Model Pembelajaran Blended Learning, Solusi Terbaik Menghadapi Era New Normal

Oleh : Elok Sri Tarbiyah, S.Pd.M.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Hampir 2 tahun sudah kita terbelenggu dalam suasana pandemi. Virus korona yang mewabah di seluruh dunia mengharuskan kita untuk tetap di rumah agar dapat memutus rantai penyebaran virus Covid-19.

Semua orang diinstruksikan untuk tidak keluar rumah bahkan beberapa slogan dimunculkan dengan tulisan # di rumah saja (stay at home) kecuali orang -orang yang bekerja di sektor esensial dan critical.

Termasuk dalam pendidikan, proses pembelajaran tatap muka 100 persen dilakukan secara on line atau daring karena dikhawatirkan terjadi penyebaran Covid-19 secara masif. Tak terkecuali SMP N 1 Srumbung berdasarkan instruksi dari Pemerintah Kabupaten Magelang peserta didik belajar secara on line dan kepada guru/karyawannya untuk secara bergilir 25 persen WFO (Work from Office) dan 75 persen WFH (Work from Home).

Pada awal semester gasal suasana sudah semakin mereda. Sekolah -sekolah sudah mulai dibuka meskipun masih dengan sebutan pembelajaran tatap muka terbatas. Disebut demikian karena segalanya masih serba terbatas. Baik jadwal pertemuannya, jumlah mata pelajarannya, maupun jumlah peserta didiknya. Pertemuan hanya dibatasi sekitar 2 jam (120 menit). Siswa hanya dibatasi maksimal 30 persen.

Sebelum dilakukan PTMT juga harus didahului dengan visitasi kelayakan dari puskesmas. Setelah mendapat rekomendasi dari puskesmas sekolah bisa mengajukan izin ke bupati selaku pimpinan pemerintah daerah. Setelah dapat surat izin dari bupati, sekolah boleh mengadakan PTMT tahap 1 dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Baca juga:   Praktik Studysaster melalui English Poem

Sebagai uji coba untuk melakukan pembelajaran tatap muka, SMPN 1 Srumbung ditunjuk sebagai sekolah pertama yang mengadakan PTMT tahap 1 di Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang.

Dengan berbagai pembatasan tersebut, tentu menjadi tantangan bagi guru dan siswa. Pertemuan hanya 2 jam tidak cukup untuk menuntaskan materi dan penugasan bahkan penilaian. Itulah sebabnya kita butuh pembelajaran yang bisa mengatasi suasana seperti ini.

Blended learning adalah salah satu solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan ini. Dalam Sevima.co.id dinyatakan model blended learning pada dasarnya merupakan gabungan keunggulan pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka dan secara virtual. Jadi blended learning ini kombinasi pengajaran langsung (face -to-face) dan pengajaran on line.

Dengan pembelajaran blended learning ini beberapa hal bisa dituntaskan karena adanya interaksi antara pengajar dan peserta didik dalam PTMTsehingga meskipun hanya dengan sedikit waktu guru dapat menjelaskan materi sehingga belajar anak dapat terarah.

Penugasan dan penilaian dapat dilakukan dengan online di Google Classroom atau media online yang line. Dengan demikian pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menyenangkan.

Baca juga:   Ungkapan Sehari-hari Berbahasa Inggris dengan CTL Efektif bagi Siswa di Masa Pandemi

Bahkan Anang Nazarudin (https: //bdkbanjarmasin kemenag.go.id) menyatakan bahwa dengan pelaksanaan blended learning pembelajaran menjadi lebih bermakna karena keragaman sumber belajar yang mungkin diperoleh.

Adapun syntax (langkah-langkah) model pembelajaran blended learning menurut smpbss.sch.id adalah pertama seeking of information. Pencarian informasi dari berbagai sumber yang tersedia baik secara on line maupun off line dengan peran guru sebagai pemberi masukan.

Kedua, acquisition of information. Peserta didik secara kooperatif-kolaboratif , secara online maupun offline berupaya menemukan, memahami serta mengkonfrontasi dengan pemahaman yang ada dalam pikiran peserta didik.

Ketiga, synthesizing of knowledge. Peserta didik secara on line maupun off line dapat mengkonstruksi pengetahuan dari hasil analisis, diskusi dan perumusan kesimpulan dari informasi yang diberikan.

Berdasarkan tiga langkah tersebut menjadikan blended learning sebagai pilihan yang cocok bagi guru di masa new normal. Dengan blended learning juga rantai penyebaran Covid-19 bisa diputus karena pertemuan antara pengajar dengan peserta didik masih dibatasi. (pm2/lis)

Guru Bahasa Inggris SMPN 1 Srumbung, Kabupaten Magelang

Author

Populer

Lainnya