Model Two Stay Two Stray Dapat Meningkatkan Hasil Belajar

Oleh : Murhantio ST M.Kom

spot_img

RADARSEMARANG.ID, STRATEGI pembelajaran yang sesuai, diharapkan dapat memotivasi siswa sehingga dapat meningkatkan keaktifan siswa. Salah satu strategi dalam pembelajaran adalah menerapkan pembelajaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif akan mendorong siswa untuk menemukan dan memahami konsep yang sulit dan dapat mendiskusikan masalah-masalah tersebut dengan teman sebayanya.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada mata pelajaran Simulasi dan Komunikasi Digital di SMK Negeri 1 Petarukan pada Kompetensi Dasar “Menerapkan logika dan operasi perhitungan data” kelas X TMI-3 diketahui bahwa 55 persen siswa nilainya di bawah standar ketuntasan belajar yang ditetapkan yaitu 70.

Salah satu permasalahan yang terlihat adalah kurangnya keaktifan siswa saat mengikuti pelajaran. Dalam hal ini, siswa hanya bertindak sebagai pendengar sehingga siswa menjadi pasif, guru masih menjadi pemeran utama dalam kegiatan pembelajaran. Konsep yang diberikan oleh guru pun kurang dipahami oleh siswa.

Untuk mengatasi permasalahan yang ada dengan menggunakan model TSTS (two stay two stray) dapat menciptakan kegiatan pembelajaran yang tidak membosankan. Sehingga dapat terjadi interaksi atau hubungan timbal balik yang baik antara guru dan siswa maupun siswa dengan siswa lainnya.

Proses pembelajaran pun lebih menyenangkan karena siswa menjadi aktif dan dapat melatih siswa untuk saling berinteraksi dan bekerjasama dengan teman sekelasnya.

Baca juga:   Belajar Descriptive Text Lebih Bermakna dengan Quizizz

Jadi siswa akan lebih mudah dalam menyerap materi pelajaran. Hal tersebut berdampak pada hasil belajarnya, sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditargetkan dapat tercapai. TSTS merupakan model pembelajaran kooperatif “Dua tinggal dua tamu”.

Struktur TSTS yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Dalam hal ini, guru dapat melibatkan siswa yang memiliki kemampuan lebih untuk membantu rekan-rekannya yang memiliki kemampuan kurang dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan dan memahami konsep.

Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain.

Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu sama lainnya. 1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya. 2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. 3) Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda. 4) Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu.

Baca juga:   Tingkatkan Hasil Belajar IPA dengan Strategi Index Card Match

Besaran peningkatan hasil belajar siswa dengan model TSTS hasil belajar kognitif siswa mengalami peningkatan, yaitu 86 persen pada siklus 1 menjadi 96 persen pada siklus II.

Ketuntasan hasil belajar siswa sudah mencapai KKM yang diterapkan dengan nilai rata-rata kelas meningkat dari siklus 1 yaitu dari 73,75 menjadi 82,5 dengan ketuntasan belajar klasikal mencapai 86 persen pada siklus 1 dan 96 persen pada siklus II.

Selain itu model struktural TSTS juga dapat meningkatkan afektif dan psikomotorik siswa yaitu mencapai 93 persen dan 91 persen. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural TSTS dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X TMI-3 SMK Negeri 1 Petarukan.

Penerapan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural TSTS sebagai alternatif pengajaran bagi guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Guru diharapkan mampu memotivasi siswa lebih aktif serta mampu menciptakan suasana kelas yang menyenangkan sehingga siswa merasa nyaman dan menjadi termotivasi untuk belajar. (rs1/ida)

Guru Simulasi dan Komunikasi Digital SMKN 1 Petarukan, Kabupaten Pemalang

Author

Populer

Lainnya