Menanamkan Sikap Mandiri Siswa

Oleh : Sri Walji Hasthanti, M.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran tatap muka terbatas sudah mulai diselenggarakan. Ada banyak cerita yang dirasa siswa selama lebih setahun belajar di rumah, baik dari orangtua maupun siswa yang bersangkutan. Kenyamanan belajar di rumah dengan banyak bantuan dari orang dewasa di sekitar siswa membuat mereka kurang mandiri.

Belum lagi ketidaksabaran orang dewasa ketika menemani atau membimbing siswa, membuat mereka tergerak ingin menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan siswa. Namun, di sisi lain orangtua sering mengeluh mengajari anak itu susah, anaknya tidak mandiri dan masih banyak keluhan lainnya.

Sebenarnya, apa itu mandiri? Mandiri adalah sikap atau kondisi mental seseorang untuk berperilaku bebas, benar bermanfaat, berbuat sesuai niat sendiri dan tidak membutuhkan pertolongan orang lain. Seseorang yang mandiri akan bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambilnya dan dapat menyelesaikan masalah tanpa bantuan orang lain. Lalu bagaimana dengan siswa sekolah dasar di kelas rendah? Dapatkah mereka menjadi pribadi yang mandiri?

Penanaman karakter kemandirian tidak lepas dari pembiasaan yang ditanamkan orangtua dan orang dewasa di sekitar siswa di rumah. Anak menjadi kurang mandiri jika selalu diladeni. Tidak diperkenankan mengerjakan sesuatu sendiri, takut nanti salah menjawab, nilainya jelek, dan masih banyak alasan lainnya. Sebenarnya karakter mandiri dapat ditanamkan sejak usia dini. Siswa sudah mulai diberi kepercayaan dan dibiasakan melakukan kegiatan ringan sendiri, misalnya, mengerjakan tugas ringan di rumah, menjaga kebersihan diri, menyelesaikan tugas sekolah di rumah.

Baca juga:   Asyiknya Belajar Iklan dengan Metode Think Pair Share

Sifat mandiri sangat penting untuk melatih siswa menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Meskipun siswa sudah mulai hadir pada pembelajaran tatap muka, akan tetapi proses pembelajaran belum sepenuhnya atau masih terbatas. Selebihnya masih ditambah penugasan belajar dan mengerjakan latihan soal di rumah. Inilah saat yang tepat melatih siswa untuk membiasakan mandiri. Orangtua dapat memberi dukungan dengan tidak memberi andil lebih banyak dalam mengerjakan tugas. Tugas orangtua adalah membimbing, mengarahkan dan atau menjelaskan tugas maupun materi jika siswa masih memerlukan bantuan penjelasan.

Kemandirian siswa juga diperlukan saat mengerjakan evaluasi atau tes yang diberikan secara daring. Untuk melatih kemandirian, sebelum mengerjakan evaluasi seharusnya siswa mempelajari dulu materi/mata pelajaran yang akan diteskan. Selain melatih kemandirian juga menanamkan kejujuran siswa. Mengerjakan evaluasi dalam keadaan sudah siap karena sudah belajar akan menambah rasa percaya diri siswa.

Waktu yang diperlukan untuk mengerjakan evaluasi pun menjadi lebih singkat. Berbeda dengan siswa yang saat mengerjakan evaluasi sambil membuka catatan, buku paket atau pun ringkasan. Ketika anak selesai mengerjakan dan sudah keluar nilainya, berilah dorongan dan pujian karena telah menyelesaikan dengan mandiri. Meskipun hasilnya tidak sesuai harapan orangtua, hargai kerja dan hasilnya tanpa menyalahkan apalagi menghukumnya.

Baca juga:   PJJ di Masa Pandemi COVID-19 Butuh Motivasi dan Variasi

Menanamkan kemandirian siswa diawali dengan melihat kebiasaan orang dewasa/orangtua di rumah. Siswa akan terbiasa meluangkan waktu untuk belajar, membaca, menata keperluan sekolah sendiri dan mengerjakan tugas jika di rumah mereka sering melihat orangtua mereka melakukan hal yang sama.

Membiasakan anak untuk mandiri menyiapkan buku peajaran, membereskan meja setelah belajar dan menyiapkan seragam sekolah, akan menjadi praktik baik dan berlanjut hingga dewasa. Keuntungan lainnya adalah anak akan menjadi pribadi yang disiplin, lebih menghargai waktu, jujur, dan tidak bergantung dengan orang lain. (pr1/lis)

Guru SD Muhammadiyah Plus Salatiga

Author

Populer

Lainnya