Modifikasi Mnemonik Belajar Sejarah Melalui Lawatan

Oleh: Titiek Rahayu, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, “Kita bukan pembuat sejarah, kita dibuat oleh sejarah.” – Martin Luther King, Jr.

Pendidik mata pelajaran sejarah menghadapi problematika serupa, antusiasme pelajar. Pelajaran sejarah dianggap membosankan, berisi hafalan, dan tidak bermanfaat untuk masa depan.

Pelajaran ini dinilai tidak memiliki relevansi dan keterkaitan kehidupan nyata. Semakin membosankan karena penentu kompetensi hanya uji kemampuan hafalan.

Para ahli pendidikan juga menganggap pelajaran ini hanya hafalan. Perington, dalam The Idea of an Historical Education (1980) menuliskan, sejarah sangat didominasi pengajaran hafalan. Karena fakta penting dalam peristiwa sejarah, jadi perlu dihafal. Jika guru tidak berinovasi, tentu pelajaran ini akan semakin tersisih.

Padahal, dengan sejarah bisa membangkitkan kebanggaan bangsa, dan meningkatkan pemikiran kritis peserta didik. Pelajaran ini bertujuan agar untuk membangun kesadaran tentang pentingnya waktu, tempat sebuah proses masa lampau, masa kini dan masa depan.

Sehingga sadar jika kita merupakan bagian bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai kehidupan baik nasional maupun Internasional (Widja, 1989:30).

Salah satu metode pembelajaran yang dapat dikembangkan guru sejarah adalah dengan teknik modifikasi mnemonik. Model untuk memperoleh informasi dengan cara mengingat kembali dan menghafalkan.

Mnemonik merupakan cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya ingat seseorang dalam memaknai suatu kata, gagasan atau ide melalui pengasosiasian pikiran sehingga informasi yang diperoleh dapat dengan mudah disimpan dalam memori jangka panjang.

Baca juga:   Museum Virtual untuk Belajar Sejarah di Masa Pandemi

Sebuah infografis dari Tirto.Id berjudul “Sejarah Semestinya tidak Membosankan” terdapat 7 teknik modifikasi mnemonik.

Yaitu pertama, cosplay atau reenactment, di mana prosesnya dilakukan secara role playing dengan atribut senyata mungkin (cosplay) agar peserta didik merasa terhubung dengan peristiwa masa lampau.

Kedua, membuat permainan detektif. Ketiga, melakukan pembelajaran di museum maupun situs sejarah terdekat. Keempat, menggunakan media visual berupa film dokumenter atau historiografi.

Kelima, memanfaatkan relevansi berita terkini. Keenam, menggunakan games virtual. Ketujuh, tinggalkan metode menghafal sekarang juga.

Dari tujuh teknik tersebut, penulis menekankan teknik pembelajaran di luar kelas dengan melakukan studi nyata di situs kesejarahan lokal dalam bentuk lawatan (bahasa Jawa – kunjungan). Potensi kesejarahan Tegal merupakan sarana menarik untuk dipergunakan sebagai objek studi.

Terdapat berbagai situs sejarah lokal yang berkaitan dengan asal-asal wilayah Tegal. Seperti Makam Ki Ageng Hanggawana, Makam Pangeran Purbaya, serta situs sejarah masa kolonial di Pabrik Gula Pangkah dan Djatibarang.

Lawatan yang dilakukan telah melahirkan beberapa bentuk produk karya ilmiah remaja. Salah satunya berjudul “Menghidupkan-Menghidupi Makam Purbaya”.

Di mana dari hasil studi lapangan didapatkan data yang menarik mengenai pengembangan situs-situs yang berhubungan dengan sejarah terbentuknya wilayah Tegal. Sekaligus bisa sebagai salah satu potensi wisata religi yang dapat dikembangkan masyarakat desa Kalisoka tempat situs tersebut berada.

Baca juga:   Teknologi Augmented Reality untuk Kelas Inspiratif

Lingkup lebih besar, Tegal memiliki primadona situs kesejarahan yaitu Situs Prasejarah Semedo di Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal. Situs ini memiliki potensi peninggalan sejarah purbakala terbesar dan mungkin tertua di Indonesia.

Sejak 2005, pemerintah Kabupaten Tegal mulai serius mengembangkan situs tersebut. Dengan koleksi purbakala yang diprediksi lebih tua daripada situs Sangiran.

Melalui lawatan sejarah, peserta didik diajak mengunjungi, melihat langsung sejarah masa lampau. Kebanggaan diwujudkan dalam bentuk karya tulis kesejarahan.

Selain didokumentasikan koleksi mata pelajaran sejarah di kelas, sekaligus diikutsertakan dalam ajang penulisan karya tulis antar sekolah yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Melalui proses ini, ternyata peserta didik sangat antusias dalam pembelajaran sejarah.

Proses pembelajaran sejarah melalui modifikasi mnemonik dengan lawatan dan karya tulis lokal mampu diaplikasikan dengan baik peserta didik. Memang diperlukan usaha ekstra dalam mendesain rencana pembelajaran ini.

Tapi pengaplikasian teknik ini diharapkan dapat memberikan efek signifikansinya dalam mewujudkan pembelajaran sejarah yang asik dan menarik. Guru dapat menjadikan desain ini sebagai prototipe pembelajaran di kelas. Yang sesuai dengan kompetensi dasar yang hendak dicapai dan relevansinya dengan konteks kesejarahan lokal. Selain itu bisa menghubungkan dalam konteks kekinian yang dipahami peserta didik. (bk1/fth)

Guru Sejarah SMA Negeri 2 Slawi

Author

Populer

Lainnya