengan online learning, blended learning atau hybrid learning.

Masing-masing model tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Hybrid learning adalah pendekatan pendidikan yang di mana pelajar memilih antara berpartisipasi secara online atau secara langsung. Model ini dapat menguntungkan bagi individu yang tinggal di daerah-daerah terpencil dan susah signal.

Salah satu contohnya adalah saat berlangsungnya kelas salah satu mata kuliah, dapat disiarkan secara langsung agar mahasiswa dapat hadir secara online.

Dalam hal ini, ada mahasiswa yang belajar di dalam kelas dan juga ada mahasiswa yang dapat mengikuti secara online. Bagi mahasiswa, manfaat utama dari hybrid learning ini adalah fleksibilitas untuk dapat menentukan akan mengikuti kelas secara tatap muka atau dengan model asinkronus (online) , contoh : mahasiswa yang sambil kerja dapat mengatur sendiri antara jadwal belajar dengan jadwal kerja.

Baca juga:   Menguasai Descriptive Text Menggunakan Student Teams Achievement Division

Dari sudut pandang universitas, fakta untuk dapat menarik mahasiswa yang mengikuti sebuah kelas di kampus bisa dari mana saja dapat menjadi revolusi nyata.

Ada beberapa faktor yang sangat perlu diperhatikan dalam menggunakan model pembelajaran hybrid learning ini, salah satunya adalah kondisi internet dan teknologi yang dimiliki sekolah maupun mahasiswa itu sendiri apakah sudah mumpuni dan memenuhi standar. Memilih topik dalam mata kuliah pun menjadi pertimbangan karena tidak semua kegiatan dapat direkam atau bisa dilaksanakan.

Oleh sebab itu Mahasiswa harus mengeksplor gaya belajar mereka sendiri-sendiri dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Mahasiswa dan instansi pendidikan harus selalu update dengan teknologi terbaru dan mau mencoba aplikasi-aplikasi pendukung pembelajaran yang tersedia di pasaran guna menunjang kegiatan belajar mengajar.

Melalui model hybrid learning ini, penulis menyimpulkan bahwa para mahasiswa perguruan tinggi akan merasa lebih merasa tertarik dan nyaman dengan model hybrid learning ini, karena dengan model itu mereka dapat membagi waktu belajar mereka dan waktu keperluan lain di luar pembelajaran. (bk1/zal)

Mahasiswi Universitas Ngudi Waluyo

Author

Populer

Lainnya