Mandiri dengan Bahan Ajar

Oleh: Sri Hartati Setyowati,S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Guru memiliki peran sebagai fasilitator dan motivator dalam rangka meningkatkan aktivitas belajar. Namun kenyataannya banyak kompetensi yang telah ditetapkan oleh guru tidak tercapai. Karena pelaksanaan pembelajaran yang kurang bermakna. Pembelajaran akan bermakna jika siswa memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya.

Menurut Trianto (2013) hal tersebut dapat diperoleh melalui pembelajaran tematik. Yaitu pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.

Kurikulum 2013 menekankan implementasi pembelajaran dengan pendekatan tematik untuk siswa SD. Dalam implementasinya ditemukan beberapa masalah di lapangan. Seperti masih ada guru yang menyampaikan materi secara tekstual, penggunaan buku guru atau buku siswa dengan runtut tanpa ada inovasi, isi materi buku kelas 1 terlalu berat. Antara lain penulisan huruf kapital belum dikenali siswa, kalimat terlalu panjang untuk ditulis dan dibaca siswa.

Hal itu juga dialami siswa SD Negeri 1 Karangnangka, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga. Latihan soal dalam buku siswa hanya sedikit dan kurang menggali kemampuan mereka. Serta masih terdapat penggunaan kata kerja operasional yang kurang sesuai dengan kompetensi yang diukur.

Permasalahan tersebut memerlukan pemecahan agar dapat meminimalisasi masalah yang muncul ke depan. Salah satunya dengan pengembangan bahan ajar tematik. Menurut Pannen (1995), bahan ajar adalah bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

Baca juga:   Pemanfaatan Google Docs dalam Collaborative Writing Teks Prosedural

Bahan ajar bersifat mandiri, menjelaskan tujuan instruksional yang akan dicapai, memotivasi dan mengantisipasi kesukaran siswa dengan menyediakan bimbingan belajar, memberi latihan yang cukup, menyediakan rangkuman, dan berorientasi kepada siswa secara individual.

Koesnandar (2008) mengklasifikasikan bahan ajar berdasarkan subjeknya menjadi dua jenis. Yaitu bahan ajar yang sengaja dirancang untuk belajar seperti buku, handouts, lembar kegiatan siswa (LKS) dan modul, serta bahan ajar yang tidak dirancang namun dapat dimanfaatkan untuk belajar. Misalnya kliping, koran, film, iklan atau berita.

Bahan ajar pemanfaatannya dapat berkelanjutan, penggunaanya mudah dan praktis. Tidak memerlukan fasilitas dan keahlian khusus dari sekolah hingga bisa digunakan siapa saja. Pembuatan bahan ajar oleh guru kelas 1 dapat dimulai dari studi pendahuluan, perencanaan produk yang menghasilkan draf awal yang divalidasikan oleh ahli. Saran dan masukan dari ahli (validator) digunakan untuk merevisi bahan ajar hingga bahan ajar dapat digunakan dalam pembelajaran.

Dengan bahan ajar, siswa dapat belajar tanpa harus ada guru atau teman siswa yang lain. Artinya, bahan ajar yang dirancang dan ditulis dengan urutan yang baik dan logis serta sejalan dengan jadwal pelajaran dalam satu semester misalnya, siswa dapat mempelajari secara mandiri di mana saja.

Baca juga:   Pengaruh Metode QSH, Pusatkan Perhatian Siswa dalam Belajar

Dengan demikian, siswa lebih siap mengikuti pelajaran karena telah mengetahui terlebih dahulu materi yang akan dibahas. Di samping itu, dengan mempelajari bahan ajar terlebih dahulu paling tidak siswa telah mengetahui konsep-konsep inti dari materi yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Dan ia dapat mengidentifikasi materi-materi yang masih belum jelas, untuk nanti ditanyakan kepada guru di kelas.

Guru hendaknya dapat membuat bahan ajar yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan siswa dan sekolah. Dalam kegiatan belajar hendaknya siswa dilibatkan secara menyeluruh, agar mereka mendapat pengalaman langsung dari kegiatan pembelajaran. Apabila kegiatan pembelajaran dikaitkan pada kehidupan dan keadaan dimana siswa berada seperti di lingkungan sekolah.

Siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak agar siswa dapat memahami hasil belajar sesuai fakta dan peristiwa yang dialami.

Supaya efektivitas bahan ajar yang dibuat oleh guru dapat diketahui, guru dapat melakukan uji lapangan. Ketika bahan ajar terbukti efektif dalam pembelajaran, maka diharapkan bahan ajar tersebut sudah layak digunakan. (*/lis)

Guru Kelas I SD Negeri 1 Karangnangka, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga

Author

Populer

Lainnya