Santai Mengenal Tabel Kesetaraan

Oleh: Ika Rusy Listiyoningrum, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, “ANAK laki-laki jangan cengeng ah.”. Kata-kata tersebut sering kita dengar di masyarakat dan menjadi kata-kata “ajaib” untuk menenangkan anak yang sedang rewel atau menangis.

Anak laki-laki akan dianggap lemah jika menangis, sedangkan perempuan dianggap wajar jika memiliki sifat atau perilaku yang lemah. Banyak sekali stereotif yang dipercaya turun temurun oleh masyarakat dalam menggenerasikan sifat sosial laki-laki dan perempuan.

Di sekolah, jika anak anak laki-laki yang bandel dan susah diatur akan menjadi hal yang umum dan lumrah dilakukan.

Namun, akan dilabeli negatif jika perilaku tersebut dimiliki oleh perempuan. Bahkan guru juga sering memberikan perilaku dan tugas yang berbeda pada siswa laki-laki dan perempuan, yang terkadang memunculkan kecemburuan antar siswa.

Dalam pergaulan siswa sehari-hari, korban perundungan juga biasanya dari siswa perempuan, karena perempuan dianggap makhluk yang lemah dan tidak mampu melawan sehingga mudah dijadikan objek kekerasan.

Berangkat dari masalah yang sering muncul tersebut, perlu kiranya pemberian layanan informasi kepada mengenai peran gender di masyarakat dan kesetaraannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan mengangkat isu tersebut diharapkan siswa akan menyadari bahwa gender mereka di masyarakat memiliki peran yang sama dan tidak ada yang merasa lebih unggul dan diunggulkan.

Baca juga:   Mengatasi Kendala Pembelajaran Olahraga di Masa Pandemi Covid-19

Di SMP Negeri 1 Tulis, dalam rangka memberi pemahaman tentang gender kepada siswa, penulis memberikan layanan informasi dengan judul “ Sambel Setan” singkatan dari Santai Mengenal Tabel Kesetaraan.

Judul ini dipilih agar siswa tertarik dan antusias untuk mengetahui tentang gender yang selama ini belum familier bagi mereka. Layanan informasi ini disampaikan dalam tiga sub materi dengan menggunakan metode diskusi dan bermain.

Menurut Geldard dan Geldard (2001) bahwa keadaan menyenangkan yang dialami satu sama lain akan membantu anak untuk membangun secara psikis, kogmitif, emosi dan proses sosial dalam dirinya. Sehingga dengan teknik diskusi dan bermain ini diharapkan siswa akan lebih mudah memahami materi.

Pertama, penulis mengajak siswa melakukan diskusi dengan membahas ciri-ciri perempuan dan laki-laki untuk mengetahui definisi gender serta perbedaannya dengan jenis kelamin. Sedangkan pada bagian selanjutnya, penulis menggunakan metode diskusi dan bermain menempel pernyataan tertentu pada tabel yang disediakan.

Tujuan dari kegiatan ini untuk mengetahui perilaku diskriminasi yang terjadi di masyarakat berdasarkan jenis kelaminnya, agar mereka memahami tentang nilai-nilai kesetaraan gender.

Sedangkan bagian terakhir, siswa kembali diajak berdiskusi untuk megisi tabel peran gender dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari kegiatan ini agar siswa mampu memahami emansipasi gender di masyarakat.

Baca juga:   Pembelajaran Alquran Hadits Penyakit Hati “Riya” dengan Metode Demonstrasi

Ketika siswa mengangguk-anggukan kepala atau berkata “oh” setelah penjelasan berakhir merupakan kebahagian tersendiri bagi penulis, karena itu menunjukkan pikiran dan cara pandang siswa mulai terbuka. Evaluasi kegiatan layanan informasi ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman terhadap isu kesetaraan gender.

Hal itu terlihat dari pendapat dan contoh-contoh perilaku yang disampaikan oleh beberapa siswa dalam kegiatan. Diharapkan dengan memberi pemahaman tentang masalah gender, cara pandang dan perilaku siswa terhadap peran sosial masing-masing jenis kelamin akan lebih baik.

Seperti yang di sampaikan “mas menteri” Nadiem Makarim bahwa masalah besar pendidikan di Indonesia ada tiga, yaitu perundungan, intoleransi dan pelecehan. Dan menurut penulis, tiga hal tersebut dapat ditekan keberadaannya melalui pemahaman tentang kesetaraan gender.

Penulis meyakini jika mereka sadar gender maka sikap menghargai dan berempati terhadap orang lain juga akan berkembang serta tidak mengganggap atau merasa salah jenis kelamin punya peran lebih penting dalam kehidupan. Sehingga budaya toleransi akan tumbuh sejak dini di sekolah. (bk2/zal)

Guru SMPN 1 Tulis, Batang

Author

Populer

Lainnya